Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 102


__ADS_3

Dengus napas Aishe terdengar jelas di telinga Diego. Meski wanita itu sudah mau menatapnya, tetapi raut wajah kecewanya masih dapat Diego lihat.


"Aku tidak bermaksud menipumu, Ishe," ucap Diego masih menatap wajah kekasihnya yang duduk di sofa.


"Tidak ada yang tahu bagaimana cinta itu datang. Begitu juga dirimu dan segala perasaan tentangmu. Lama-lama, ketika aku mulai bisa berjalan sedikit lebih lama, aku mulai kehilangan alasan untuk memberitahumu," lanjutnya.


"Sejak kapan?"


"Satu tahun lalu, kakiku mulai bisa berdiri 2 sampai 5 menit setiap hari. Seiring berjalannya waktu, aku bisa berdiri 6 jam lebih."


"Kenapa kau tidak mengatakannya? Karena pamanmu, Max?" tebak Aishe yang langsung membungkam mulut Diego. "Kamu takut aku membocorkannya?"


Diego benar-benar dibuat tak berkutik dengan ucapan Aishe. Memang benar, pada awalnya dia takut, takut jika Aishe membocorkannya. Namun, lama-lama, ketakutannya berubah alasan.


"Aku pernah dikhianati oleh seseorang. Bahkan di bunuh dan di biarkan mati tenggelam. Lalu, apa aku punya alasan untuk menodongkan senjata pada orang yang pernah menyelamatkanku?"


Diego menatap Aishe dengan wajah bengongnya. Perkataan Aishe sekali lagi menampar dirinya beberapa kali. Ada hal yang tiba-tiba dia sesalkan, termasuk, pemikirannya yang tidak bisa berpikir seperti Aishe.

__ADS_1


"Ishe … maafkan aku!" ucap Diego penuh sesal. "Aku tidak bermaksud untuk menutupinya lebih lama, hanya saja … aku perlu waktu."


Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat, sampai tiba-tiba Aishe menyuruh pria itu untuk duduk di sampingnya.


"Kakimu baru saja sembuh, duduk saja di atas!"


"Tidak!" Diego menggeleng. "Aku tidak akan beranjak sebelum kamu memaafkanku!"


Keras kepala Diego sekali lagi membuat Aishe bertambah jengkel. Padahal, dia sudah mencoba memaafkannya dengan memberikan perhatian, tetapi pria itu, justru mengabaikannya.


Mendengar suara gaduh di belakangnya, tentu saja Aishe menoleh. Tapi dia tidak terlihat kaget ketika melihat Diego jatuh, hanya menghela napasnya sesaat, lalu menghampiri pria itu.


"Sudah tua, kalau di nasehati paling tidak di dengar!" gerutu Aishe sembari membantunya bangkit.


"Iya tua, tapi aku masih tangguh saat berurusan denganmu di atas ranjang!" Diego sedikit menggodanya, berharap amarah gadis itu mereda.


"Tangguh? Selama ini aku yang mengambil alih. Kamu hanya membuatnya berdiri!" jawab Aishe ketus sembari membantu Diego duduk di sofa.

__ADS_1


Ya, lagi-lagi pria itu terdiam. Entah kenapa, hari ini Aishe cukup pandai menjawab dan berdebat dengannya. Sampai-sampai membuat ia memeras otaknya untuk membuat topik yang baru. Sampai, Diego teringat akan kejadian hari ini, yang membuat ia harus kembali secepat mungkin.


"Ishe … aku tiba-tiba teringat sesuatu. Tentang larangan untuk tidak keluar dari rumah."


Seketika, Aishe menghentikan langkah kakinya, lalu memandang Diego yang justru tersenyum.


"Lalu, kamu mau perhitungan denganku? Aku sedang marah padamu sekarang!" seru Aishe sedikit lantang sambil melepaskan tangannya yang sejak tadi memegangi Diego.


Namun pria itu tidak mau tawar menawar. "Tidak peduli, aku mau perhitungan padamu sekarang!" Diego membopong tubuh Aishe dan membawanya pergi.


"Die! Diego! Aku belum memaafkanmu! Kamu mau membawaku kemana? Die!"



Bopong lempar ke ranjang Bang Die 🤣🤣


Dahlah, othor mau ambil kitab suci ke barat dulu. Jangan lupa, jempolnya othor pantau 😌😌

__ADS_1


__ADS_2