
Perkataan Aishe seolah memberi secercah cahaya pada beberapa dewan. Membuat mereka memikirkan
kembali posisi Maximo yang tidak memberi manfaat pada BIN, dan justru
membiarkan performa BIN terus menurun. Pada akhirnya, dua keputusan final
dibuat. Pertama adalah menangguhkan jabatan dan kewenangan Maximo di BIN, yang
ke dua adalah memberikan Diego kesempatan, selama pamannya di tangguhkan.
Tidak banyak dari mereka yang pada awalnya berpihak pada Maximo, justru kini berpihak pada
Diego, terutama tiga orang yang beberapa hari yang lalu di datangi sendiri oleh
Diego berkat laporan kejanggalan keuangan yang di berikan Aishe. Pada intinya, Diego
memanfaatkan laporan itu untuk mengancam mereka dan membuat kapal mereka berbalik
arah.
“Apa yang kau lakukan tadi itu akan menimbulkan konsekuensi yang fatal! Apa kamu
mengerti?” Ashan berkacak pinggang berbicara pada Aishe usai rapat selesai dan
semua orang bubar.
“Iya, aku mengerti dengan jelas.”
“Lalu kenapa kamu tidak bisa mengontrol ucapanmu? Kamu lihat lirikan pria tua itu tadi?
Dia bisa menelanmu bulat-bulat!” Ashan berusaha mengendalikan emosinya yang
hampir meledak-ledak.
Melihat respon Ashan, Aishe hanya bisa menghela napas kasar sambil memandangi pria yang
berdiri di hadapannya. Dia sendiri bukan tidak memahami masalah apa yang
mungkin akan menimpanya kelak. Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka. Diego di
dorong Rehan masuk ke dalam ruangan.
“Berhentilah mengomel. Kau seperti perempuan sekarang!” ucap Diego.
“Tu-Tuan.”
Dua orang itu menoleh, kala mendengar suara Diego yang menggema di ruangan kosong.
“Kalian berdua keluarlah!” ucapnya memerintahkan Ashan dan Rehan untuk meninggalkan
mereka berdua. Setelah kedua pria itu keluar, Diego menyuruh Aishe untuk duduk
__ADS_1
di kursi.
Gadis itu tidak protes atau menolak. Justru dengan patuh menurut duduk di hadapan Diego. Tampak
raut wajahnya berubah setelah Diego datang, seperti ada perasaan takut. Takut jika
pria itu akan memarahinya. Namun, reaksi Diego justru di luar dugaannya.
Dengan lembut, pria itu mengusap ubun-ubun kepalanya sambil tersenyum, membuat Aishe
yang sejak tadi menunduk langsung menegakkan kepalanya dan memandang Diego. Melihat
Diego tersenyum tanpa ekspresi marah membuat Aishe bertanya-tanya dalam hati.
Apa dia sangat marah sampai reaksinya terbalik?
“A-Anda tidak marah, Tuan?” tanya Aishe dengan nada sedikit bergetar.
“Takut aku marah?” Diego masih meninggikan dua sudut bibirnya.
“Sedikit. Jika Anda marah, maka saya akan kehilangan tempat tinggal juga pekerjaan.”
Gerakan tangan Diego tiba-tiba berhenti mengusap ubun-ubun, ia menarik tangannya kembali dengan
ekspresi wajah datar. “Jadi yang takutkan kehilangan tempat tinggal dan
pekerjaan?”
pada Diego. Senyuman kaku yang coba dia perlihatkan membuat ekspresi Diego
semakin masam. Dengan wajah kesal, ia menggerakkan kursi rodanya hendak
meninggalkan Aishe.
Namun sebelum pria itu bergerak maju ke depan, Aishe buru-buru berdiri dan menghentikan kursi
rodanya. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan sambil mengangsurkan tangannya
menyentuh kedua pipi Diego. Lalu ... sebuah bibir mendarat dengan lembut,
menyapa bibir tipis Diego dan dengan brutalnya masuk ke dalam tanpa permisi. Serangan
tiba-tiba dan tidak tahu malu yang di lakukan Aishe membuat hormon testosteron dalam
tubuhnya meningkat.
Diego menarik pinggang Aishe hingga membuat dirinya jatuh dalam pangkuan Diego tanpa
melepaskan kecupan hangat yang perlahan berubah menjadi panas. Semakin panas,
__ADS_1
tetapi tidak berhasil membakar keduanya dalan ruang rapat yang di jaga oleh Rehan
dan Ashan.
“Kau semakin liar sekarang!” kata Diego begitu keduanya melepaskan panggutan maut.
“Saya
belajar dari Anda, Tuan. Lagi pula, Anda tidak mempermasalahkannya bukan?” Aishe
tersenyum sambil menyingkap beberapa helai rambutnya ke belakang telinga.
“Kalau begitu,
kamu berhasil mendapat satu pujian dariku.” Diego mendekatkan bibirnya, perlahan
membuka mulut hendak beradu *ski*l. Namun yang terjadi selanjutnya, justru
gigitan gemas di bibir bawah Aishe.
“Aahh ....”
“Kau belajar cukup banyak dariku.”
“Terima kasih atas pujian Anda, Tuan.”
Dua orang itu masih berada di posisi yang sama, dengan mata saling memandang tidak
mempedulikan sekitar yang memang sepi. Sampai pada akhirnya, Diego memberi tahu
Aishe bahwa Rehan akan berada di sekitarnya selama beberapa hari. Semua itu dia
lakukan untuk mencegah Maximo melakukan tindakan kasar padanya.
“Baik. Setidaknya jangan mengikuti saya selama di kantor. Tidak masalah bukan?”
Diego mengangguk, menyetujui permintaan gadis yang masih duduk di pangkuannya dengan tenang. “Apa
kau mau duduk terus? Aku tidak keberatan kalau kamu mau melanjutkannya di sini!”
Seketika, Aishe berdiri dari pangkuan Diego. Dia sempat membetulkan roknya sebelum
akhirnya pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Diego, justru
memperhatikan punggung Aishe dengan senyumnya.
Ya ampun, siapa naroh madu disini???
Manisnya gak kira-kira.
__ADS_1
Lanjut nanti lagi, othor mau kencan dulu sama babak Burak.
xixixixi