Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 111


__ADS_3

Pertarungan kembali di mulai, tetapi kali ini intonasinya sedikit lebih soft dari sebelumnya. Kali ini, Diego benar-benar mengontrol tenaganya agar tidak menyakiti kekasihnya, bahkan sampai hasratnya tuntas pun ia masih memperlakukan Aishe dengan lembut.


Setelah merebahkan diri untuk beberapa saat dan mengambil napas. Diego membopong tubuh kekasihnya, membawanya ke kamar mandi untuk membasuh diri.


"Kau tampan saat tidak memakai apa pun seperti ini, Die." Aishe mengeratkan kedua tangannya di leher Diego ketika pria itu membawanya ke toilet.


"Eemm, jadi bagaimana kalau aku tidak memakai apapun setiap hari? Agar kamu bisa menikmati wajah tampanku setiap saat!"


Sorot mata Aishe memincing tajam menatap kekasihnya. "Apa kamu ingin mati, haa?" Dengan gemas ia menarik bulu-bulu halus yang tumbuh di dada bidang kekasihnya.


"Aah, Ishe. Itu sakit!" Keluh Diego sambil menurunkan kekasihnya duduk di atas meja wastafel.


Jarak yang hanya satu jengkal dipangkas dengan cepat oleh Diego. Dia kembali meraih bibir kemerahan milik Aishe dan melummatnya untuk sesaat.


"Aku lelah dan mengantuk, Die."


Diego menulikan telinganya sesaat, dan kembali meraih salah satu bagian dari tubuh kekasihnya yang membuatnya candu. "Baiklah, ayo bersihkan dan tidur," ucapnya setelah mengecup bibir Aishe.


Aishe langsung merebahkan tubuhnya setelah membasuh diri, dan bahkan langsung terlelap tak beberapa lama kemudian. Entah kenapa, akhir-akhir ini Aishe terlalu cepat lelah, bahkan hanya aktivitas ringan saja sudah membuat keringatnya menetes.


Sudah tidur?

__ADS_1


Diego menatap wajah Aishe yang sudah lelap, padahal belum ada 2 menit sejak ia keluar dari kamar mandi lebih dulu.


Tidurlah yang nyenyak. Dengan lembut ia mendaratkan bibirnya di kening Aishe, sebelum akhirnya tidur dengan memeluk kekasihnya dari belakang.


Terlalu larut dalam tidur malamnya, Diego sampai tidak menyadari saat mentari terbit. Bahkan Aishe yang sudah bangun dan pergi dari sisinya pun ia tidak menyadarinya. Sampai, ia mengerjapkan matanya dan menelisik sekitar.


Dia sudah bangun?


Diego perlahan bangkit, duduk di tepi ranjang untuk meregangkan tubuhnya dan mengerjap untuk membiarkan kornea matanya terbiasa dengan cahaya.


Namun ketika matanya terbiasa, ia justru di kejutkan dengan ceceran darah di lantai. Pria bertubuh kekar dengan berat badan hampir 80 kilogram, langsung belangkit berdiri dan mencari Aishe.


Dengan raut wajah gugup, ia berlari menuju kamar mandi, mengikuti tetesan darah yang tercecer di lantai. Sampai akhirnya ia melihat wajah Aishe sudah duduk lemas bersandar di tembok.


"Ishe."


Aishe melirik ke atas dengan wajah pucatnya, menatap Diego yang langsung menghampirinya dengan panik. Tanpa bertanya apapun, pria itu membopong tubuh Aishe dan membawanya ke atas ranjang.


Setelah itu, ia mengambil baju dan celana, lalu buru-buru memakainya. "Tenanglah, aku akan membawamu ke rumah sakit," ucapnya sambil memakai kemeja.


"Die …." panggil Aishe lirih.

__ADS_1


"Sebentar, Sayang. Sebentar lagi selesai." Dieg masih sibuk memakai celana.


"Die …." panggil Aishe sekali lagi, yang langsung membuat Diego menghampirinya.


"Aku disini. Katakan sayang, apa menyakitkan? Di Bagian mana?" Diego memegang kedua tangan Aishe. Tiba-tiba hatinya teriris, melihat darah segar yang menodai pajamas putih miliknya


"Hubungi Rehan, biarkan dia mengantarku."


Diego terdiam. Sudah seperti ini, bagaimana bisa dia mencari Rehan? Bukankah dirinya saja sudah cukup?


"Pamanmu sedang mengawasi kita, Die. Kau tidak boleh mengambil resiko hanya demi mengantarku ke rumah sakit," lanjut Aishe dengan suara sedu-sedan.


Diego mengepalkan tangannya kuat-kuat. Raut cemas di wajahnya memudar, digantikan dengan emosi yang membara. Bagaimana tidak, kekasihnya sudah lemas tak berdaya, tetapi dia sendiri justru tidak cukup mampu untuk membawanya ke rumah sakit dengan segera.


"Aagh!"



Nunggu segalon kopi, baru UP bab selanjutnya 😌😌


Sekebon mawar juga oke deh

__ADS_1


__ADS_2