
Sejak kejadian itu, kini Bintang menjadi lebih pendiam dan murung. Ia sering melamun dan menyendiri, Anya dan teman-teman yang lain selalu berusaha untuk menghiburnya. Tapi Bintang tetap saja seperti itu, hingga tiga bulan pun berlalu.
"Gimana keadaan Bintang, Anya..?" tanya Sarah yang telah sampai di kost-an.
"Bintang masih seperti itu, Sarah.." balas Anya.
"Terus sekarang dia kemana, kok dari tadi gak ada kelihatan..?" tanya Sarah seraya melihat ke sekeliling, tapi tidak melihat Bintang.
"Dari tadi Bintang pergi, biasanya dia duduk di taman sampai berjam-jam sambil ngasih makanan ke kucing-kucing yang ada di sana. Nanti juga pulang, tunggu aja.." sahut Anya.
"Tapi aku gak bisa lama-lama Nya, kasian Sandra sendirian di rumah.." balas Sarah.
"Kenapa gak sekalian ikut aja tadi..?" tanya Anya.
"Tadi aku keluar cuma beli makanan aja, terus sekalian mampir ke sini karena pengen tau keadaan Bintang. Aku pamit pulang yaa, Sandra pasti udah nungguin. Ini ada cemilan dan buah-buahan, buat kamu sama Bintang.." ucap Sarah sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi banyak cemilan dan buah-buahan.
"Iyaa Sarah, terimakasih yaa.. Nanti aku bilang ke Bintang, kalau kamu datang.." seru Anya yang mengantarkan Sarah hingga ke teras depan.
"Sama-sama Nya, aku pulang yaa.. Wassalamu'alaikum.." ucap Sarah sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Sarah jangan ngebut.." seru Anya pada Sarah yang kini telah semakin jauh.
"Kenapa Bintang belum pulang juga yaa, padahal udah lama dia pergi.."
Gumam Anya dalam hati yang merasa cemas memikirkan Bintang, sambil melihat ke arah jalanan. Ia pun segera masuk ke dalam kost-an, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Bintang.
"Gak di angkat juga, kemana tuh anak. Buat cemas aja, yaa udah kalau gitu aku cari ke taman aja deh.." ucap Anya sambil mengambil djaket dan kunci motornya.
Baru saja berjalan sampai ke pintu, Anya lalu di kejutkan oleh kedatangan Bintang yang tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu.
"Yaa ampun Bin..! Kamu sengaja yaa ngagetin aku,mmmh.. Bersuara kek, biar aku tau kalau kamu udah pulang.." seru Anya yang merasa kesal.
"Gimana aku mau bersuara, orang kamu udah bersuara duluan. Lagian ngapain kamu berdiri di depan pintu.." sahut Bintang seraya masuk ke dalam dan menuju ke kamar mandi.
"Ngomong apa kamu barusan, Nya..?" tanya Bintang yang langsung keluar dari kamar mandi.
"Aku takut kamu bunuh diri, Bin.." ucap Anya sambil tertawa.
"Dasar yaa, sembarangan aja kalau ngomong.." balas Bintang sambil menarik kuping Anya.
__ADS_1
"Auww,, sakit tau Bin.." rengek Anya seraya memegangi telinganya yang terasa perih karena di tarik oleh Bintang.
"Siapa suruh ngomong sembarangan,mmmh.." gerutu Bintang. Sambil mengambil buah yang ada di dalam kantong plastik.
"Aku kan cuma takut lho Bin, kan banyak tuh orang yang putus cinta terus bunuh diri gitu.." ujar Anya.
"Yaa gak sampai gitu juga Nya, kamu ini mikirnya aneh-aneh aja. Ohh yaa, tumben kamu beli cemilan dan buah-buahan segini banyaknya..?" tanya Bintang seraya memakan buah salak kesukaannya.
"Itu tadi Sarah yang bawain, dia mampir ke sini karena pengen tau keadaan kamu. Tapi kamu gak ada, yaa udah dia langsung pulang ke rumah.." jelas Anya yang kini juga ikut memakan buah-buahan.
"Ohh gitu, ayo duduk di luar Nya, sekalian ngopi kita.." ajak Bintang.
"Kamu ini hampir tiap malam duduk di luar aja, nanti masuk angin lho. Kalau mau melamun, melamun aja sendiri. Habis ini aku mau telepon Nindy,hehee.." ucap Anya pada Bintang yang sedang membuat kopi hitam.
Sejak putus dari Della, Bintang jadi sering kali sulit tidur. Ia sering begadang dan kurang tidur, hatinya masih merasa sedih dan kecewa mengingat semua yang terjadi antara dirinya dan Della.
"Kamu melamun lagi, Bin..? Jangan lama-lama di luar yaa.." ujar Anya pada Bintang yang hanya menganggukkan kepalanya.
Anya pun masuk ke dalam dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil teleponan dengan Nindy. Ia menceritakan tentang Bintang yang masih saja seperti itu...
__ADS_1
Bersambung...
🙏😊 A59