
"Baiklah, sudah cukup, Die." Aishe berusaha melepaskan dekapan Diego. Namun pria itu masih enggan melepaskannya dan justru mempererat dekapannya.
"Die, aku lapar! Anakmu juga," lanjut Aishe yang kemudian pasrah dengan dekapan sang suami.
"Suruh mereka jalan kalau begitu!" tuturnya singkat. "Aku masih ingin memelukmu," lanjutnya manja.
"Tapi kamu perlu memakai seat belt, Die!"
Mengingat tentang seat belt, mood Diego berubah seketika. Ia menghela napas kasar, lalu melepaskan pelukannya dan memasang seat belt. Sedangkan Aishe yang melihatnya kesal, justru terkekeh pelan.
Diego membuka setengah kaca jendelanya, lalu berkata pada seorang pria yang sejak tadi berdiri di luar bersama Guzel.
"Alv, bawa kita ke Lacosta!"
Mobil sedan hitam itu melaju dari tempat parkir VinLand yang berada di kawasan Sisli menuju ke Fatih. Setidaknya 20 menit berkendara dengan lalu lintas yang cukup lenggang, mereka akhirnya sampai di sebuah restoran mewah.
"Minta pada mereka untuk mengosongkan lantai atas!" ucap Diego pada Alv
Alv, pria muda berumur 28 tahun yang sejak tadi duduk di kursi pengemudi, turun lebih dulu untuk menyampaikan perintah Diego pada pemilik restoran. Tak sampai lima menit, pria itu kembali ke mobil.
"Sudah selesai, Tuan."
__ADS_1
Lacosta, selain terkenal dengan kualitas makanan dan rasanya, restoran ini juga terkenal dengan pemandangan yang indah. Dari lantai teratas, pengunjung bisa melihat kemegahan dari masjid terbesar di daerah Fatih. Masjid megah yang memiliki sejarah panjang.
Masjid Fatih sendiri adalah sebuah masjid kekaisaran Utsmaniyah yang terletak di distrik Fatih, Istanbul, Turki. Masjid tersebut merupakan salah satu contoh arsitektur terbesar Turki-Islam di Istanbul. Selain itu, bangunan masjid ini juga mewakili perkembangan arsitektur Turki klasik.
Diambil dari nama dari sultan Utsmaniyah Mehmed sang Penakluk, yang dikenal dalam bahasa Turki dengan sebutan Fatih Sultan Mehmed. Sultan Utsmaniyah yang menaklukan Konstantinopel pada tahun 1453. Masjid yang sangat tua, dan bersejarah.
Diego mengambil tempat duduk dengan pemandangan yang paling indah. Sedangkan Guzel dan Alv duduk tak jauh dari mereka.
"Beri aku, Izgara kofte, Salmon Garlic, Lamb Ribs, dan Zucchini salad. Untuk dessert beri aku, Asure, Dondurma Ice Cream, juga Güllaç," ucap Aishe pada seorang waiters muda yang terlihat cukup profesional.
Diego yang mendengar semua pesanan sang istri hanya bisa mengangkat kedua sudut bibirnya. Entah, itu senyum malu, bahagia, atau justru mengisyaratkan hal lain.
"Layani mereka juga," lanjut Diego menunjuk Guzel dan Alv.
Waiters muda itu pun pergi setelah mencatat beberapa pesanan mereka.
Mendengar pesanan sang suami, Aishe tiba-tiba teringat saat pertama kali mereka makan malam. Saat itu Diego menyuruhnya untuk tidak memasak daging. Hingga selama lebih dari 6 bulan, Aishe pun tidak pernah menikmati daging. Namun entah mengapa, semakin kesini Diego berubah.
"Aku ingat kamu dulu tidak memakan daging," ucap Aishe tiba-tiba dan membuat Diego langsung mengalihkan pandangannya pada sang istri.
"Ya, itu benar." Diego mengangguk sambil menopang dagu, memandangi wajah Aishe di bawah sinar mentari yang membuatnya semakin bersinar.
__ADS_1
"Lalu kenapa semua berubah?"
"Karena kau. Kau merubah hampir 80 persen hidupku!" Diego meraih tangan Aishe, mendekatkan jari-jari langsing sang istri, lalu menggigit jari telunjuknya dengan lembut.
Tanpa berteriak, Aishe buru-buru menarik tangannya. "Aku serius, Die! Kenapa kau merubahnya?" tanyanya penasaran.
"Kau … vegetarian?"
Diego menggeleng lagi, lalu dengan suara lembut menjelaskan, "Karena Lyra. Kematian Lyra menjadi guncangan terhebatku, dan membuatku enggan memakan daging."
"Lalu, kau merubahnya karena aku?"
"Ya, begitulah. Tapi lebih tepatnya, aku mengikuti apa yang kamu suka, Aşkım."
Dua pipi Aishe merona merah. Berniat ingin mencari tahu, tetapi Diego justru membuatnya terbang di lambung buaian kata romantis.
...☆TBC☆...
Lirik terus bang, biar dapet sajen dari readers 🤭🤭
Mau nengok bang Farez dulu, kalau sempet ntar lanjut lagi 💋💋
__ADS_1