Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 58


__ADS_3

Perkataan Aishe seolah memberi secercah cahaya pada beberapa dewan. Membuat mereka memikirkan


kembali posisi Maximo yang tidak memberi manfaat pada BIN, dan justru


membiarkan performa BIN terus menurun. Pada akhirnya, dua keputusan final


dibuat. Pertama adalah menangguhkan jabatan dan kewenangan Maximo di BIN, yang


ke dua adalah memberikan Diego kesempatan, selama pamannya di tangguhkan.


Tidak banyak dari mereka yang pada awalnya berpihak pada Maximo, justru kini berpihak pada


Diego, terutama tiga orang yang beberapa hari yang lalu di datangi sendiri oleh


Diego berkat laporan kejanggalan keuangan yang di berikan Aishe. Pada intinya, Diego


memanfaatkan laporan itu untuk mengancam mereka dan membuat kapal mereka berbalik


arah.


“Apa yang kau lakukan tadi itu akan menimbulkan konsekuensi yang fatal! Apa kamu


mengerti?” Ashan berkacak pinggang berbicara pada Aishe usai rapat selesai dan


semua orang bubar.


“Iya, aku mengerti dengan jelas.”


“Lalu kenapa kamu tidak bisa mengontrol ucapanmu? Kamu lihat lirikan pria tua itu tadi?


Dia bisa menelanmu bulat-bulat!” Ashan berusaha mengendalikan emosinya yang


hampir meledak-ledak.


Melihat respon Ashan, Aishe hanya bisa menghela napas kasar sambil memandangi pria yang


berdiri di hadapannya. Dia sendiri bukan tidak memahami masalah apa yang


mungkin akan menimpanya kelak. Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka. Diego di


dorong Rehan masuk ke dalam ruangan.


“Berhentilah mengomel. Kau seperti perempuan sekarang!” ucap Diego.


“Tu-Tuan.”


Dua orang itu menoleh, kala mendengar suara Diego yang menggema di ruangan kosong.


“Kalian berdua keluarlah!” ucapnya memerintahkan Ashan dan Rehan untuk meninggalkan


mereka berdua. Setelah kedua pria itu keluar, Diego menyuruh Aishe untuk duduk

__ADS_1


di kursi.


Gadis itu tidak protes atau menolak. Justru dengan patuh menurut duduk di hadapan Diego. Tampak


raut wajahnya berubah setelah Diego datang, seperti ada perasaan takut. Takut jika


pria itu akan memarahinya. Namun, reaksi Diego justru di luar dugaannya.


Dengan lembut, pria itu mengusap ubun-ubun kepalanya sambil tersenyum, membuat Aishe


yang sejak tadi menunduk langsung menegakkan kepalanya dan memandang Diego. Melihat


Diego tersenyum tanpa ekspresi marah membuat Aishe bertanya-tanya dalam hati.


Apa dia sangat marah sampai reaksinya terbalik?



“A-Anda tidak marah, Tuan?” tanya Aishe dengan nada sedikit bergetar.


“Takut aku marah?” Diego masih meninggikan dua sudut bibirnya.


“Sedikit. Jika Anda marah, maka saya akan kehilangan tempat tinggal juga pekerjaan.”


Gerakan tangan Diego tiba-tiba berhenti mengusap ubun-ubun, ia menarik tangannya kembali dengan


ekspresi wajah datar. “Jadi yang takutkan kehilangan tempat tinggal dan


pekerjaan?”


pada Diego. Senyuman kaku yang coba dia perlihatkan membuat ekspresi Diego


semakin masam. Dengan wajah kesal, ia menggerakkan kursi rodanya hendak


meninggalkan Aishe.


Namun sebelum pria itu bergerak maju ke depan, Aishe buru-buru berdiri dan menghentikan kursi


rodanya. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan sambil mengangsurkan tangannya


menyentuh kedua pipi Diego. Lalu ... sebuah bibir mendarat dengan lembut,


menyapa bibir tipis Diego dan dengan brutalnya masuk ke dalam tanpa permisi. Serangan


tiba-tiba dan tidak tahu malu yang di lakukan Aishe membuat hormon testosteron dalam


tubuhnya meningkat.


Diego menarik pinggang Aishe hingga membuat dirinya jatuh dalam pangkuan Diego tanpa


melepaskan kecupan hangat yang perlahan berubah menjadi panas. Semakin panas,

__ADS_1


tetapi tidak berhasil membakar keduanya dalan ruang rapat yang di jaga oleh Rehan


dan Ashan.


“Kau semakin liar sekarang!” kata Diego begitu keduanya melepaskan panggutan maut.


“Saya


belajar dari Anda, Tuan. Lagi pula, Anda tidak mempermasalahkannya bukan?” Aishe


tersenyum sambil menyingkap beberapa helai rambutnya ke belakang telinga.


“Kalau begitu,


kamu berhasil mendapat satu pujian dariku.” Diego mendekatkan bibirnya, perlahan


membuka mulut hendak beradu *ski*l. Namun yang terjadi selanjutnya, justru


gigitan gemas di bibir bawah Aishe.


“Aahh ....”


“Kau belajar cukup banyak dariku.”


“Terima kasih atas pujian Anda, Tuan.”


Dua orang itu masih berada di posisi yang sama, dengan mata saling memandang tidak


mempedulikan sekitar yang memang sepi. Sampai pada akhirnya, Diego memberi tahu


Aishe bahwa Rehan akan berada di sekitarnya selama beberapa hari. Semua itu dia


lakukan untuk mencegah Maximo melakukan tindakan kasar padanya.


“Baik. Setidaknya jangan mengikuti saya selama di kantor. Tidak masalah bukan?”


Diego mengangguk, menyetujui permintaan gadis yang masih duduk di pangkuannya dengan tenang. “Apa


kau mau duduk terus? Aku tidak keberatan kalau kamu mau melanjutkannya di sini!”


Seketika, Aishe berdiri dari pangkuan Diego. Dia sempat membetulkan roknya sebelum


akhirnya pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Sementara Diego, justru


memperhatikan punggung Aishe dengan senyumnya.



Ya ampun, siapa naroh madu disini???


Manisnya gak kira-kira.

__ADS_1


Lanjut nanti lagi, othor mau kencan dulu sama babak Burak.


xixixixi


__ADS_2