Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 132


__ADS_3

Seluruh lampu utama di rumah berlantai dua itu telah padam. Hanya tersisa lampu kecil dengan cahaya temaram yang menerangi beberapa sudut. Juga, lampu di ruang keluarga yang memang sengaja dinyalakan oleh seorang wanita paruh baya, tetapi masih terlihat sangat cantik dengan gestur wajah angkuh khas seorang wanita kaya.


"Aku sudah memberikan kotak kado itu padanya. Sekarang, beritahu aku dimana Deniz!"


Suara lantang Mirey menggema di penjuru ruang, beruntung, suara yang sedikit lantang itu tidak sampai membangunkan para pengurus rumah tangga yang sudah terlelap.


"Jangan bermain-main lagi, Max. Dia kakak iparmu! Tidak bisakah kamu melupakan masa lalu?"


Kening Mirey berkerut, karena jemari tangan yang mencengkram keningnya. Frustasi? Mungkin. Sudah hampir 5 tahun suaminya menghilang. Max selalu berkata jika pria yang sangat disayanginya itu berada dalam cengkramannya. Sehingga Mirey dengan gila rela melakukan apa pun yang Max ucapkan. Namun, lagi-lagi itu hanya bualan kosong.


"Lagi lagi kau menipuku, Max!"


Dengan sekuat tenaga Mirey membanting ponselnya ke lantai, hingga ponsel itu hancur begitu saja. Sudah sampai sejauh ini, Mirey bahkan belum bisa mendapatkan informasi apa pun tentang suaminya. Dia sendiri sudah mengerahkan agen rahasia untuk mencari, tetapi tidak membuahkan hasil.



"Dia mengingkari janjinya lagi, Ibu?"


Suara samar yang cukup familiar berhasil membuat Mirey menoleh. Matanya dengan fokus menatap seorang pria yang berdiri di lorong. Sebagian wajahnya tersorot lampu, namun sebagian lagi tertutup oleh kegelapan.


Mirey sekonyong-konyong berdiri. Berusaha menatap dengan jelas wajah pria yang suaranya mirip dengan sang anak. Namun, bagaimana bisa anaknya yang lumpuh itu bisa berdiri tanpa kursi roda?


Diego perlahan melangkahkan kakinya ke depan mendekati Mirey yang terbengong. Kini, wajah Diego sepenuhnya diterangi oleh cahaya lampu, dan akhirnya Mirey yang diam itu cukup terkejut hingga mulutnya menganga.


"Ya … ya tuhan. Ka-kau bisa berdiri, Nak?"

__ADS_1


Mirey seakan melupakan apa yang sudah terjadi beberapa menit yang lalu, karena fokus dengan keadaan sang anak. Tangannya terulur, meraih dua pundak anaknya dengan sorot mata yang menelisik memandangi seluruh tubuh Diego.


Kedua tangan itu tiba-tiba turun, ingin meraih dua telapak tangan Diego. Namun tangan kanannya terhenti saat merasakan lengan kiri Diego yang basah. Buru-buru ia menarik tangan kanannya, untuk melihat apa yang membuat tangannya basah.


Dan betapa terkejutnya Mirey saat melihat tangan indah nan cantik itu berlumuran dengan darah. Dia bahkan sempat menarik mundur kakinya hingga terpelantuk sofa dan jatuh duduk di atasnya.


"Kenapa terkejut, Bu?" Diego sedikit memiringkan kepalanya untuk sesaat dengan sorot mata tajam menatap Mirey. "Ini adalah perbuatanmu!"


Mirey mengerutkan kening dan mendongak ke atas menatap sang putra yang kini telah tumbuh dewasa. "A-apa maksudmu, Nak. Bagaimana mungkin ibu –"


Tentu saja Mirey tidak mengetahui jika Max sudah menjadikannya umpan sama seperti Malva. Hanya saja, Diego sudah jelas akan membunuh Malva tanpa ampun, sedangkan Mirey … bagaimana dia menangani ibunya sendiri?


Diego menghela napas panjangnya, lalu duduk di sofa yang berada di depan Mirey. Tenaganya sendiri sudah habis terkuras lantaran pertarungan sengit dengan anak buah Max dan kini, ia tidak lagi punya tenaga untuk berdiri.


"Benar saja, untuk apa dia memberitahu ibu jika isinya hanyalah sebuah petasan yang bisa membunuh anaknya. Aahh … itu pasti hanya sebuah mainan anak-anak bukan?"


Mirey dengan cepat berdiri dan mengelak. "Itu hanya sebuah kado atas kembalinya jabatan Presdir milikmu, dan itu dari pamanmu, bagaimana bisa itu membunuhmu!"


Perkataan Mirey jelas sudah menyulut amarah Diego. Pria itu bahkan tidak habis pikir, bagaimana bisa sang ibu menganggap itu semua hanyalah kado ucapan selamat?


Dengan satu hentakan kaki, Diego kembali berdiri. "Kado ucapan selamat sampai bisa membunuh anak dan menantumu sendiri? Apa kau masih waras, Ibu! Kau tidak bisa melihat darah anakmu yang masih basah itu menempel lekat di tanganmu!"


Urat-urat di leher Diego terlihat dengan jelas. Suara seraknya menggema di seluruh ruang. Dia seperti tidak peduli lagi dengan status pernikahan dan kesembuhan kakinya, karena ia sudah memutuskan untuk mulai membalas perbuatan Max secara terang-terangan.


Perkataan barusan seperti serangan terakhir yang dia luncurkan untuk Mirey. Tubuhnya sempat terombang-ambing, dan pada akhirnya tumbang karena kehabisan tenaga.

__ADS_1


Bertung, Rehan sudah mengantisipasi dan selalu mengawasinya meski sudah dilarang sebelumnya. Sehingga, dia bisa cepat berlari dan memapah Diego.


"Tu-tuan!"


Beruntung, Diego hanya kehilangan tenaganya saja dan masih berusaha untuk tetap terjaga. Rhan buru-buru membawa Diego pergi. Namun sebelum dia melangkan, Rehan sempat menoleh, menatap wajah Mirey yang sepertinya cukup shock.


"Ayah pikir itu adalah hadiah tulus dari nyonya untuk Tuan Diego, sehingga dia setuju dan membawanya tanpa ragu," ucap Rehan dengan nada cukup sopan.


"Namun, hadiah itu justru –hampir– membunuh kami semua dan berhasil menewaskan Bibi Nie," lanjut Rehan tanpa memperdulikan respon Mirey.


"Satu hal yang harus Anda tahu, Nyonya. Tuan Besar Deniz tidak berada di tangan Paman Max. Andai itu benar, Paman Max jelas akan datang dengan surat pemindahan ahli waris keluarga Gulbar. Atau, surat cerai kalian!"


Perkataan Rehan rupanya berhasil mengoyak hati dan perasaan Mirey. Pikirannya berkecamuk setelah mendengarnya. Tentu saja, karena perkataan Rehan jelas cukup masuk akal.


Degh!


Mirey kembali jatuh terduduk dengan tatapan kosong melihat lurus ke depan. Sedangkan Rehan tanpa memperdulikan Mirey pergi memapah tubuh Diego yang mencoba bertahan dan keluar dari mansion secepat mungkin.



Yokk tebak menebak lagi ...


Kira-kira, ada kisah apa diantara Mirey sama Max? dan kenapa Rehan tau?


Jawab langsung di komen 💋💋

__ADS_1


__ADS_2