Rahasia Hati Seorang Lesbi

Rahasia Hati Seorang Lesbi
Akan Terbiasa


__ADS_3

Bintang ingin menghubungi Gia dengan nomor telepon baru yang sekarang Ia gunakan, namun keinginan itu Ia urungkan saat mengingat kembali apa yang di katakan oleh Kak Tika padanya untuk menjauh dari Gia. Namun tiba-tiba, ponsel yang Ia pegang berbunyi.


"Panggilan dari Ibu.." gumam Bintang saat melihat layar ponselnya dan segera menjawabnya.


**Bintang: "Assalamu'alaikum Bu.."


Ibu: "Wa'alaikumsalam Nak, bagaimana keadaan kamu di sana ? Sudah sarapan belum ?"


Bintang: "Alhamdulillah Bintang baik Bu dan sudah sarapan juga, Ibu dan Ayah baik-baik bukan ?"


Ibu: "Syukurlah kalau kamu baik Nak, Ibu dan Ayah juga baik. Apa saat ini kamu sedang bersama Paman ?"


Bintang: "Tidak Bu, Paman sudah berangkat kerja. Bintang juga sebentar lagi akan keluar untuk melamar pekerjaan, do'ain Bintang yaa, Bu.."


Ibu: "Iyaa pasti akan Ibu do'ain Nak, kamu hati-hati dan baik-baik di sana yaa sayang. Baru beberapa hari, tapi Ibu sudah kangen banget sama kamu, Bin.."


Bintang: "Iyaa Bu, Bintang akan ingat pesan Ibu. Bintang juga kangen sama Ibu dan Ayah.."


Bintang: "Sudah dulu yaa Bu, Bintang mau pergi dulu.."


Ibu: "Iyaa Nak, hati-hati di jalan yaa.."


Bintang: "Iyaa Bu, salam buat Ayah dan Kakak. Wassalamu'alaikum Bu.."


Ibu: "Wa'alaikumsalam Nak**.."


Setelah mengakhiri sambungan teleponnya, Bintang segera bergegas pergi. Tak lupa Ia mengunci pintu dan meletakkan kuncinya di tempat yang telah Paman pesankan padanya, karena Paman tidak memiliki kunci cadangan.


~**********~


Di rumah, terlihat Ibu yang sedang sibuk memasak di temani oleh Kak Tya dan juga putrinya.

__ADS_1


"Apa Bintang sudah menghubungi Ibu lagi ?" tanya Kak Tya sambil bermain dengan Rahma, putri kecilnya.


"Iyaa sudah, tadi pagi Ibu yang menghubunginya. Ibu ingin bicara dengan Paman Handi, tapi ternyata sudah berangkat kerja.." jelas Ibu dengan tangannya yang masih sibuk mengaduk-aduk masakan.


"Terus Bintang ngomong apa, Bu..?" tanya Tya lagi.


"Bintang tidak banyak cerita, karena dia buru-buru mau pergi untuk melamar pekerjaan.." ucap Ibu yang kini telah selesai memasak.


"Semoga saja Bintang bisa secepatnya mendapatkan pekerjaan yang dia inginkan yaa, Bu.." seru Tya dengan tersenyum pada Ibunya.


"Aamiin, kita do'akan saja adikmu itu yaa.." sahut Ibu.


Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari depan rumah.


"Sepertinya ada tamu Bu.." ucap Tya seraya menggendong putrinya yang sedang menangis.


"Biar Ibu saja yang membukakan pintunya, kamu cepat berikan susu pada Rahma. Sepertinya dia haus.." seru Ibu yang berjalan menuju pintu ruang tamu.


Jelas Ibu sambil mengajak Gia masuk ke dalam rumah, lalu mempersilahkannya untuk duduk.


"Iyaa Bu, tidak apa-apa kok. Justru Gia yang seharusnya minta maaf, karena sudah mengganggu.." ucap Gia.


"Sama sekali tidak mengganggu Nak Gia, bagaimana keadaan kamu sekarang ? Terus itu kenapa pergelangan tangannya kok di perban ?" tanya Ibu pada Gia.


"Alhamdulillah sudah baikan Bu, dan terimakasih karena malam itu Ibu dan Bapak sudah membantu membawa Gia ke rumah sakit.." seru Gia yang masih ingat jelas dengan yang terjadi malam itu.


"Iyaa Nak Gia, sama-sama. Lalu itu tangan kamu kenapa ?" tanya Ibu lagi yang belum mendapat jawaban dari Gia.


"Ohh, ini kemarin tidak sengaja kena pisau Bu." jawab Gia yang berharap Ibu percaya dengan apa yang Ia katakan.


"Ohh begitu, lain kali harus lebih hati-hati yaa Nak Gia jangan sampai terluka lagi.." ucap Ibu mengingatkan Gia.

__ADS_1


"Iyaa Bu, sebenarnya kedatangan Gia ke sini karena ada sesuatu yang ingin Gia tanyakan sama Ibu.." seru Gia dengan raut wajah yang serius.


"Memang Nak Gia mau tanya apa ?" ujar Ibu yang kini merasa penasaran.


"Beberapa hari ini nomor telepon Bintang tidak bisa Gia hubungi, kenapa yaa Bu..? Apa mungkin Bintang ganti nomor ?" tanya Gia.


"Ohh itu, iyaa Nak Gia, Bintang memang ganti nomor. Tapi kenapa dia tidak menghubungi kamu yaa ?" ucap Ibu yang kini balik bertanya.


"Mungkin Bintang sibuk atau belum sempat untuk menghubungi Gia, Bu.. Apa boleh Gia minta nomor telepon Bintang yang baru, Bu..?" tanya Gia dengan hati-hati.


"Iyaa boleh Nak Gia, sebentar yaa Ibu tulis di kertas saja.." sahut Ibu seraya mengambil kertas dan pulpen untuk menulisnya.


"Ini Nak Gia nomornya.." ucap Ibu sambil menyerahkan kertas kecil pada Gia.


"Terimakasih yaa Bu.." balas Gia dengan senyuman.


"Sama-sama, Nak Gia. Ohh yaa tunggu sebentar yaa, Ibu mau mengambil sesuatu buat kamu.." seru Ibu yang bergegas berjalan menuju kamar.


"Ini ada titipan surat dari Bintang, untuk Nak Gia sebelum dia pergi.." ucap Ibu seraya memberikan surat yang kini telah berada di tangan Gia.


"Terimakasih yaa Bu, kalau begitu Gia pamit pulang dulu.." ujar Gia sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Iyaa Nak Gia, maaf yaa Ibu sampai lupa tidak membuatkan minuman untuk Gia.." seru Ibu yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa kok Bu, Gia pulang dulu yaa Bu.. Wassalamu'alaikum.." ucap Gia yang telah memasuki mobil.


"Wa'alaikumsalam.." balas Ibu pada Gia dengan perasaan aneh dalam hatinya.


"Sebenernya apa yang telah terjadi di antara mereka berdua.." gumam Ibu sambil menggelengkan kepalanya.


Bersambung...

__ADS_1


🙏😊 A59


__ADS_2