
Seperti yang sebelumnya sudah di katakan Bintang pada Lisa, tentang sesuatu yang ingin di sampaikannya. Kini mereka berdua pun terlihat sedang duduk di sebuah kursi tepat di belakang sekolah.
"Ini Lis.." sambil menyerahkan sebuah kertas putih pada Lisa.
"Apa ini Bin.." tanya Lisa dengan wajah penasarannya.
"Nanti juga kamu tau, aku pergi dulu yaa.." Bintang bergegas pergi meninggalkan Lisa yang hanya terdiam. Tanpa berpikir lama, Lisa pun mulai membuka lipatan kertas putih itu dan membacanya.
I Love You..!!
Hanya tiga kata itu yang tertulis di kertas, membuat Lisa mulai berpikir keras maksud dari kalimat tersebut.
"Kenapa Bintang menulis kalimat itu untukku, terus aku harus jawab apa yaa.." gumam Lisa yang terlihat bingung.
Sedangkan di dalam kelas, Bintang merasa cemas dengan apa yang baru saja ia lakukan.
"Gimana mungkin aku bisa menulis surat itu untuk Lisa, apa yang akan dia pikirkan nanti. Dia kan bukan seperti ku.." ucap Bintang dalam hati, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
~**********~
Bel pulang sekolah yang di tunggu pun berbunyi, tanpa menunggu lama Bintang pun segera berjalan menuju pintu kelas tanpa peduli dengan Hira dan Lisa yang menatap dan memanggilnya.
"Hei, kau ini punya telinga gak sih, di panggil dari tadi gak nyahut juga.." sambil berlari kecil mengejar Bintang yang masih saja diam, membuat Hira semakin kesal.
"Bin, ini.." Lisa mengulurkan tangannya memberikan sebuah kertas pada Bintang, lalu segera pergi dari hadapannya sebelum Bintang sempat berkata apapun.
"Apa itu Bin.." tanya Hira penasaran.
"Oh ya ini rumus matematika yang aku minta ke Lisa.." ujar Bintang yang segera memasukkan kertas pemberian Lisa ke dalam tasnya.
"Yaa karena ada soal yang sulit untuk aku selesaikan, makanya aku minta Lisa membantuku." seru Bintang sambil menarik nafasnya dengan berat, karena lagi-lagi harus berbohong pada Hira.
"Ayo buruan jalan, kamu tanya-tanya terus dari tadi." ucap Bintang yang mempercepat langkahnya, karena tak ingin di tanya-tanya lagi oleh Hira.
"Tapi aku masih mau tanya Bin, terus kenapa muka kamu dan Lisa tadi merah seperti terbakar yaa.. Apa wajah kalian sakit atau salah pakai bedak ?." sambil berpikir dan menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
"Ish,,anak ini kenapa dia sampai memperhatikan sedetail itu, bahkan aku sendiri gak tau kalau tadi wajahku memerah.." batin Bintang
"Kenapa kau diam saja Bin, ayo jawab.." seru Hira kesal, karena tak mendapat jawaban dari Bintang yang kini terlihat semakin jauh di depan. Membuatnya harus berlari mengejar.
"Kau ini cerewet sekali raa.." jawab Bintang ketus, ia tak sabar ingin segera sampai di rumah dan membaca isi balasan surat dari Lisa.
"Ya sudah kalau tidak mau jawab, aku marah aja." ancam Hira yang sebenarnya hanya bercanda.
"Memang kamu bisa marah raa, bukannya kamu bisanya nangis.." ejek Bintang yang langsung menerima sebuah cubitan dari Hira.
"Aww,, sakit tau.. padahal kan yang aku bilang itu memang benar.." untuk ke dua kalinya Hira memberikan cubitan, tapi kali ini lebih kuat lagi.
"Awww,, ampun raa ampun yaa.." rengek Bintang.
"Gimana, enak kan. Atau mau tambah lagi, sini sini.." sambil menyiapkan jarinya untuk kembali mencubit, tapi Bintang tak mau kalah. Ia segera menjauh dan berlari.
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊