
Kini Bintang, Hira dan juga Lisa telah berteman baik, mereka sering tampak selalu bersama baik di dalam sekolah atau di luar sekolah. Begitu juga dengan Bintang yang masih mengirim surat pada Lisa, tanpa sepengetahuan Hira. Namun pada suatu hari, Bintang mendapat balasan surat dari Lisa yang membuat hatinya sangat sedih.
"Bintang, maaf yaa.. mungkin ini surat terakhir dariku, aku tidak ingin lagi kita saling mengirim surat. Itu terlihat aneh, sedangkan kita hampir setiap hari bertemu di sekolah. Lagi pula aku juga tidak bisa mengerti dengan sikap dan perkataan kamu di surat. Aku harap kamu tidak marah.." Lisa
Selesai membaca surat itu, Bintang merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Ia merasa sedih, tapi juga menyalahkan dirinya sendiri.
"Harusnya aku bisa menahan perasaan waktu itu.." ucap Bintang lirih sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Seraya mengambil tumpukan surat-surat yang ia kirimkan untuk Lisa, namun Lisa mengembalikan semuanya.
"Lebih baik aku sobek aja semua surat ini, lalu aku bakar. Dari pada sampai terbaca oleh Ayah, Ibu atau kakak.
Setelah selesai merobeknya, Bintang memasukkannya kedalam plastik. Lalu menyimpannya terlebih dulu di tepi tempat tidur.
~***********~
Di sekolah, saat jam istirahat tiba. Lisa menghampiri Bintang yang sedang duduk di kursi kantin, ia merasa Bintang menghindarinya sejak tadi pagi.
"Kamu marah Bin ?, maafin aku yaa.." ucap Lisa yang merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku gak marah, kenapa harus marah.." jawab Bintang dengan tersenyum, berusaha untuk menutupi rasa sedih dalam hatinya. Ia sendiri juga tidak ingin memiliki perasaan yang tidak biasa itu.
"Beneran kamu gak marah ?, makasih ya Bin.." ujar Lisa yang juga membalas senyuman Bintang.
Tak lama kemudian, Hira pun datang berjalan mke arah mereka.
"Kalian udah di sini dari tadi, kok gak ngajak sih,mmmh.." ucap Hira dengan cemberut.
"Iyaa maaf Hira, tadi aku buru-buru ke kantin,hee.." sahut Lisa.
"Yaa udah gak papa, terus kamu kenapa Bin. Gak bersuara dari tadi, sariawan ?." goda Hira menatap tajam ke arah Bintang yang di lihatnya seperti ada masalah.
"Kamu yang sariawan, kenapa harus aku yang traktir. Kalau kamu aja gimana Lis.." sahut Hira sambil tertawa kecil.
"Ya udah gak papa kok, pesan aja apa yang mau kalian minum." jelas Lisa sambil menatap kedua temannya itu.
"Gak jadi, aku mau ke kelas dulu yaa.." sembari berjalan meninggalkan Hira dan Lisa.
__ADS_1
"Tuh anak kenapa Lis, kok tumben aneh.." tanya Hira pada Lisa.
"Entahlah Hira, mungkin dia memang lagi sariawan." jawab Lisa asal. "Ya udah jadi gak pesan minumannya ?." seru Lisa yang sebenarnya ingin mengikuti Bintang ke kelas, namun ia tidak ingin Hira tau tentang masalah yang terjadi antara dia dan Bintang.
~**********~
"Bin, dari pagi kamu banyak diam, kenapa ?." tanya Hira yang masih merasa penasaran.
"Kan udah aku bilang, kalau aku lagi sariawan.." bohong Bintang yang tidak mau Hira tau yang sebenarnya.
Lisa yang mendengar itu, hanya bisa diam dengan perasaan bersalahnya.
"Makanya banyak minum, jangan cuma banyak makan." sahut Hira yang kini telah percaya bahwa Bintang memang benar sariawan.
"Iya iyaa nanti aku banyak minum, satu galon aku habisin. Kalau perlu sama galonnya sekalian.." seru Bintang yang membuat mereka bertiga akhirnya tertawa, sambil tersenyum penuh arti pada Lisa..
Bersambung...
__ADS_1
🙏😊