
Beberapa menu yang mereka pesan, akhirnya sampai setengah jam kemudian. Beberapa menu utama itu berjejer, dan siap untuk disantap. Diego sempat menatap sang istri, dengan pikiran yang bertanya-tanya. Akankah semua makanan itu habis?
Sebenarnya dia sendiri tak masalah, jika pada akhirnya makanan itu tersisa. Hanya saja, ia khawatir dengan keadaan perut sang istri nanti.
"Sayang …." panggilnya lembut dan langsung membuat Aishe menoleh menatapnya.
"Semua ini … kamu bisa menghabiskannya?" tanya Diego mengedarkan matanya melihat beberapa menu di hadapannya.
Aishe dengan cepat mengangguk, "Iya, aku bisa, Sayang," tegasnya menyakinkan Diego bahwa ia mampu.
Sampai pada akhirnya, Diego sendiri yakin setelah Aishe menghabiskan satu menu pembuka dan dua menu utama. Juga, dua menu penutup, karena yang satu menu, pada akhirnya Diego yang menghabiskannya.
"Aah, kenyangnya!" ucap Aishe sambil menatap Guzel dan Alv yang sudah selesai makan lebih dulu.
Mereka pun pergi setelah membayar, dan melanjutkan perjalanan mereka ke Villa Luxury, yang jaraknya hanya tinggal 12 kilometer dari Lacosta. Mobil sedan yang mereka naiki bergerak, dari utara ke arah selatan, tepatnya ke daerah Zeytinburnu.
Namun ditengah perjalanan, Aishe tiba-tiba ingin memakan kue yang manis dengan banyak cream. Padahal, setengah jam yang lalu ia baru saja memakan ice cream.
"Die," panggilnya lembut. "Aku mau makan kue, dengan banyak cream," lanjutnya singkat, tapi berhasil mendapat perhatian dari Diego.
"Kue? Dengan banyak cream?" tanyanya pada Aishe yang bersandar mesra di pundaknya sejak kembali dari Lacosta.
"Iya. Belikan juga untuk ibu dan ayah juga." Aishe mendongak, menatap wajah sang suami dengan tatapan manja.
"Kamu tidak perlu menatapku seperti itu!" ucap Diego yang tiba-tiba mencubit hidung Aishe karena gemas dengan sikap manja sang istri dan caranya merayu.
"Alv, tikungan di depan belok kanan. Ada toko kue
'Namlı Gurme' di sisi kiri, tepikan mobilmu di sana!" ucap Diego pada Alv.
__ADS_1
Dua sudut bibir Aishe meninggi mendengarnya. Dengan gembira, ia langsung mengecup pipi sang suami, sebagai tanda terima kasih lantaran sudah menuruti apa yang ia mau.
"Teşekkür Ederim, Aşkım." (Terima kasih, Kekasihku)
Diego yang mendapat kecupan tiba-tiba, jelas sangat senang. Itu tergambar jelas ketika ia menggenggam tangan Aishe dan mengecup punggung tangannya. Lalu mengusap perut sang istri yang masih rata.
Diego langsung melepas seat beltnya, hendak menemani Aishe turun, lantaran ia ingin memilih kuenya sendiri. Namun, Aishe cepat-cepat mencegah suaminya bergerak lebih jauh.
"Tidak perlu! Biarkan Guzel yang menemaniku masuk ke dalam," kata Aishe dengan memegang lutut Diego.
Pria yang mempunyai garis wajah tajam itu tentu melarang dengan alasan keselamatan dirinya. Namun Aishe lagi-lagi meyakinkan sang suami, jika tempat yang ia datangi hanyalah toko kue bisa. Dan dengan sedikit terpaksa, Diego mengizinkannya. Mereka berdua pun masuk ke dalam sambil membawa Black Card milik Diego.
"Kau mau kue juga, Guzel?" tanya Aishe saat mereka berdua berjalan masuk ke dalam.
"Apa itu boleh?"
Mereka berdua masuk bersama-sama dengan tawa riang. Untuk pertama kali setelah insiden ulang tahun Aishe yang gagal. Juga penyerangan Max yang bertubi-tubi, pada akhirnya, mereka bisa tertawa dengan tenang tanpa beban atau ada rasa khawatir.
Namun, tawa mereka terhenti oleh seorang pria yang membawa nampan, dengan secangkir kopi panas di atasnya. Pria yang berjalan sambil menelpon seseorang itu seperti kehilangan fokus dan menabrak mereka berdua.
Lagi-lagi Guzel cepat tanggap, ia melindungi Aishe dan mengorbankan dirinya. Hingga, secangkir kopi panas itu jatuh membasahi perutnya, lalu ….
PYAR!
"Aahh!" rintih Guzel lantaran terkejut dan kepanasaan.
Aishe yang berdiri di belakang Guzel pun langsung melihat keadaan gadis itu. Baju bagian perutnya basah, bahkan kaki putih mulusnya itu juga sempat terkena pecahan cangkir dan tergores.
__ADS_1
Mereka berdua masih dalam keadaan kaget dan panik, saat tiba-tiba suara berat khas seorang pria, membentak mereka.
"Kalian tidak ada mata? Lihat kopiku tumpah, jaketku juga kotor!" bentaknya kasar. "Kalian ini gadis miskin dari mana?"
Aishe sudah mengepalkan tangannya kuat-kuat, ingin rasanya meninju pria dengan tubuh kurus itu, lantaran sudah seenaknya mengatai mereka. Namun Aishe masih bisa menahannya, meski pria itu tidak meminta maaf.
"Minta maaf padanya!" ucap Aishe dengan tenang, tanpa emosi sedikitpun.
"Maaf? Jangan harap! Kalian saja tidak akan mungkin bisa mengganti biaya binatu jaketku ini!"
Guzel sudah tidak tahan, dia ingin bersuara saat itu, tetapi Aishe mencegahnya dengan merentangkan tangannya. Hingga pria itu kembali berucap.
"Kau tau siapa aku? Aku ini pewaris dari perusahaan konveksi terbesar, Zoe!"
Hal yang paling tidak disuka Aishe adalah pembeda status. Orang kaya sombong yang merendahkan orang padahal dia sendiri yang salah. Dan dua alasan itu sudah cukup membuat tinju Aishe melayang di wajahnya.
BUGH!
"Ja-jalank sialan!"
Pria itu memegangi pipinya, lalu mengusap bibir bawahnya yang sobek dan berdarah.
"Kau pewaris Zoe Konveksi? Maka aku adalah istri Diego Gulbar! Pewaris dari BIN Bank, bank yang memberi pinjaman pada ayah dan kakekmu!"
...☆TBC☆...
Kena ulti gak tuh sama Nyonya 🤣🤣
__ADS_1
Udah semangat nih, jangan lupa vote dan Gift 💋💋