Rahasia Hati Seorang Lesbi

Rahasia Hati Seorang Lesbi
Kabur Lagi


__ADS_3

Ini akan menjadi malam terakhir bagi Bintang berada di kota M, Ia ingin untuk terakhir kalinya pergi ke pantai. Menikmati pemandangan pantai di malam hari, tempat dimana Nadya pertama kali mengajaknya pergi.


Lalu Ia pun segera menghubungi Deni, pria yang menjual tiket pesawat padanya itu. Kini mereka telah menjadi teman, hal ini di karenakan pria brondong itu diam-diam menaruh hati Bintang. Tak lama kemudian, Deni pun telah sampai dengan menaik motornya.


"Ayo kita pergi sekarang.." seru Bintang yang sudah menunggu sejak tadi.


"Ayo, pegangan yang erat yaa.." ucap Deni sambil tersenyum.


"Sebelum ke pantai, kita jalan ke Mall dulu yaa.." ujar Deni.


"Mau ngapain ke Mall..?" tanya Bintang.


"Yaa jalan-jalan, terus cari makan.." sahut Deni.


"Iyaa, tapi jangan lama-lama.." balas Bintang.


Setibanya di Mall, Bintang dan Deni menuju ke sebuah cafe lalu memesan makanan serta minuman.


"Ayo buruan makannya, nanti keburu malam sampai ke pantai.." seru Bintang pada Deni yang masih juga belum selesai makan.


"Iyaa sabar, sebentar lagi selesai kok.." sahut Deni.


"Udah selesai kan..? Yaa udah ayo kita pergi.." ujar Bintang.


"Ehh,, tunggu jangan pergi dulu.." ucap Deni sambil menarik tangan Bintang.


"Mau ngapain lagi sih..?" tanya Bintang yang mulai kesal.


"Kita foto-foto dulu, besok kan kamu mau pergi,mmmh.." sahut Deni sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.


Bintang pun menurutinya, dan setelah selesai berfoto keduanya segera pergi menuju pantai yang terkenal di kota M. Satu jam lebih kemudian, mereka telah tiba di pantai. Deni segera memarkirkan motornya, sedangkan Bintang berjalan menuju pinggir pantai lalu duduk di sebuah kursi yang telah tersedia.

__ADS_1


"Kok gak nungguin aku sih.." gerutu Deni pada Bintang yang telah lebih dulu tiba di tempat yang saat ini mereka duduki.


"Habis kamu lama.." sahut Bintang yang menatap jauh ke arah pantai.


"Kamu yakin mau balik ke kota B..?" tanya Deni.


"Yakin Den, aku udah gak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di sini.." jawab Bintang dengan raut wajah yang sedih.


"Tapi kan masih ada aku, Bin.. Jangan pergi yaa, nanti uang tiketnya biar aku ganti. Yang penting kamu tetap di sini yaa, Bintang.." pinta Deni yang memohon.


"Bisa gak sih kamu panggil aku Kakak..? Aku ini lebih tua lho dari kamu.." seru Bintang yang merasa kesal karena menurut Bintang, Deni tidak sopan.


"Cinta kan gak mengenal usia,hee.." sahut Deni sambil tersenyum.


"Iyaa kamu yang cinta, aku sih gak.." seru Bintang seraya mengejek.


"Lagi-lagi di tolak,mmmh.." ujar Deni yang memasang wajah cemberut.


Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh, Bintang pun mengajak Deni untuk segera pulang. Karena Bintang baru ingat, bahwa Ia membawa kunci kost-an.


"Soalnya kunci kost-an aku bawa, nanti kalau Nadya pulang dia gak bisa masuk. Aku pikir tadi kita cuma sebentar, makanya kunci aku bawa.." jelas Bintang.


"Yaa udah, ayo buruan jalan.." seru Bintang sambil menepuk pundak Deni yang kini telah menyalakan motornya, dan kemudian melajukannya.


Bintang yang kini telah sampai di depan kost-an, segera menaiki tangga dengan terburu-buru. Saat tiba di atas, di lihatnya Nadya yang sedang duduk di dekat pintu kost-an dengan wajah yang kesal.


"Dari mana aja kamu, jam segini baru pulang..?!" seru Nadya yang menatap tajam pada Bintang.


"Iyaa maaf, tadi aku pergi ke pantai sama teman.." jawab Bintang seraya membuka pintu yang terkunci.


Saat pintu terbuka, Nadya pun bergegas masuk ke dalam kost-an sambil membanting tas dan djaket nya. Ia merasa sangat kesal harus menunggu lama di luar, di tambah lagi saat Ia melihat Bintang berboncengan sepeda motor berdua dengan seorang pria.

__ADS_1


"Itu tadi yang nganterin kamu siapa, pacar kamu..?!" tanya Nadya yang tidak bisa menahan rasa penasaran dan cemburunya.


"Dia cuma teman yang aku kenal dari teman kerja aku.." jelas Bintang.


"Terserahlah, mau dia pacar kamu atau bukan.." seru Nadya ketus, lalu berjalan menuju kamar mandi.


Bintang yang melihatnya hanya terdiam lesu, ada perasaan sedih menyelimuti hatinya. Memikirkan esok Ia harus pergi, dan melihat sikap Nadya yang semakin menyakitkan hatinya.


~*************~


Keesokan paginya, terlihat Nadya yang sedang bersiap-siap karena pagi ini Ia masuk kerja lebih awal. Begitu juga dengan Bintang, yang telah bersiap lebih dulu.


"Mau berangkat bareng gak..?" tanya Nadya dengan ketus.


"Gak usah, aku berangkat sendiri aja. Karena nanti aku mau belanja dulu.." jawab Bintang sambil tersenyum.


"Yaa udah, aku duluan.." seru Nadya.


"Ehh, tunggu dulu Nad, sebelum kamu pergi boleh gak aku peluk kamu..?" tanya Bintang yang berharap Nadya mengijinkan untuk memeluknya.


"Gak mau, malas. Peluk aja teman cowok kamu itu..!" seru Nadya yang masih merasa kesal tentang kejadian tadi malam.


"Tapi Nad, sekali ini aja.." pinta Bintang, namun Nadya berlalu begitu saja tanpa mempedulikannya.


"Bahkan, saat aku akan pergi pun kamu masih bersikap seperti ini sama aku, Nad.." gumam Bintang dalam hati.


Setelah kepergian Nadya, Bintang pun juga bersiap-siap untuk pergi. Ia segera memesan taksi, dan berjalan keluar kost-an untuk menuju tangga.


Kini Bintang telah berada di luar, Ia berjalan ke depan gang sambil menunggu taksi datang. Tak lama kemudian, taksi yang akan membawa Bintang ke Bandara pun telah datang. Tanpa menunggu lama, Bintang segera masuk ke dalam taksi dengan rasa sedih dalam hatinya. Karena harus pergi tanpa berpamitan dengan Nadya, tapi setidaknya Ia telah berpamitan dengan bos dan teman-teman kerjanya.


"Aku pergi dulu, Nad.." ucap Bintang dalam hati, sambil mengusap air matanya yang saat itu menetes.

__ADS_1


Bersambung...


🙏😊 A59


__ADS_2