Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 101


__ADS_3

Aishe menenggelamkan kepalanya dalam-dalam ke dada Diego, dengan tangan yang sesekali terangkat, lalu memukul dada bidang kekasihnya, melampiaskan rasa kesal yang sejak tadi menyelimuti perasaannya. Bibir kecil sedikit tebal itu tak henti-hentinya mengumpat, mengatai dia jahat dan tidak berperasaan.


Diego pun hanya menghela napas panjang, menerima segala macam amukan bahkan cacian dari Aishe. Dia sendiri cukup menyadari kesalahannya, tetapi itu semua benar-benar diluar rencana yang dia buat.


Jatuh cinta pada Aishe, adalah bagian di luar rencana, yang pada akhirnya merubah sedikit alur perjalanannya.


"Kenapa kau diam? Kau tidak membela? Sejak kapan bisa berdiri dan jalan?" Aishe masih menenggelamkan wajahnya di dada Diego.


"Aku bersalah. Aku menutupi kebenarannya darimu. Maaf, Ishe."


Mendengar jawaban Diego, entah kenapa hati Aishe bukannya bertambah lega, justru semakin kesal. Dia pun mendorong tubuh Diego, lalu pergi kembali ke kamar.


Sekali lagi, pria itu hanya menghela napas kasar dan memaklumi emosi Aishe. Alih-alih pergi menyusulnya, ia justru pergi menemui Ashan yang sedang berbincang di ruang tamu.


"Ashan! Kemari!" pinta Diego. Tanpa banyak bertanya, pria itu berdiri dari kursi dan menghampiri Diego.


"Coba katakan. Hal apa yang bisa di gunakan untuk membujuk seorang wanita!"


Pertanyaan Diego sempat membuat mulut Ashan menganga untuk beberapa saat.


Sudah bisa aku tebak. Mereka pasti akan merepotkanku jika bersama. Aahh …. Ashan, malang sekali dirimu.

__ADS_1


"Selain, Sorry I Love You. Mungkin Anda bisa membujuknya dengan … bermain di atas ranjang?"


PLAK!


Dalam sekejap, koran yang ada di nakas melayang dan mendarat dengan lembut di atas kepalanya.


"Kau tidak bisa bicara dengan serius?" bentak Diego yang mulai kesal.


"Di novel-novel seperti itu. Jika suami istri bertengkar, mereka akan mendiskusikannya di atas ranjang."


Mendengar itu, Diego kembali menggulung koran yang sejak tadi dia pegang. Gulungan koran itu hendak melayang dan mendarat kembali di kepala Ashan, namun tiba-tiba terhenti dengan ucapan Ashan selanjutnya.


"Se-selain itu, Anda juga bisa mencobanya dengan membuat makanan kesukaannya." Ashan memandang raut wajah Diego, lalu menarik dua sudut bibirnya, memperlihatkan dua deret gigi yang berjejer.


Dan begitu dia membuka pintu … wala, kosong melompong. Lagi-lagi pria itu menghela napas kasar, sepertinya, langit tidak berpihak padanya, bahkan isi lemari pendingin yang ada di hadapannya, pun juga begitum


Niat hati ingin meluluhkan hati Aishe dengan memasak sesuatu yang dia suka. Namun niatnya justru terurung begitu cepat. Dia pun berusaha memutar otak mencari jalan keluar.


"Tunggu mereka beli bahan … pasti butuh waktu lama." gumamnya masih diam termenung menatap lemari es yang kosong.


Pada akhirnya, jalan satu-satunya yang dia pilih adalah menyiapkan sesuatu, yang mungkin akan membuat Aishe memaafkannya.

__ADS_1



Setelah segala persiapannya beres. Diego buru-buru pergi ke kamar, menemui kekasihnya yang sedang merajuk itu. Melihat Aishe duduk menatap ke arah jendela dengan tatapan kosong, hati Diego mendadak terenyuh.


Perlahan ia melangkah mendekati Aishe, lalu duduk bersimpuh di hadapannya. "Kamu masih marah?" tanya Diego dengan lembut.


Namun Aishe masih terdiam, dia bahkan tidak menatap wajah kekasih yang duduk bersimpuh di depannya. Namun meski tidak di perdulikan atau di tatap, Diego tidak menyerah begitu saja. Dia masih berusaha membujuk Aishe, agar bisa memaafkan dirinya.


Dengan lembut ia meraih kedua tangan Aishe, menggenggamnya dengan erat dan memanggil nama kekasihnya. "Ishe …."


Panggilan selembut itu, siapa yang tidak tergugah? Pada akhirnya, Aishe menunduk dan menatap wajah Diego.


Sorot mata tajam, tapi memancarkan kelembutan. Gari-garis sudut bibir yang sedikit terangkat, mengulas senyum indah yang menawan. Rambut hitam lebat, serta bulu-bulu kasar yang memenuhi rahang.


"Sorry, I Love You."


Siapa yang tidak jatuh hati dan luluh? Bahkab Aishe hampir tidak bisa bernapas manakala mendengar kata indah itu terucap dari bibir seorang Diego Gulbar.


Brengsek! Aku bahkan tidak bisa marah lebih lama lagi!


__ADS_1


Senin senin, jangan lupa Votenya.


Sat set das des. Demi babang Diego biar cepet dapet junior, othor rela minum 2 saset Antatopan biar anginnya pergi. Alhasil, tepar semalaman 🤣🤣


__ADS_2