
"Aku …." Deniz menunduk beberapa saat, kemudian mengangkat kepalanya dan kembali menatap Aishe meski dalam pengelihatannya hanya samar samar.
"Aku hanya salah satu orang yang dipercaya oleh tuan." Pria itu mengangkat dua sudut bibir, menyamarkan raut wajah gugupnya dengan baik.
Dalam pandangan Aishe, Deniz seketika menjelma menjadi sosok yang jujur dan bisa dipercaya. Membuat Aishe mengangguk dan tersenyum dengan samar. Namun, sorot mata gadis itu seperti sedang menatap sesuatu yang tidak bisa dijabarkan di dalam mata Deniz.
"Ah, pantas saja jika Anda tahu tentang keluarga Gulbar," ucap Aishe masih menatap simpul senyum di wajah pria tua yang umurnya hanya selisih dua tahun dari ayah angkatnya.
"Jadi, apa Anda bisa memberitahu … tentang hubungan yang terjadi di antara mereka?" lanjut Aishe dengan nada mengintimidasi.
Aishe masih memandangnya lekat-lekat, sedangkan Deniz sempat menoleh memandang sahabatnya yang duduk santai di sampingnya, sembari berharap jika pria tua itu bisa membantunya. Namun reaksi Mustafa justru di luar ekspektasinya. Mustafa justru bersedekap tangan dan bersandar santai, seolah sedang menunggu cerita yang menarik.
Yah, orang tua sialan ini menjebakku!
Deniz kembali menghela napas panjang, lalu kembali menatap Aishe. "Kalau begitu, dengarkan aku baik baik …."
Deniz mulai bercerita, tentang sebuah kisah yang ternyata cukup rumit dan amat panjang. Semua bermula dari 33 tahun yang lalu. Tepat saat mereka masih muda, dengan segala ambisi dan cinta yang bergelora.
Mereka dulu hidup rukun, bahkan Deniz terlihat menyayangi adik angkatnya itu. Maximo sendiri juga menyayangi kakak dan seluruh keluarga Gulbar. Hingga, keluarga Gulbar memutuskan perjodohan antara Max dan Mirey.
__ADS_1
Melihat mereka dulu begitu dekat, Mereka mengira keduanya punya perasaan. Terlebih lagi, Mirey sering datang ke rumah dan bermain bersama Max dan Leyla, kakak kedua Deniz.
Namun, hal yang tidak diketahui keluarga Gulbar adalah perasaan mereka berdua, yang ternyata tidak saling terpaut. Mirey rupanya diam-diam menyukai Deniz, sedangkan Max justru menyukai Jihan, sahabat baik Mirey.
Demi bisa terlepas dari perjodohan, Max merencanakan rencana untuk menjebak Deniz dan Mirey agar tidur bersama. Sialnya, rencana itu berhasil dan berjalan sangat mulus. Demi menebus rasa bersalah, keluarga Gulbar memaksa mereka berdua untuk menikah, dan membatalkan pertungan Mirey dengan Max.
Max tentunya sangat senang, tapi kesenangan itu hanya sesaat. Deniz yang mengetahui semuanya, langsung membuat Mehmet, kakak pertamanya itu menikahi Jihan. Max tentunya marah saat mendengar Deniz mengusulkan hal ini pada ayahnya (kakek Diego) terlebih, orang tua itu tanpa ragu menyetujuinya.
Selain itu, Deniz juga menjodohkan Max dengan Tania. Seorang bangsawan yang pada saat itu baru menapaki dunia bisnis di Negara Turki. Hal itulah, yang pada akhirnya membuat Max memendam dendam teramat sangat besar pada Deniz.
Pria muda itu bahkan bersumpah akan merebut semua kebahagiaan dan kekuasaan Deniz serta anak turunnya.
"Generasi kedua hanya melahirkan tiga anak. Anak pertama mereka bernama Mehmet, anak kedua mereka bernama Leyla, dan yang ketiga, itu ayah mertuamu!" Mustafa turut menimpali.
"Dan cinta Max berakhir dengan status kakak ipar?" Aishe menatap Mustafa, memandang sorot mata pria itu lekat-lekat. Lalu, kembali menatap Deniz.
"Apa, istri Anda tau, Ayah Mertua?" lanjutnya.
"Ya, dia –" belum sempat Deniz meneruskan, pria itu buru-buru menoleh menatap Aishe yang tersenyum padanya.
__ADS_1
"Ka-kau tahu?" Kedua mata pria itu membulat penuh. Entah itu terkejut atau justru heran, tetapi ekspresi wajah itu berhasil membuat Mustafa tertawa terbahak-bahak. Sepertinya, pria itu cukup puas setelah berhasil mengerjai Deniz.
Deniz pun langsung menoleh. Melihat Mustafa tertawa dengan puas, ia pun meraih bantal dan melemparkannya ke arah Mustafa, meski pada akhirnya meleset.
"Senang, berjumpa denganmu, Ayah Mertua." Seulas simpul senyum terukir dengan sangat jelas di wajah Aishe. Sorot matanya bening, terlihat begitu murni.
"Sejak kapan kau tahu, Nak?" tanya Deniz yang penasaran tentang kebohongannya yang sudah di ketahui Aishe.
"Aku hanya menebak. Jika ayah angkatku saja 'tidak punya kuasa' lantas siapa yang punya jika bukan keluarga Gulbar sendiri?"
Jawaban Aishe berhasil membuat Deniz tertawa puas. "Lihat! Menantuku sangat pintar!" ucap Deniz pada Mustafa yang justru menatap pria itu dengan sorot mata cemburu.
"Dia anakku, tentu saja pintar!"
...☆TBC☆...
Hayo, ada yang inget Leyla di bab sebelumnya????
__ADS_1
Sajen jangan lupa di sebar. Bab selanjutnya OTW 🤣