Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 137


__ADS_3

Sorot mata Mustafa masih fokus menatap Aishe. Mata tuanya itu terlihat sayu, dengan garis-garis keripit yang terlihat jelas, terutama saat mata itu sedikit memincing.


"Kau ingin mendengarnya?" Suara Mustafa terdengar bergetar, yang baru saja keluar dari mulutnya seperti bukan pertanyaan, melainkan kata penegasan agar Aishe tidak mencari tahu.


Namun wanita yang sedang mengandung penerus BIN generasi ke-4 itu, masih begitu bebalnya. Raut wajahnya bahkan tidak berubah sedikitpun meski Mustafa sedang memperingati dirinya. Pria tua itu juga tak bisa terus menutupinya, bagaimanapun, Aishe sudah masuk ke dalam keluarga Gulbar.


"Aku tidak punya kuasa untuk mengatakannya," ucap Mustafa sedikit tegas. Tidak heran, jika jawaban Mustafa akhirnya membuat Aishe kecewa.


Namun, pria itu masih melanjutkan kalimatnya, "Tapi aku tahu siapa yang bisa mengatakan ini padamu!"


Diego?


Apa ayah akan menghubunginya?


Begitulah hal yang Aishe pikirkan seketika saat Mustafa melanjutkan ucapannya. Benar, siapa lagi yang bisa memberi penjelasan ini padanya selain sang suami?


Akan tetapi, sudah sejauh ini hubungan diantara mereka berdua, Diego belum pernah menjelaskan pada Aishe tentang pamannya. Aishe pun selama ini hanya menebak, jika itu karena jabatan di BIN, tanpa berani memastikannya pada Diego.


Tanpa mengatakan apa pun, Mustafa beranjak berdiri, lalu mengambil kursi roda yang diletakkan oleh pelayan di samping rak buku.


"Ayo ikut!" ajaknya sembari mengulurkan tangan hendak membantu Aishe duduk di kursi roda.

__ADS_1


Aishe juga tidak bertanya apa pun, hanya menurut dan duduk di kursi roda dengan patuh. Bahkan saat Mustafa mendorong kursi roda itu melewati lorong, dia juga tidak bertanya. Sampai akhirnya, mereka tiba di ruang utama yang ada di deck kedua.



Semuanya masih serba putih, sama seperti dekorasi kamar yang ditempati oleh Aishe. Selain sofa yang juga berwarna dasar putih, meja bartender pun juga putih.


Namun sorot mata Aishe tidak tertuju pada semua dekorasi serba mewah dan mahal. Melainkan pada sesosok pria yang sedang duduk sambil menyesap wine, yang sudah pasti cukup berkualitas.


"Kau disini, orang tua?" ucap Deniz tanpa menoleh ke arah Mustafa.


"Ya, aku membawa seseorang bersamaku!"


Perkataan Mustafa sontak membuat Deniz yang ingin menyesap wine menghentikan gerakan tangannya. Padahal, sudut gelasnya sudah berada di mulutnya. Lantas dia menarik tangan dan menoleh.


Deniz menatap tajam ke arah Mustafa, sudut matanya memincing, dengan bibir yang dikerutkan. Sudah bisa ditebak, jika pria itu sedang kesal pada Mustafa, karena mengekspos dirinya pada Aishe.


"Ayah, paman ini siapa?" tanya Aishe menoleh pada Mustafa yang sudah duduk di hadapan Deniz.


"Dia?" Mustafa melipat tangan, satu sudut bibirnya terangkat sedikit mengejek Deniz.


Dalam hati Deniz sendiri sudah acak-acakan, takut jika Mustafa akan mengungkap dirinya.

__ADS_1


"Orang yang bisa menjawab semua rasa penasaranmu!" lanjut Mustafa, yang langsung membuat Deniz menarik napas lega.


Aishe menoleh, menatap wajah Deniz yang sedang berdehem itu dengan teliti. Gestur wajah yang tak asing, jenggot lebat yang tiba-tiba membuat ia teringat akan sesuatu. Namun sayangnya, Aishe tidak berhasil mengingatnya dengan baik, sampai Deniz membuka mulutnya.


"A-apa yang ingin kau tau … Nak?" ucap Deniz terlihat terdengar sedikit gugup.


Aishe menyipitkan mata, membuat keningnya sedikit berkerut. Dengan sorot mata tajam menelisik, ia memandangi Deniz.


"Siapa Anda? Apa Anda dari keluarga Gulbar? Kenapa Anda bisa mengetahui segalanya?"


Glek!


Deniz menelan salivanya, kemudian menatap Mustafa yang justru menunjukkan ekspresi puas dengan menarik satu sudut bibirnya.


Orang tua sialan!



Merem bentar lah, ntar lanjut lagi kalau dapet kopi


🤣🤣🤣

__ADS_1


...☆TBC☆...


...To Be Continue...


__ADS_2