Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 103


__ADS_3

Aishe sudah membayangkan adegan ranjang yang mungkin akan mereka lakukan ketika Diego membopong tubuhnya. Namun angan-angan itu seketika lenyap, manakala mereka melewati ranjang empuk yang menggoda itu, dan justru pergi membuka pintu.


Diego terus membawa wanitanya itu, pergi ke taman samping yang entah sejak kapan sudah disulap menjadi tempat Barbeque lengkap dengan tiga orang pria yang memakai baju koki.


Benar, itu adalah Emil, Ashan, dan Rehan yang sudah beralih profesi.


Perlahan-lahan Diego menurunkan tubuhnya, lalu mengambil mantel di atas kursi dan memakaikannya.


"Di luar masih dingin, pakai ini!" ucapnya lembut.


Hal pertama yang Aishe perhatikan bukanlah daging yang ada di atas pemanggang. Melainkan wajah ketiga orang itu yang telah beralih profesi menjadi koki, dan bukan kembali ke kantor membantu Eraz mengurus dokumen perusahaan.


"Kalian bertiga … kenapa masih disini?" Pertanyaan Aishe jelas membuat mereka mengalihkan pandangannya. "Perusahaan masih membutuhkan bantuan kalian."


Namun, ketiga orang itu hanya terdiam, dan kini mengarahkan pandangan matanya ke arah Diego untuk beberapa saat.


"Mereka sedang dihukum!" sahut Diego. "Mereka sudah lalai menjagamu, jadi aku menghukum mereka!"


Aishe hanya menghela napas kasar setelah mendengar jawaban Diego, lalu bangkit berdiri merebut jepit pemanggang dari tangan Ashan.


"Kalian kembali saja ke kantor. Kasihan Eraz jika harus bekerja sendirian, dia baru saja pulih!" ucap Aishe.


Ketiganya sempat saling memandang satu sama lain untuk beberapa saat, yang kemudian membuat Aishe mengerti akan ketakutan mereka terhadap Diego.

__ADS_1


Oleh karena itu, ia langsung memberikan japit pemanggang yang ia pegang pada Diego. "Sayang, panggang untukku. Aku ingin makan hasil yang kamu panggang!"


Mendengar permintaan Aishe, tentu saja dia tidak bisa menolak. Terlebih, ia sedang meminta maaf padanya. Tanpa banyak berkata, Diego segera memakai celemek dan memanggang beberapa daging untuk Aishe.


"Kenapa kalian masih disini? Tidak dengar apa yang Nyonya bilang!" seru Diego sedikit lantang ketika melihat ketiganya masih berdiri.


Perkataan Diego jelas membuat ketiga pria itu senang bukan main. Bahkan, dengan cepat mereka melepas celemek dan topi putih di kepala mereka, lalu lari tunggang langgang meninggalkan dua orang itu. Mereka mungkin sedikit takut, jika Diego akan berubah pikiran dan kembali menghukum mereka.



Sedangkan di tempat lain. Dua anak buah Max baru selesai menikmati tubuh Malva selama hampir 2 jam. Gadis itu terlihat tergolek lemah tak berdaya di atas gazebo yang terbuat dari kayu. Dia begitu lemah, tetapi kedua matanya masih setengah terbuka.


Max yang sejak tadi melihatnya, tiba-tiba membungkuk, mendekatkan diri pada Malva. "Sedang mengumpat siapa kamu? Tidakkah kau tahu, semua ini gara-gara Diego dan wanita itu!" ucap Max mencoba memprovokasi Malva.


Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, dengan mata yang memerah, dan air mata yang membendung di pelupuk. Dalam hati dia mengumpat, mengumpat semua orang.


Seorang wanita tiba-tiba datang menghampiri Max, lalu mengecup bibir pria itu. "Bagaimana, kamu puas bermain?" ucap wanita itu, yang kemudian menatap Malva.


"Ahh, kasihan sekali dirimu. Apa kau mengingatku?" lanjut wanita yang kerap disapa Irene.


Malva menggerakkan dengan pelan manik matanya, menatap wajah yang tak asing, yang pernah bersamanya 6 tahun lalu. Wajah yang memberinya ide untuk merusak mobil Lyra, dan pada akhirnya membuat dia kehilangan kakaknya.


"Kau mengingatku rupanya," Irne mendekat, melihat wajah Malva lebih jelas. "Kau tau, bagaimana respon dia saat tahu jika kau yang merusak rem mobil Lyra? Dia pasti mengulitimu habis habisan! Hahaha!"

__ADS_1


Malva kembali mengepal tangannya, lalu menyemburkan salivanya. Namun sayang, tidak berhasil mengenai wajah Irene.


"Arogannya masih sama seperti dulu, cih!" Irene berdecak. "Ayo Sayang, kita kembali!" Ia meraih tangan Max dan pergi dari sana.


Mereka satu persatu meninggalkan Malva. Membiarkan gadis itu meraung dalam tangisan sesalnya. Jika dia boleh menyesal, mungkin yang pertama adalah kematian kakaknya, atau, justru obsesinya pada Diego.


Hal yang jelas, semua juga akibat dari apa yang dia tabur. Kini, dia sendiri jatuh ke tangan orang yang telah memanipulasi pikiran untuk mencelakai kakaknya sendiri, Lyra.



Katanya, penyelesaian konfliknya GAK JELAS!!!


Kalian pengen lihat penyelesaian konflik yang mana lagi? Hayok di komen, mumpung othor belom ngambek!


Masalah Haley Elektronik? Ada yang masih inget? Ini masih butuh proses ya, ngak bisa ujug-ujug di bangkrutin dalam hitungan hari kek sulapan.


Ntar dibilang novel ikan terbang lagi.


Liat kuburannya Farhan? Masalah dendam Aishe udah clear, ya. Lalu siapa lagi?


Dendamnya Diego? Novelnya masih belum tamat, next kita bahas ini, mohon bersabar ngih. Diego masih betah sama dapet kopi dari kalian.


Note ya, Author tidak pernah mengajak pembaca berpindah setting tempat dalam 1 bab berulang kali. Contoh saat bahas Aishe yang di bawa Rehan sampai ke setting mereka selesai, othor gak bisa putus di tengah buat pindah ke settingnya Malva, trus pindah lagi ke Diego sama Asihe, Bisa2 kalian bingung. So, othor kasih bab lain yang bahas mereka setelah setting Diego selesai.

__ADS_1


Dahlah, cukup cuap-cuap paginya. Semoga kalian masih setia sama Diego dan Aishe sampe tamat 🤧🤧


__ADS_2