
Tika yang kini berada di samping Gia, hanya bisa menatap sedih adiknya itu yang sedang tertidur setelah di beri obat penenang oleh dokter. Tika memilih untuk merawat Gia di rumah, agar Ia bisa menjaganya dengan lebih tenang. Entah apa yang harus Ia katakan pada Ibunya nanti, tentang kondisi Gia saat ini.
"Bintang,, Bintang,, jangan pergi.." ucap Giamengigau yang seringkali menyebut nama Bintang, orang yang sangat di rindukannya.
Melihat hal ini, Tika semakin merasa sedih dan bersalah. Ia tidak menyangka apa yang telah di lakukannya, membuat keadaan adiknya jadi seperti sekarang ini.
"Bintang,, jangan tinggalkan aku..!" seru Gia dalam mimpinya, hingga membuatnya terbangun dari tidur.
"Gia,, kamu sudah bangun, minum dulu yaa.." ucap Tika sambil membantu Gia untuk duduk dan memberinya air minum.
"Sekarang kamu makan yaa Gia, setelah itu minum obat. Biar kamu cepat sembuh.." ujar Tika sambil mengambil makanan yang telah Ia siapkan sebelumnya.
"Aku tidak lapar.." ucap Gia ketus.
"Jangan seperti ini Gia, makan yaa.. Sedikit saja, agar perut kamu tidak kosong.." bujuk Tika sambil menyuapi Gia, namun Gia menepisnya dengan kasar.
"Puas Kakak sekarang, sudah membuat Bintang pergi ninggalin aku..!!" bentak Gia yang kini menangis setelah mengatakan itu pada Tika.
"Kakak benar-benar minta maaf Gia, maafin Kakak yaa.." pinta Tika memohon.
__ADS_1
"Tinggalkan aku sendiri Kak..!" pinta Gia sambil menghapus air matanya yang terus saja ingin terjatuh.
"Kakak tidak akan membiarkan kamu sendirian.." sahut Tika yang merasa takut jika Gia berbuat nekat kembali.
"Kakak keluarlah, aku tidak akan berbuat yang macam-macam lagi.." ucap Gia berusaha meyakinkan Kakaknya.
Tapi Tika tetap tidak mau beranjak, Ia ingin menemani Gia yang kini sudah merebahkan tubuhnya dengan selang infus yang masih terpasang di pergelangan tangannya.
"Kamu dimana Bintang ? Aku kangen banget sama kamu.."
Gumam Gia dalam hati, sambil meneteskan air matanya mengingat Bintang yang telah pergi jauh.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Apa aku harus mengijinkan Gia menjalin hubungan dengan Bintang. Tapi itu tidak mungkin.."
Bathin Tika sambil menghela nafasnya dengan dalam, Ia saat ini merasa hati dan logikanya sedang berlawanan. Membuat kepalanya begitu pusing.
~**********~
Di sisi lain, Bintang yang telah berada di rumah Pamannya di kota T kini terlihat sedang asyik bercerita.
__ADS_1
"Besok kamu coba saja melamar di tempat yang tadi sudah Paman tunjukkan sama kamu Bin, mudah-mudahan kamu di terima di sana.." ucap Paman sambil menghisap rokok di tangannya.
"Aamiin, semoga saja yaa Paman, nanti Bintang juga sambil menaruh lamaran pekerjaan di tempat yang lain.."
Sahut Bintang yang merasa tidak nyaman dengan bau asap rokok yang di hisap oleh Pamannya.
"Kamu kenapa Bin, kok wajahnya aneh begitu ?" tanya Paman yang memperhatikan raut wajah Bintang.
"Tidak kenapa-kenapa Paman, cuma pusing aja. Mungkin karena mabuk perjalanan kemarin belum hilang.." jelas Bintang sambil memijit kepalanya.
"Yaa sudah kamu istirahat dulu di kamar, nanti kalau lapar makan yaa.. Itu tadi Paman sudah membeli makanan, ada di atas meja makan.." ucap Paman yang masih menghisap rokoknya.
"Iyaa Paman, Bintang masuk ke kamar dulu istirahat.." ujar Bintang seraya meninggalkan Pamannya.
Di dalam kamar yang telah di siapkan oleh Paman untuknya, kini Bintang merebahkan tubuhnya sambil memikirkan Gia yang telah Ia tinggalkan. Ada rasa sedih yang begitu besar dalam hatinya, saat mengingat kembali hubungannya dengan Gia yang terpaksa harus kandas. Karena desakan dari Kak Tika, yang menginginkan mereka untuk berpisah.
Bersambung...
🙏😊 A59
__ADS_1