Rahasia Hati Seorang Lesbi

Rahasia Hati Seorang Lesbi
Trauma


__ADS_3

Rasa kecewa yang begitu besar dan sakit hati yang di rasakan oleh Bintang dari Yumie, membuatnya kini merasa trauma dan kehilangan diri sendiri. Ia tak lagi percaya akan cinta, ketulusan dan kesetiaan, karena Ia pikir semua itu sama dan akan berakhir mengecewakan.


Bintang yang dulu selalu bersikap ramah dan hangat, serta ceria. Kini terlihat dingin, cuek dan acuh, terutama pada orang-orang yang menyukainya. Ia selalu menghindar dan menjadi sangat pendiam, tak sedikit wanita yang Ia tolak karena tak ingin terlibat lagi soal cinta yang menurutnya hanya membuat kecewa.


Hal inipun di sadari oleh Ibu dan Kakaknya, membuat mereka sedih atas perubahan yang terjadi pada diri Bintang. Namun mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa, untuk bisa mengembalikan sosok Bintang yang seperti dulu mereka kenal.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini, Bin..?" tanya Tya saat sedang duduk di ruang tengah, sambil menonton televisi.


"Seperti ini gimana, Kak..?" tanya Bintang yang merasa bingung dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Kakaknya.


"Iyaa sikap kamu yang beberapa bulan ini, yang gak seperti dulu lagi.." ucap Tya menjelaskan maksud dari pertanyaannya.


"Aku juga gak tau Kak, karena semua terjadi dengan sendirinya. Aku juga ngerasa kalau sekarang aku beda, aku kehilangan diri aku yang dulu.." ujar Bintang yang Ia sendiri tidak tau harus bagaimana untuk bisa kembali seperti dulu.


"Sepertinya kamu trauma Bin,mmmh.. Apa separah itu yang di lakukan Yumie sama kamu, sampai kamu jadi seperti ini..?" tanya Tya.


"Kakak bisa bayangin, gimana rasanya kalau saat ini Kakak di anggap segalanya tapi besok di campakkan gitu aja. Saat ini kakak di terbangkan sangat tinggi, lalu besok di jatuhkan gitu aja. Rasanya hancur banget Kak, bahkan menyebut namanya pun membuat hatiku sangat sakit.."


Ujar Bintang sambil menghela nafasnya dengan dalam, saat mengingat kembali apa yang sudah Yumie lakukan padanya. Seketika itu membuat dadanya sesak, merasakan sakit dan sedih dalam hatinya.


"Iyaa Kakak bisa ngerti, tapi kamu juga harus belajar ikhlas untuk menerima semuanya. Lagi pula udah beberapa bulan, jangan siksa diri kamu seperti ini.." ucap Tya menasehati adiknya.


"Ini semua di luar kendali aku, Kak.. Aku juga gak mau ngerasain trauma dan kehilangan diri sendiri, tapi memang itu yang aku rasain dan aku gak bisa menolaknya.." sahut Bintang dengan penuh penekanan, berharap Kakaknya bisa mengerti tentang apa yang Ia rasakan.


"Kakak cuma gak mau kamu menyimpan benci dan dendam, Bin.. Itu hanya akan merusak dan merugikan diri kamu sendiri.." jelas Tya.


"Yaa udahlah Kak, aku gak mau bahas masalah itu lagi. Aku mau ke kamar aja.." seru Bintang dengan raut wajah kesal, sambil berjalan menuju ke kamarnya.


"Kalian kenapa lagi, Kak..?" tanya Ibu yang tiba-tiba datang menghampiri Tya.


"Tadi Tya coba ngomong ke Bintang tentang sikapnya itu Bu, tapi Bintang kelihatannya gak terima dengan omongan Tya,mmmh.." ujar Tya dengan raut wajah yang sedih.


"Jadi begitu yaa, lebih baik mulai sekarang jangan pertanyakan dan bahas tentang perubahan adikmu itu. Rasa kecewa yang di rasakan Bintang pasti besar, sampai membuatnya jadi seperti itu. Kita tidak bisa merubahnya untuk kembali seperti dulu, kecuali-..." ucap Ibu sambil tersenyum.


"Kecuali apa, Bu..?" tanya Tya yang penasaran dengan perkataan Ibu selanjutnya.


"Kecuali kalau Bintang menemukan sese'orang yang bisa membuatnya kembali seperti dulu, tapi Ibu rasa itu akan sangat sulit dan butuh waktu lama.." jelas Ibu seraya menarik nafasnya.

__ADS_1


"Memang benar yang Ibu bilang itu, tapi itu artinya Bintang harus terlibat dengan hubungan percintaan lagi dong, Bu.." seru Tya sembari menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


"Kalau begitu kita do'akan saja, Bintang bisa kembali seperti dulu tanpa harus menjalin hubungan dengan sese'orang.." ucap Ibu.


"Iyaa Bu, semoga aja.." balas Tya.


Keduanya pun terdiam, kini mereka fokus pada layar televisi. Melupakan sejenak apa yang baru saja mereka bahas tentang Bintang, dan tidak lagi terlalu memikirkannya.


Di dalam kamarnya, Bintang tengah asyik menulis. Ia mencurahkan segala isi hatinya lewat tulisan, berharap dapat mengurangi kesedihan yang Ia rasakan saat ini. Kesedihan dan kekecewaan yang Ia pikir akan berkepanjangan, entah kapan akan berakhir.


Pada akhirnya,


Aku hanya menjadi sese'orang yang akan selalu di tinggalkan


Yang di perlukan saat butuh


Dan yang di jadikan persinggahan


Bukan benar-benar pilihan


Bukan salahmu, dia ataupun mereka


Yang terlalu berharap


Yang terlalu percaya bahwa ketulusan itu ada


Yang terlalu dalam mencintai


Dan menjatuhkan seluruh hati


Semua memang salahku,


Kebodohanku


Yang membiarkan hati terus di sakiti


Dan selalu menahan diri untuk pergi

__ADS_1


Sedangkan cinta terlarang ini


Mungkin hanya sebatas mimpi...


Tertulis di atas kertas putih yang terlihat agak basah oleh air matanya, yang sejak tadi masih mengalir. Bintang lalu menghapus air matanya, dan menyimpan buku harian itu ke dalam sebuah laci yang tidak jauh dari tempat tidurnya.


"Kenapa air mata ini masih terus terjatuh, sedangkan aku sudah lelah, sangat lelah.." guman Bintang dalam hati, seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Ia mencoba memejamkan matanya, meski hatinya masih terjaga. Merasakan semua rasa yang bercampur aduk menjadi satu, hingga memaksa air matanya untuk kembali terjatuh. Ia menangis lagi, lalu mengambil bantal untuk menutupi wajahnya.


Hampir setiap malam Bintang menangis, meski beberapa bulan telah berlalu. Namun kesedihan dan kekecewaan masih saja Ia rasakan, dan malam adalah saat paling sulit untuk Ia lewati. Karena di saat itu, semua rasa seolah datang menghampiri. Hanya sunyi dan air mata yang menemaninya, hingga rasa lelah dan kantuk datang untuk membuatnya bisa tertidur dan lupa akan segalanya.


~************~


Sarah: "Assalamu'alaikum, Bin.. Gimana keadaan kamu sekarang..?"


Bintang: "Wa'alaikumsalam, alhamdullilah keadaan aku baik. Kamu dan Sandra gimana, sehat kan..?"


Sarah: "Syukurlah kalau gitu, aku dan Sandra sehat kok. Kamu kapan mau main ke sini lagi, Bin..? Kita semua kangen lho, pengen banget bisa kumpul bareng lagi seperti dulu.."


Bintang: "Iyaa Sarah, aku juga kangen pengen bisa kumpul bareng sama kalian lagi. Tapi aku gak tau, kapan bisa ke sana lagi. Karena aku masih pengen temenin Ibu di rumah.."


Sarah: "Iyaa Bin, gak apa-apa kok. Aku bisa ngerti, pokoknya kalau kamu mau datang kabarin aja yaa.."


Bintang: "Iyaa Sarah, itu pasti.."


Sarah: "Yaa udah Bin, kalau gitu udah dulu yaa teleponnya. Kamu baik-baik di sana, jaga kesehatan.."


Bintang: "Iyaa Sarah, kamu juga yaa.. Titip salam buat semua.."


Sarah: "Iyaa Bin, nanti aku sampaikan. Kapan-kapan kita sambung lagi yaa, wassalamu'alaikum.."


Bintang: "Iyaa Sarah, wa'alaikumsalam.."


Sambungan telepon pun terputus, Bintang merasa senang karena selama ini teman-temannya masih tetap peduli dan perhatian terhadapnya. Meski Ia jarang menghubungi mereka terlebih dulu, tapi hubungan dan komunikasi dengan teman-temannya tetap baik.


Kini Bintang menjalani hari-harinya sebagai sosok yang berbeda, tapi Ia tetap menikmati dan menerima perubahan yang terjadi pada dirinya itu. Sambil berharap, suatu saat Ia bisa kembali menjadi dirinya yang dulu. Hingga saat itu tiba, Ia memilih untuk sendiri dalam waktu yang cukup lama. Karena rasa traumanya akan cinta yang begitu besar, sendiri menjadi pilihan yang terbaik untuk Bintang...

__ADS_1


........Tamat........


__ADS_2