
Kini Bu Nani telah pulang dan sudah berada di rumah, Ia mengajak kedua putrinya untuk duduk bersama sambil bercerita.
"Dari tadi Mamaa cerita panjang lebar, tapi kok respon kalian berdua biasa saja. Apa lagi Gia, tumben tidak banyak bicara.."
Ucap Bu Nani sambil memperhatikan Gia yang biasanya bawel, tapi sekarang tidak banyak bicara.
"Gia sariawan Maa, sudah beberapa hari ini. Rasanya sakit sekali.." ujar Gia sambil menghela nafasnya dengan berat.
"Jadi begitu, terus sudah minum obat belum ?" tanya Bu Nani pada Gia.
"Sudah Maa, tapi belum sembuh juga.." jelas Gia yang merasa lega karena Mamaa nya percaya dengan apa yang Ia katakan.
"Makanya Gia, jangan banyak makan yang berminyak dan minum es. Lihatlah badan kamu sekarang.." seru Bu Nani yang mulai mengomeli Gia.
"Memang ada apa dengan badan Gia, Maa..?" tanya Gia sambil melihat arah tubuhnya sendiri.
"Badan kamu semakin kurus Gii, seperti tiang bendera kita yang di depan itu.." ledek Bu Nani sambil tertawa kecil, di ikuti oleh Tika yang juga ikut tertawa.
"Mamaa ngomong apa sih, masa menyamakan anaknya sama tiang bendera,huhh.." gerutu Gia sambil menatap tajam pada Mamaa dan Kakaknya.
"Tapi memang sekarang kamu terlihat semakin kurus Gii.." ucap Bu Nani meyakinkan Gia.
"Perasaan Mamaa saja itu, yaa sudahlah Gia masuk kamar dulu.." ujar Gia seraya menenteng bungkusan kecil oleh-oleh dari Mamaa nya, dan berjalan menuju kamar.
__ADS_1
"Selama Mamaa pergi, apa ada sesuatu yang terjadi di rumah Tik..?" tanya Bu Nani dengan tiba-tiba.
"Ti,,tidak ada Maa, tidak ada terjadi apa-apa. Semua baik-baik saja kok. Seperti yang Mamaa lihat sekarang.." jawab Tika yang merasa cemas dan takut, kalau sampai Ibunya itu tau semuanya yang terjadi pada Gia.
"Syukurlah kalau begitu, karena saat Mamaa di rumah Tante kamu waktu itu. Mamaa merasa tidak enak hati, kepikiran dengan kalian berdua. Walaupun kamu juga waktu itu sudah bilang, kalau kalian baik-baik saja.."
Jelas Bu Nani pada Tika tentang apa yang Ia rasakan.
"Semua baik-baik saja kok Maa, jadi Mamaa tidak usah khawatir atau banyak pikiran yaa.." ucap Tika yang mencoba mena kekhawatiran Ibunya.
"Iyaa Tika, kalau begitu Mamaa mau istirahat dulu. Badan rasanya masih pegal-pegal.." seru Bu Nani sambil berjalan ke kamarnya.
"Yaa sudah Maa, biar Tika pijitin yaa.." sahut Tika sambil mengikuti Ibunya masuk ke dalam kamar.
~************~
"Maa,, kalau Gia melanjutkan S2 bagaimana menurut Mamaa..?" tanya Gia pada Ibunya tiba-tiba.
"Mamaa tidak salah dengar ? Bukannya dulu kamu menolak untuk melanjutkan kuliah S2, kenapa sekarang tiba-tiba ingin melanjutkan kuliah lagi..?"
Tanya Bu Nani yang kadang merasa tidak bisa mengerti, dengan jalan pikiran putri bungsunya itu.
"Karena Gia ingat dengan keinginan almarhum Papaa, yang menginginkan Gia untuk melanjutkan kuliah sampai S3 Maa.." jelas Gia.
__ADS_1
"Iyaa Mamaa juga ingat itu, Mamaa pasti mendukung kamu, Gia.. Apa kamu sudah tau mau melanjutkan kuliah dimana..?" tanya Bu Nani lagi.
"Gia mau melanjutkan kuliah ke kota D, Maa.." sahut Gia.
"Kenapa tidak di kota sendiri saja Gia..?" ucap Bu Nani yang merasa keberatan, kalau harus berjauhan dengan putrinya itu.
"Gia ingin mandiri Maa, nanti akan Gia usahakan untuk sering pulang ke rumah kok. Boleh yaa, Maa..?" pinta Gia sambil memasang wajah memelasnya.
"Mmmh,,yaa sudah kalau itu mau kamu, yang penting Gia harus bisa sampai S3 seperti yang di inginkan oleh almarhum Papaa.." ujar Bu Nani sambil mengusap wajah Gia.
"Terimakasih yaa, Maa.. Gia sayang banget sama Mamaa.." ucap Gia seraya memeluk Ibunya.
"Sama-sama Gia, Mamaa mau tidur dulu yaa.. Kalian berdua cepat tidur, jangan begadang.." seru Bu Nani pada kedua putrinya, sambil bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kamar.
"Iyaa Maa.." balas Gia dan Tika serentak.
"Gia,, apa tujuan kamu sebenarnya ingin melanjutkan kuliah di luar kota..?" tanya Tika yang merasa aneh keputusan adiknya itu.
"Itu bukan urusan Kakak.." jawab Gia sambil meninggalkan Tika yang belum sempat menjawabnya, lalu masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Maafin Gia, Kak. Gia tidak bisa terus-terusan berada di sini, begitu banyak kenangan bersama Bintang.." bathin Gia.
Dan di sebuah kamar yang lain, Tika menarik nafasnya dengan dalam. Rasa bersalah di hatinya masih Ia rasakan, apa lagi dengan sikap Gia padanya yang sudah tidak seperti dulu lagi. Kini hubungan kedua kakak beradik itu sudah renggang, dan sulit untuk bisa mengembalikan seperti semula.
__ADS_1
Bersambung..
🙏😊 A59