
Bintang berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh, karena sekarang Ia sudah berada di rumah. Sambil menunggu kepulangan Sany, dengan di temani oleh Ayu yang tidak ingin meninggalkan Bintang dalam keadaan bersedih.
"Mbak, nanti tolong bantuin aku yaa, biar Sany bisa lebih yakin.." seru Bintang.
"Iyaa Bin, nanti pasti aku bantuin sesuai dengan rencana kamu.." ujar Ayu sambil menemani Resha bermain.
"Terimakasih yaa, Mbak.." balas Bintang sambil memeluk Ayu.
"Sama-sama, Bin.. Kamu istirahat dulu yaa, jangan nangis terus.." bujuk Ayu pada Bintang.
"Iyaa Mbak, aku gak papa kok.." sahut Bintang sambil tersenyum, namun hatinya menangis merasakan sakit.
Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki dan pintu yang di buka dari luar.
"Kamu udah pulang, San.." ucap Ayu pada Sany dengan penampilannya yang agak berantakan.
"Ngapain kamu di sini..?! Bintang kemana..?" tanya Sany dengan kesal.
"Bintang ada, dia lagi istirahat di kamar.." balas Ayu.
"Mamaa,, ayo main sama Resha, kan Mamaa udah lama gak temenin aku main.." seru Resha yang menghampiri Sany.
"Resha main sama Tante Ayu aja yaa, Mamaa capek.." sahut Sany sambil berjalan mencari keberadaan Bintang yang tengah berbaring di kamar.
"Kamu kenapa sayang, sakit..?" tanya Sany yang kini duduk di samping Bintang.
"Gak sayang, cuma rasanya agak pusing aja habis ngajak main Resha di taman.." ujar Bintang seraya tersenyum dan menahan amarah dalam hatinya.
"Ohh gitu, yaa udah aku mau ke kamar mandi dulu.." seru Sany sambil bangkit dari tempat tidur.
Bintang hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, sambil melihat Sany yang telah masuk ke dalam kamar mandi. Air mata Bintang kembali menetes, dengan segera Ia mengusapnya karena tak ingin Sany sampai tau.
"Bin,, Bintang..!" teriak Sany dari dalam kamar mandi.
"Iyaa, kenapa sayang..?" tanya Bintang yang masih berusaha untuk bersikap biasa saja.
__ADS_1
"Ambilkan aku pembalut, aku dapet. Buruan.." seru Sany.
"Iyaa, sebentar.." balas Bintang sambil mengambil pembalut yang Ia simpan di lemari kecil, lalu segera memberikannya pada Sany.
"Ini sayang.." ucap Bintang pada Sany yang hanya diam saja.
"Si..!! Kenapa bisa sampai pendarahan..!" maki Sany lirih.
Bintang yang terlihat bingung, kini menghampiri Ayu yang sedang menidurkan Resha.
"Kamu kenapa Bin, kok melamun..?" tanya Ayu yang melihat Bintang hanya terdiam, seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Itu Mbak, Sany tadi minta pembalut. Padahal belum lama ini, dia baru datang bulan.." seru Bintang.
"Ohh,, mungkin itu karena... Yaa kamu pasti bisa mengertilah, Bin.." ujar Ayu.
"Maksud Mbak, karena itu...." ucap Bintang yang mencoba menebak dalam pikirannya sendiri.
"Iyaa benar, Bin.." ucap Ayu sambil menatap wajah Bintang yang terlihat suram.
"Kamu yang sabar yaa, Bin..!" seru Ayu yang bisa mengerti dengan perasaan Bintang, namun Ia juga tidak bisa berbuat banyak.
Bintang kembali ingin menangis, lagi-lagi Ia mengetahui sesuatu yang membuat hatinya semakin sakit dan kecewa. Namun, Ia berusaha untuk menahan air matanya, karena Ia akan menggunakan dalam rencananya nanti.
"Kita mulai sekarang yaa Mbak, Resha juga udah tidur kan.." ucap Bintang menatap Ayu.
"Iyaa, Bin.." balas Ayu sambil menganggukkan kepalanya.
Bintang segera mengambil ponselnya, dan menghubungi Kak Tya.
Sambil meletakkan ponsel di telinganya, Bintang pun mulai menangis. Seperti yang Ia harapkan, kini Sany telah ada di hadapannya karena mendengar suara tangisannya.
"Kamu kenapa sayang, kok nangis..? Terus itu teleponan sama siapa..?!" tanya Sany penasaran.
"Ini Kak Tya, Kakak ngabarin kalau Ibu sakit dan sekarang ada di rumah sakit. Hiks,,, hikss..." jawab Bintang dengan menangis terisak-isak.
__ADS_1
"Maafin Bintang yaa, Bu.. Harus bawa-bawa Ibu dalam masalah ini,mmmh.." gumam Bintang dalam hati.
"Memang Ibu sakit apa..?" tanya Sany lagi.
"Sakit apanya belum tau pasti, karena hasil pemeriksaannya masih belum keluar. Tapi Kakak dan Ayah meminta aku untuk segera pulang. Hikss,, hikss..."
Bintang memanfaatkan kesempatan ini untuk menangis sepuasnya, meski Sany tidak tau alasan sebenarnya kenapa Ia menangis.
"Sayang yang sabar yaa..!" ucap Sany mencoba menenangkan Bintang, sambil memeluknya.
"Iyaa Bin, kamu sabar yaa.. Lebih baik secepatnya kamu pulang, untuk melihat keadaan Ibu.."
Seru Ayu yang menimpali, Ia juga bingung. Harus merasa sedih atau tertawa senang, karena melihat Bintang yang sedang bersandiwara dengan bagusnya di depan Sany.
"Aku mau pesan tiket pesawat dulu yaa sayang.." ucap Bintang sambil melepaskan diri dari pelukan Sany, pelukan yang kini tak lagi Ia inginkan.
"Iyaa sayang, aku juga mau istirahat.." balas Sany sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar.
Bintang dan Ayu pun kini saling bertatapan, dengan senyuman mereka yang hanya mereka yang tau artinya.
"Bin.." panggil Ayu lirih.
"Iyaa Mbak.." jawab Bintang dengan berbisik.
"Kamu...." ucap Ayu sambil mengacungkan jempolnya.
Bintang yang bisa mengerti maksud dari Ayu, hanya bisa tersenyum.
"Terimakasih yaa, Mbak.." bisik Bintang pada Ayu yang di balas anggukan kepala olehnya.
"Semoga semua lancar dan di mudahkan.." do'a Bintang dalam hati, sambil mengusap wajahnya dengan kasar..
Bersambung...
🙏😊 A59
__ADS_1