Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 167


__ADS_3


Wajah cemas Rehan terlihat jelas saat mendengar panggilan Emine. Dia pun lantas buru-buru masuk. Memeriksa toilet yang berisi 5 pintu. Satu- satu dia cek, sampai di pintu ke tiga, Dia melihat Emine sedang berusaha memakai dressnya kembali.


Rehan buru-buru memalingkan wajahnya, dengan kesal bertanya, “Apa yang kau lakukan?”


“A-aku tidak bisa memakai bajuku lagi,” ucapnya sambil menangis sesenggukan. “Aku gendut lagi? Aku berubah gendut lagi!” lanjutnya dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.


“Padahal aku sudah pergi ke Amerika untuk terapi. Kalau begini, Rehan tidak akan mungkin menyukaiku!”


Jadi, ini alasan dia berdiam diri cukup lama di Los Angeles?


Rehan terdiam sesaat, berpikir tentang masa kecilnya dulu. Emine dulu memiliki riwayat asma yang cukup parah dan selalu mengkonsumsi obat-obatan. Entah mengapa, obat obat yang diminum justru membuat hormonnya meningkat hingga membuat perubahan pesat di berat badannya.


Dia memijat keningnya, lalu menatap Emine yang sedang duduk sambil berusaha memakai dressnya kembali. Dengan tenang, dia berjalan mendekat, hendak membantu Emine memakai kembali dressnya.


“Kau hanya buang air tadi, kenapa melepas bajumu?” tanya Rehan sambil membantu Emine memakai dress kembali.


“Buang air? Bukankah aku mandi tadi?”


Lagi dan lagi, Rehan harus menghela napas panjangnya, mengingat Emine yang sudah cukup mabuk. Sampai tiba-tiba, gadis itu mengalungkan kedua tangannya ke leher Rehan. Dengan kedua mata yang sudah sayu, dia memanggil Rehan.


“Kamu, kenapa lebih tampan dari foto yang dikirim Diego 6 bulan lalu?”

__ADS_1


Diego?


Diam-diam dia mengirim fotoku pada wanita ini?


Belum sempat Rehan berkata atau bereaksi setelah mendengar ucapan Emine. Tiba-tiba bibir gadis itu mendarat dengan sangat cantik di bibirnya. Hanya mendarat, sebelum akhirnya lidah tak bertulang itu menerobos masuk.


Rehan diam terpaku selama beberapa saat. Sebelum akhirnya dia mulai terbawa suasana yang berhasil diciptakan oleh Emine secara tiba-tiba di dalam toilet. Namun saat Rehan mulai menikmati suasana, bulir air mata kembali jatuh dari mata Emine. Hingga membuat Rehan melepaskan ciumannya.


“Ada apa?”


“Aku berharap kau benar-benar ….” belum sempat Emine meneruskan kalimatnya. wanita itu justru terlelap dan menjatuhkan kepalanya di dada bidang Rehan.


Melihat Emine terlelap di dadanya, dua sudut bibir Rehan sempat meninggi, sebelum akhirnya dia membopong tubuh Emine. Rehan berjalan dengan santai, keluar dari toilet menuju ke meja bartender.



Benar, lantaran dia berinvestasi di hotel ini, Hyyat menyediakan 1 kamar hotel gratis yang bisa dipakai sesukanya. Mereka bahkan langsung memberi kunci akses pribadi pada Rehan diantara 2 kamar mereka. Salah satunya adalah kamar di lantai 10.


Perlahan dia merebahkan tubuh Emine ke atas ranjang empuk berukuran King Size. Dia bahkan sempat menyelimuti tubuh gadis itu, sebelum akhirnya pergi ke toilet untuk membasuh diri.


Suara air berdesir, menetes, membasahi seluruh tubuh Rehan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Menyapu segala peluh keringatnya, menggantinya dengan rasa segar yang membuat pikirannya semakin jernih.


Setelah merasa jernih, Rehan keluar dengan bathrobes sambil mengeringkan rambutnya yang basah. Dia sempat berjalan ke sisi Emine yang sedang tertidur, dan menatap gadis itu dengan seksama.

__ADS_1


Pandangan pria itu terhenti selama beberapa saat, menatap seorang gadis yang sudah dua kali menciumnya tanpa permisi. Entah mengapa, wajah Emine yang sedang tertidur seperti medan magnet bagi Rehan, yang membuat pria itu tiba-tiba duduk di sisi Emine, lalu mengecup kening.


Ya, itu hanya kecupan kening yang sangat sederhana, tapi justru membuat sesuatu dalam diri Rehan bergetar, hingga kecupan itu berpindah ke bibir Emine. Perlahan lidah tak bertulang itu menerobos masuk, hendak mencicipi sisa cocktail yang ada di dalam mulut Emine.


Gadis dengan mata yang tertutup itu juga tidak hanya diam tak merespon. Justru karena mengikuti naluri, ia mengulurkan tangannya ke dada bidang Rehan. Lalu perlahan naik ke atas menyentuh pipi Rehan.


Emine sempat mengusapnya beberapa kali, sebelum akhirnya tangan Emine turun, melepas bathrobes di pundak kiri Rehan. Kemudian, tangan berjemari lentik itu menggerayangi turun, menyentuh dada bidang pria yang tubuhnya mulai panas tak karuan.


Hormon Oksitosin yang baru saja dilepaskan, langsung membuat Rehan berpindah posisi, berada di atas tubuh Emine. Dia melepas pagutan bibirnya, lalu mulai menyusuri setiap inci leher jenjang Emine, menorehkan beberapa lukisan kemerahan di sana.


Desau yang keluar dari bibir Emine seakan membuat gairah Rehan mencuat. Terutama saat pria itu mulai mendapati dua benda padat dengan kemucuk kemerahan yang sangat menggoda. Hingga akhirnya membuat keduanya larut dalam insting masing-masing.


Suara mereka saling menggema satu sama lain. Diantara ruangan berukuran 62 meter persegi, dengan suasana malam yang begitu indah, bahkan bulan pun bersinar cukup terang.


Perlahan tapi pasti, benda tanpa tulang itu dilesakkan masuk beberapa kali dan berhasil membuat Emine menggeliat dengan mata yang setengah tertutup.


“Ugh, Rehan!”


Kuku kuku panjangnya menancap kuat di pundak Rehan, tepat saat pria itu mulai mempercepat ritme. Hingga membuat bekas kuku yang amat jelas. Dan saat keduanya selesai melakukan pelepasan bersama-sama, dua mata mereka saling bertemu untuk beberapa saat.


Sampai akhirnya, Rehan menutup mata Emine dengan tangannya, agar gadis di bawahnya itu tak melihat wajahnya memerah, beriringan dengan napas yang berderu.


...☆TBC☆...

__ADS_1


__ADS_2