
Saat perjalanan menuju pulang, Bintang mengajak Ika untuk pergi ke sebuah salon. Ia ingin memotong rambutnya, karena kebetulan rambutnya telah agak panjang. Tak menunggu waktu lama, Bintang pun telah selesai.
"Gimana Kak, bagus gak..?" tanya Bintang sambil tersenyum.
"Bagus kok, kamu semakin manis.." sahut Ika sambil membalas senyuman Bintang.
"Kak Ika bisa aja,hee.." balas Bintang sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Iyaa benar lho, sekarang kamu lebih manis lagi. Potongan rambutnya pas banget di wajah kamu.." jelas Ika pada Bintang, dan mereka kini melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Sesampainya di kost-an, Bintang segera menuju ke kamar mandi. Selesai mandi, lalu Ia pun bersiap-siap untuk pergi keluar, ada sesuatu yang harus di belinya yaitu tiket pesawat.
"Ada yang bisa saya bantu, Kak..?" tanya seorang pria muda pada Bintang saat itu.
"Saya ingin membeli tiket pesawat Mas, untuk tujuan ke kota J.." ucap Bintang sambil tersenyum.
"Untuk kapan yaa, Kak..?" tanya pria muda itu yang ternyata bernama Deni, terlihat dari tulisan nama pada seragam kerja yang Ia kenakan.
"Untuk lusa Mas, saya mau jam keberangkatannya siang aja.." seru Bintang.
"Baik Kak, sebentar yaa.." balas Deni sambil sibuk dengan komputernya.
__ADS_1
Selesai membeli tiket pesawat, Bintang tidak langsung pulang. Ia memilih untuk duduk di sebuah taman, yang berada tidak jauh dari kost-an. Bintang mengingat kembali, semua yang terjadi beberapa bulan ini. Ia tidak menyangka, bahwa keputusannya untuk datang ke kota M justru semakin memperburuk suasana hati dan pikirannya.
Seketika itu, Bintang teringat oleh pesan Ayah padanya. Agar jangan mudah percaya pada orang lain, siapapun itu. Tapi Bintang sulit untuk melakukan itu, terlebih pada orang yang Ia sayangi. Ia akan selalu percaya, dan berusaha untuk berprasangka baik.
"Aku harus segera pulang, sebelum Nadya pulang lebih dulu.." gumam Bintang, sambil berjalan dan mempercepat langkah kakinya.
Saat tiba di depan kost-an, Bintang merasa lega karena Nadya masih belum pulang. Hal ini karena Bintang tidak melihat motor Nadya di tempat parkiran, lalu Bintang bergegas menaiki tangga.
"Aku harus menyembunyikan tiket pesawat ini, jangan sampai Nadya melihatnya.." ucap Bintang sambil mencari tempat yang aman.
~***********~
Setelah hampir dua jam berlalu, Nadya pun segera masuk ke dalam kost-an. Meletakkan tas dan djaket nya, lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Kok tumben, lama pulangnya..?" tanya Bintang sambil menonton televisi.
"Iyaa, tadi banyak kerjaan.." sahut Nadya yang kini asyik dengan ponselnya, seraya tersenyum dan tertawa kecil.
Bintang yang sudah tau kenapa Nadya bertingkah seperti itu, hanya bisa menarik nafasnya dengan berat.
"Ohh yaa Nad, aku mau balik ke kota B. Gak apa-apa kan..?" tanya Bintang dengan sengaja, karena Ia ingin tau bagaimana respon dari Nadya.
__ADS_1
"Gak boleh, kamu gak boleh pergi kemana-mana..!" sahut Nadya menatap tajam ke arah Bintang.
"Kenapa gak boleh..? Bukannya kamu udah punya Winda, jadi buat apa aku di sini,mmmh.." seru Bintang yang merasa kesal, karena Nadya masih saja bersikap egois.
"Pokoknya gak boleh yaa gak boleh..!" ucap Nadya dengan nada tinggi.
"Tapi aku gak bisa terus-terusan di sini Nad, kita udah putus. Kamu sendiri yang udah mutusin aku dan lebih milih Winda, kamu pikir gimana perasaan aku selama ini. Sakit banget tau.!" seru Bintang yang tidak bisa lagi menahan rasa kecewanya.
"Kamu tau jelas gimana dulu aku sama Fida, kamu sendiri yang minta aku untuk datang ke sini. Tapi apa sekarang, kamu nyakitin aku juga.." ucap Bintang sambil menahan air matanya.
"Kamu lebih milih Winda, orang yang berada jauh di luar kota sana. Sedangkan aku yang ada di depan mata kamu, tapi kamu putusin dan kecewain. Kamu jahat yaa, lebih jahat dari Fida tau..!" seru Bintang sambil melayangkan tinjunya pada dinding.
Braakkk....
Air mata yang sejak tadi Bintang tahan, kini terjatuh juga. Ia menangis tanpa suara, tapi air matanya terus saja mengalir dan sulit untuk berhenti. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, lalu Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Bintang semakin yakin, bahwa keputusannya untuk pergi dari kota M adalah keputusan yang benar. Ia tidak sanggup lagi terus berada di dekat Nadya, yang membuatnya merasakan semakin sakit dan kecewa.
Bersambung...
🙏😊 A59
__ADS_1