Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 156


__ADS_3

Suasana pemakaman begitu asri, pepohonan rindang dengan banyak daun, serta tanah lapang yang ditumbuhi rumput. Menjadikan tempat itu teduh dan tenang.


Ada jalan setapak, yang disiapkan untuk para pelayat atau peziarah berjalan sebelum ke makam sanak saudara atau teman mereka. Semua tertata sangat rapi oleh perintah keluarga Gulbar.


Aishe berjalan mendekat bersama dengan Mustafa, menyusuri jalan setapak. Lalu tak jauh dari mereka, Rehan mengikuti sambil mendorong kursi roda Diego.


Hanya kemeja yang dipadukan dengan rok berwarna putih serta outer. Dia bahkan tidak memakai riasan, hanya sunscreen dan sedikit lipstik. Namun Aishe terlihat begitu cantik, terutama saat sinar mentari menerpa wajahnya.


Mereka semua tampak kompak, para wanita dengan setelan putih bersih polos tanpa hiasan. Sedangkan para pria mengenakan kemeja hitam tanpa dasi.


Begitu sampai, Aishe langsung memeluk Guzel, yang pada saat itu melihatnya berjalan mendekat bersama Mustafa.


"Kamu masih bagian dari kami, Guzel. Jangan pernah merasa sendiri." Aishe mengusap punggung Guzel dan terus membuatnya tabah.


"Terima kasih, Nyonya. Terima kasih sudah bersedia datang mengantar kepergian ibu."


Ada sedikit isak yang berusaha Guzel tahan saat berbicara. Meski beberapa hari ini Ashan berusaha menenangkan hatinya, namun gadis itu tetap saja rapuh saat melihat peti mati berwarna putih bersih di hadapannya.

__ADS_1



Upacara pemakaman pun langsung dimulai begitu mereka sampai. Kali ini, paman Mustafa yang memimpin, di awali dengan doa, hingga salam perpisahan terakhir.


Terima kasih orang baik. Anda adalah orang tua pertama yang begitu perhatian setelah kehidupan keduaku. Terima kasih, sudah merawatku selama ini.


Aishe terlihat tertunduk, sesekali menyeka matanya yang basah saat melihat peti putih itu perlahan diturunkan ke bawah. Diego yang terlihat fokus ke depan, juga bukan tidak memperhatikan sang istri yang berdiri di sampingnya. Dengan penuh kelembutan, ia meraih tangan Aishe, dan mengengamnya kuat-kuat.


Meninggalnya Bibi Nie, bukan hanya luka bagi Guzel, melainkan semua yang hadir di sana, terutama Diego. Ashan, Rehan, dan Eraz, juga selalu mendapat kebaikan dari Bibi Nie. Wanita tua itu selalu membuatkan mereka makanan enak saat berkunjung ke rumah Diego, atau hanya sekedar kopi yang rasanya tidak dapat tergantikan.


Peti sudah sepenuhnya masuk ke dalam, tanah perlahan menimbunnya sedikit demi sedikit, hingga tanah itu kembali rata. Bunga lily putih di letakkan di samping nisan yang baru dipasang, sebagai bentuk pengabdian terakhir keluarga Gulbar kepada Bibi Nie.


Lily putih, konon bunga cantik ini melambangkan kesucian, kemurnian, ketulusan, kemuliaan, pengabdian juga persahabatan. Salah satu jenis lily yang berwarna putih adalah Casablanca Lily. Bunganya benar-benar melambangkan sesuatu yang suci, bersih dan sangat menawan.


Semua orang masih terlihat khusyu, saat Ashan tiba-tiba berjalan mendekati Diego dan berbisik sesuatu padanya.


"Tuan, Nyonya dan Tuan Besar datang."

__ADS_1


Diego terlihat menghela napas, sebelum akhirnya dia mengangguk, lalu mendongak ke samping menatap Aishe yang kebetulan menoleh.


"Apa kamu lelah?" tanya Diego dengan suara pelan, tetapi dapat didengar jelas oleh Aishe.


"Kamu tidak perlu menanyakan ini, Sayang. Bicaralah dengan mereka, aku akan mencari tempat untuk duduk," ucap Aishe, kemudian tersenyum memandang sang suami.


Nampaknya, Aishe sudah mengetahui jika Deniz dan Mirey datang ke pemakaman. Aishe berbalik pergi lebih dahulu, lalu disusul Guzel yang sepertinya mengetahui situasi saat ini.


"Ayo kita duduk di sana, Nyonya!" ajak Guzel seraya menunjuk kursi taman yang ada di bawah pohon.


...☆TBC☆...



Sat set kan 😌


Ayo sajennya juga Sat Set 😌

__ADS_1


__ADS_2