
Bukankah kau berjanji akan kembali? Kamu sudah berjanji, Die. Kamu berjanji untuk kembali dan menjemputku.
"AAHH … D-I-E!!! DIEGO!"
Jerit tangis Aishe masih terdengar melengking, memilukan siapa pun yang mendengarnya, termasuk Rehan yang masih mendekapnya, dan juga yang lain.
Mustafa terlihat diam terpaku, melihat kepulan asap yang masih membumbung di udara. Pikirannya kacau, membayangkan beberapa hal buruk yang terjadi pada keponakannya.
Lain halnya Mustafa yang hanya diam, Deniz justru berjalan mendekat dengan sorot mata tajam menatap nanar ke arah kepulan asap. Hatinya jelas terkoyak sambil mengandai-andai.
Andai aku bisa bergerak dengan cepat. Anda saja.
Disela-sela jerit tangis Aishe, sebuah panggilan masuk dari earphone yang masih terpasang di telinga Rehan. Rupanya, itu panggilan dari Eraz yang memberi kabar dari Arnavutkoy, bahwa misinya sudah berhasil.
Namun, Eraz tidak sengaja mendengar jerit tangis Aishe yang begitu melengking dan memilukan, sontak bertanya pada Rehan.
"Tuan … jatuh ke tebing karena ledakan!"
"A-apa?"
Kabar ini tidak hanya mengejutkan Eraz, tetapi juga memberi duka bagi semua anak buah Diego. Max sudah tewas, itu adalah kabar bahagia lain yang mereka dapatkan. Akan tetapi, kabar Diego menjadi hal yang sulit mereka terima.
"Kenapa diam saja?" Aishe menoleh ke belakang, menatap beberapa pria memasang wajah sedih. "Cepat cari dia! Dia masih belum mati!" lanjutnya lantang membuat mereka semua bergerak.
__ADS_1
Semua orang mulai bergerak, menyusuri pinggir tebing untuk mencari Diego. Namun kepulan asap masih begitu pekat, membuat mereka kesusahan untuk mendekati lokasi ledakan.
Sampai tiba-tiba …. Dari earphone yang digunakan Rehan terdengar suara gemerisik, sampai Rehan ingin melepaskannya. Namun, suara seseorang menghentikan tangan Rehan yang ingin melepas Earphone.
"Aku masih belum mati!" ucapnya terdengar lirih sedikit serak, yang sontak membuat Rehan kaget dan mengangga.
"Lemparkan tali ke sisi barat dari tempatku berdiri tadi!" lanjut Diego masih dengan suara lirih.
Tidak mau banyak bicara, Rehan berlari tunggang langgang ke mobil yang terparkir di sana dan mencari sebuah tali. Beruntung, salah satu dari dua mobil yang dipakai Aishe mempunyai tali di bagasinya.
Segeralah ia mengambil tali itu, lalu menerobos sekumpulan orang yang mencari Diego.
"Awas! Minggir!" ucapnya begitu senang, hingga membuat Aishe menoleh, fokus menatap kakak angkatnya.
Pikiran Aishe masih begitu kacau, shock membuat IQ bekerja lebih lama. Sehingga, dia memerlukan beberapa waktu sampai matanya melihat Rehan mengukurkan tangan, dan menarik seseorang.
Melihat sosok yang di tarik Rehan, bulir mata Aishe kembali jatuh. Dia berlari dengan cepat, menghampiri mereka dan langsung mendekap tubuh Diego yang baru saja diangkat oleh Rehan.
"Die! Kau hidup! Kau kembali!" Serunya penuh bahagia sambil mendekap tubuh Diego.
Mustafa dan Deniz pun turut menghela napas lega, saat melihat Diego dapat kembali dengan selamat.
"Aku hanya boleh mati di tanganmu kan?" Diego menarik mundur pundak Aisha agar dapat menatap wajah sang istri yang terlihat sembab.
__ADS_1
"Berhenti bicara soal 'mati'! Kau hampir membuatku menjadi janda bahkan sebelum ku umumkan berita pernikahanku!"
Aishe meraih dua pipi Diego, lalu menariknya sedikit ke bawah sambil menjinjitkan kakinya agar tinggi mereka seimbang. Darah yang menetes dari kening ia seka, sebelum akhirnya mendaratkan satu kecupan manis di bibir Diego.
"Terima kasih, sudah kembali, Suamiku." Dua pasang mata saling memandang lekat, seakan tidak memperdulikan beberapa orang di sekitar yang memandangi mereka.
Herkesin yaşama sebebi farklıdır. Benim yaşama sebebim ise sensin. Seni seviyorum sevgilim.
(Setiap orang memiliki alasan berbeda untuk hidup. Kaulah alasan aku hidup. Aku mencintaimu sayang)
Diego kembali memeluk tubuh sang istri dengan perasaan yang teramat sangat lega. Begitu leganya, sampai luka di tubuhnya tidak terasa begitu menyakitkan dan menyiksa.
Saat sedang mendekap sang istri, sorot mata Diego tiba-tiba terfokus pada sosok pria yang sudah beberapa tahun tidak ia jumpai. Bahkan, ketika ia mengerahkan seluruh kemampuan untuk mencari pria itu, segelinting kabar angin pun tidak bisa dia dapatkan.
Sambil memeluk Aishe, sorot matanya menatap tajam ke arah Deniz. "Ayah, urusan kita masih belum selesai, oke!"
...☆TBC☆...
Kasih senyum dulu babang Die. Kasihan para pengagummu sudah dibuat jantungan 🤭🤣
Udah sat set nih, jangan lupa hadiah buat othor. Kopi, kembang, Vote, apapun itu, othor terima dengan lapang dada 🤭🤣
__ADS_1