
Selesai makan malam, Bintang dan kedua orang tuanya duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Dengan cemilan yang menemani mereka, sambil sesekali bercerita dan tertawa. Namun begitu, Bintang masih tetap memperhatikan ponsel yang Ia letakkan di sampingnya.
"Nunggu telepon dari siapa sih, Bin..? Dari tadi lihatin handphone aja.." seru Ibu yang langsung membuat Bintang malu dan salah tingkah.
"Gak bunga siapa-siapa kok Bu, cuma di periksa aja takutnya ada yang ngubungin atau kirim pesan,hee.." balas Bintang sambil tersenyum.
"Ohh, kirain nungguin telepon dari Sarah.." ledek Ibu yang sengaja berkata seperti itu.
"Ibu apa sih, jangan sebut nama Sarah terus. Nanti dia di sana keselek lho, Bu.." sahut Bintang yang sontak membuat semuanya tertawa terkekeh-kekeh.
"Kamu ini Bin, ada-ada aja. Tapi benar juga sih yaa.." ujar Ibu yang mengiyakan perkataan Bintang yang menurutnya aneh.
"Memang Sarah siapa, Bu..? Teman Bintang..?" tanya Ayah yang sebelumnya tidak pernah mendengar dan tau nama itu.
"Iyaa teman Bintang, tapi lebih tepatnya,mmm.. Siapa Bin..?" tanya Ibu yang sengaja ingin membuat Bintang semakin malu.
"Iyaa teman Bintang kok, Yah.." seru Bintang sambil menatap tajam pada Ibunya.
"Ohh teman, Ayah pikir pacar.." seru Ayah sambil menatap Ibu, dan keduanya pun kini tertawa melihat ekspresi wajah Bintang yang memerah menahan rasa malu.
"Ibu dan Ayah ini, sengaja banget yaa mau ngerjain Bintang,mmmh.. Yaa udah, Bintang mau masuk ke kamar dulu.." ucap Bintang seraya berjalan menuju kamarnya.
"Jangan sampai larut malam pacarannya yaa, Bintang.." ucap Ibu pada Bintang yang hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Apa menurut Ayah, kita salah..? Karena telah membiarkan dan tidak melarang Bintang untuk tidak menjalin hubungan dengan perempuan..?" tanya Ibu pada Ayah tiba-tiba, dengan raut wajahnya yang serius.
"Entahlah Bu, Ayah juga tidak tau pasti. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuknya, Bintang sudah cukup dewasa. Dia tau mana yang terbaik untuk hidupnya, kita harus percaya sama Bintang, Bu.." ujar Ayah.
"Ibu tau dan bisa mengerti, tapi Ibu tetap merasa khawatir memikirkan Bintang, Ayah. Selama ini kita terlalu menjaganya, meskipun dia sangat keras kepala.." ucap Ibu seraya menghela nafasnya.
"Karena sejak Ibu tau, bahwa Bintang tidak seperti anak perempuan pada umumnya. Ibu semakin merasa cemas dan takut, bagaimana hidup Bintang kalau kita berdua sudah tidak ada, Ayah.." ujar Ibu yang kini terlihat sedih, memikirkan putri kesayangannya itu.
"Ayah tau dan bisa mengerti kekhawatiran Ibu, tapi kita juga tidak bisa memaksakan Bintang untuk berubah atau melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya. Ibu tau jelas bukan, kalau sejak kecil Bintang itu paling tidak suka di paksa karena dia pasti akan memberontak nantinya.." jelas Ayah.
"Memang benar apa yang Ayah katakan itu, putri kita yang satu itu dari dulu memang tidak suka di manja, di paksa dan tidak suka meminta apa-apa. Tapi kalau sudah menyukai dan menginginkan sesuatu, itu pasti harus dan sulit untuk di tawar.." ucap Ibu sambil menatap wajah Ayah.
__ADS_1
"Dia sama seperti kamu, sangat keras kepala.." ucap Ibu lagi yang tersenyum.
"Yaa pasti sama dong Bu, karena aku adalah Ayahnya.." sahut Ayah seraya mengecup kening Ibu dengan lembut.
"Sekarang kita tidur yaa Bu, Ayah sudah mengantuk.." ujar Ayah.
"Iyaa Ayah, Ibu juga.."
Keduanya kini segera masuk ke dalam kamar, suasana pun hening. Berbeda dengan Bintang yang masih asyik teleponan dengan Sarah, mereka saling bercerita tentang apa yang hari ini terjadi pada mereka.
~*************~
Keesokan paginya, Ayah dan Ibu terlihat duduk di ruang tengah. Bintang yang sudah bangun tidur sejak tadi, segera keluar kamar dan mencari Ibunya.
"Ayah masih di rumah, gak ke kebun yaa Ayah..? tanya Bintang sembari duduk di sebelah Ayahnya.
"Tidak Bin, hari ini Ayah mau ke rumah teman Ayah di desa sebelah. Karena ada acara di rumahnya, dan membutuhkan bantuan Ayah.." jelas Ayah seraya tersenyum dan mengelus rambut Bintang.
"Ohh, tapi Ayah gak sampai nginep di sana kan..?" tanya Bintang.
"Bintang ingat pesan Ayah yaa, jangan lupa.." seru Ayah.
"Memang pesan yang mana, Ayah..? Kan banyak tuh.." sahut Bintang.
"Semuanya Bin, harus kamu ingat yaa.." ujar Ayah sambil bersiap-siap untuk pergi.
"Siap Ayah, Bintang akan selalu ingat semua pesan Ayah.." balas Bintang.
"Memang Ayah pesan apa Bin sama kamu..?" tanya Ibu penasaran.
"Ada deh Bu,hehee.." sahut Bintang yang tersenyum.
"Ayah pergi dulu yaa Bu, Bintang.. Baik-baik di rumah, nanti Ayah pulang kok.." pamit Ayah sambil berjalan menuju pintu keluar.
"Iyaa Ayah, hati-hati di jalan.." ucap Ibu.
__ADS_1
"Kalau nyebrang jalan lihat kiri dan kanan yaa Ayah,hehee.." seru Bintang sambil melambaikan tangannya.
Ayah pun hanya tersenyum mendengar ucapan Bintang barusan, entah mengapa hatinya terasa berat untuk pergi dan meninggalkan istri dan putrinya itu. Ada rasa sedih yang tiba-tiba saja Ia rasakan, namun Ia berusaha untuk menepisnya.
~***********~
"Ibu kenapa dari tadi mondar-mandir aja..?" tanya Bintang yang sejak tadi melihat Ibu berjalan bolak-balik, sambil melihat ke arah pintu depan.
"Ayah kamu belum pulang juga Bin, padahal sudah jam segini. Perasaan Ibu juga tidak enak, Ibu takut terjadi sesuatu dengan Ayah. Karena dari tadi, Ibu coba hubungi nomor Ayah tapi tidak di jawab juga.." ujar Ibu dengan raut wajah yang cemas.
"Mungkin sebentar lagi Ayah pulang, Ibu yang tenang dan jangan berpikir yang bukan-bukan yaa.." ucap Bintang yang berusaha menenangkan hati Ibunya.
Tak lama kemudian, terdengar suara ponsel Ibu yang berada di atas meja. Ibu pun segera mengambilnya, terlihat ada panggilan masuk dan Ibu langsung menjawabnya. Namun beberapa saat setelah menerima panggilan telepon itu, Ibu pun langsung terjatuh. Bintang yang terkejut, segera mendekati Ibunya.
"Ibu kenapa, Ibu baik-baik ajakan..?!" seru Bintang sambil memastikan bahwa Ibunya baik-baik saja.
"Ayah kamu, Bin.. Hikss,, hikkss,, hiikks.."
Tangisan Ibu pun pecah seketika itu juga, seolah tidak percaya dengan apa yang barusan Ia dengar dari si penelepon tentang apa yang terjadi pada suaminya.
"Ada apa dengan Ayah, Bu..?" tanya Bintang yang kini merasa cemas melihat Ibu yang menangis tersedu-sedu.
"Ayah kamu kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit.." ucap Ibu lirih.
"Gak Bu, gak mungkin. Ibu pasti bohong kan, Ayah baik-baik ajakan, Bu..?!" seru Bintang yang tidak ingin percaya dengan apa yang di katakan oleh Ibunya.
Bintang yang kini menangis histeris langsung di peluk oleh Ibunya, itu seperti mimpi buruk yang tidak nyata baginya.
"Aku mau ketemu Ayah, Bu.." seru Bintang yang memeluk erat tubuh Ibunya.
"Iyaa Nak, kita ke rumah sakit sekarang yaa.." ujar Ibu.
Setelah memberitahu Tya tentang kecelakaan yang menimpa Ayahnya, mereka pun kini bergegas pergi menuju rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, mereka tak hentinya menangis dan berharap bahwa Ayah masih dalam keadaan baik-baik saja.
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊 A59