Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 43


__ADS_3


Hari berlalu seperti siput yang berjalan dari pinggir sungai, begitulah yang dirasakan Aishe. Entah kenapa, dia sering melamun sejak memberikan setumpuk berkas kecurangan Farhan pada Ashan. Seperti tidak rela, juga tidak percaya dengan ucapan Diego.


Ketika tidak ada orang, Aishe diam-diam menatap kemucuk jingga yang meng-orange dari balik kaca di cafetaria yang berada di lantai dua belas. Raut wajahnya terlihat resah tak menentu. Seperti sedang menerawang jauh ke depan.


Angin di luar berhembus semilir, membawa serta suhu dingin bersamanya, menggoyangkan ujung ranting tanpa dedaunan.


Sudah tiga hari sejak dia turun tangan memberi peringatan kepada Farhan. Kini, sudah waktunya dia menagih hutang-hutang itu satu per satu.


"Nona, Anda belum pulang?" Ashan tiba-tiba datang menghampiri Aishe yang termenung di mejanya.


Aishe reflek menoleh memandangi Ashan yang entah sejak kapan berdiri di hadapannya. "Ah, semua orang sudah pulang?" Dia memandangi sekitarnya yang sudah sepi.


Aishe bergegas merapikan mejanya, bersiap untuk pulang, karena ia harus segera menyiapkan makan malam. Namun sebelum beres, Ashan menyampaikan satu kabar.


"Kamu sudah melihat berita?"

__ADS_1


Aishe menghentikan aktivitasnya sesaat kemudian memandangi Ashan. "Berita tentang apa?"


Tebakan Diego ternyata benar, Aishe masih terlalu enggan membawa Farhan ke penjara. Sampai-sampai, berita penangkapannya siang tadi tidak masuk di telinganya.


"Farhan ditangkap tadi siang berkat semua bukti yang Anda kumpulkan."


Balas dendamnya berhasil, tetapi tidak ada raut bahagia atau lega di wajah gadis itu. Ia menarik dalam-dalam dan tersenyum tipis. "Benarkah? Bagus kalau begitu," ucapnya singkat.


"Anda tidak bahagia? Balas dendam Anda berhasil."


Penjelasan Aishe memang masuk akal bagi Ashan. Namun, gadis itu masih terlalu muda. Dia belum pernah melihat penjara di bawah gua yang dibuat Diego, juga penjara tersadis yang ada di sekitar Antalya.


Penjara khusus yang diciptakan Diego untuk mengurung beberapa musuhnya, dan menguliti mereka sedikit demi sedikit.


"Pernah mendengar Alcatraz, Rikers Island, La Sante, dan juga, Diyarbakir?" Ashan dengan sabar memberi Aishe sedikit gambaran.


"Sangat mudah bagi Tuan Diego membawa dia ke sana. Anda tidak perlu cemas, Nona. Pria itu selalu menepati ucapannya."

__ADS_1


Sorot mata Aishe masih fokus memandang Ashan untuk beberapa saat. Dia seperti meyakinkan hatinya lagi untuk bisa percaya pada perkataan mereka. Ketika hatinya yakin, dia melepaskan senyuman dan mengangguk.


Dia sendiri tidak punya kekuatan untuk bisa memberi siksaan yang menyakitkan pada Farhan. Kekuatannya terbatas di bawah naungan hukum negara Turki, dan karena alasan itulah, dia meminjam tangan Diego. Harapannya tidak banyak, dia hanya ingin Farhan merasakan 'hidup menyiksa, matipun segan' seperti yang dia rasakan selama 59 hari.


Setelah mendapatkan kata-kata penyemangat dari Ashan, dia pun melangkah pergi meninggalkan kantor. Baru beberapa langkah dia keluar dari pintu, Ashan berbalik badan dan hendak kembali ke kursinya.


Namun, ketika dia menoleh, Diego sedang duduk di kursi roda dan mengawasinya dari ambang pintu kaca. Raut wajahnya merah terbakar amarah, sorot matanya tajam memandangi Ashan begitu tajam sampai bisa memotong-motong tubuh pria kecil itu.


Ashan seakan mengerti penyebab dari mood Diego yang kembali buruk. Dia memandang CCTV di dua sudut ruangan.


Tuan pasti melihat Nona Aishe tersenyum padaku dan cemburu.


Ah … rasanya aku harus segera memilih penjara mana yang lebih baik?


*La Sante rasanya tidak terlalu buruk. Benar, tidak buruk dari dari pada penjara buata*n tuan.


__ADS_1


__ADS_2