
Dua orang pria itu masih diam terpaku. Sedangkan dalam pikiran Aishe justru meracau tak menentu. Ada banyak hal yang dia pikirkan termasuk seorang janin yang ada di dalam perutnya.
"Tidak ada waktu lagi. Cepat bawa istrimu ke mobil. Aku akan membawanya ke rumah sakit!"
Diego dengan cepat membawa Aishe kembali ke mobil, dan membiarkan pria bernama Mustafa itu membawa kekasihnya. Sedangkan ia mengikuti di belakang.
Mustafa Ibran, begitulah pria berumur hampir 55 tahun itu disapa. Sepuluh tahun lalu, dia kehilangan sang istri lantaran menyelamatkan sahabat baiknya, Deniz Gulbar, yang tidak lain adalah ayah dari Diego.
Setelah kematian sang istri, dia membangun setidaknya 1 rumah sakit setiap tahunnya dan sekarang ada 10 rumah sakit yang tersebar di seluruh Turki. Seluruh rumah sakit itu tidak membebankan biaya sedikitpun untuk mereka yang tidak mampu.
Tidak heran, jika dia sering membawa seseorang yang terbaring sakit di jalanan untuk berobat gratis di rumah sakitnya. Tentu hal ini menjadi kesempatan bagi Diego untuk bisa mengantar Aishe ke rumah sakit dengan tenang.
Seorang suster terlihat bersiap dengan brankar di depan Instalasi Gawat Darurat, lantaran jauh sebelumnya Mustafa sudah menghubungi mereka untuk bersiap.
"Dia pendarahan, usia kehamilannya sekitar 6 sampai 8 minggu. Panggil dokter Zehra untuk memeriksanya." Mustafa berbicara sambil membuka pintu mobilnya disisi Aishe duduk, lalu melihat dua orang perawat membantu Aishe naik ke atas brankar.
"Baik, Tuan!" Perawat bersiap membawa Aishe, namun sebelum mereka bergerak, Mustafa berpesan sesuatu.
"Katakan pada Zehra, dia anakku. Jadi pastikan dia menolong calon cucuku!"
__ADS_1
Anak? Bukankah Tuan Ibran hanya punya satu anak laki-laki? "Ba-baik, Tuan!"
Mustafa hanya diam di depan mobilnya, memperhatikan Aishe dibawa oleh ketiga perawat andalannya masuk ke dalam. Saat dia berdiri, seorang pria bertopi berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.
"Aku berhutang banyak padamu, Paman." Suara Diego terdengar samar dari balik topi yang menutupi setengah wajahnya.
"Kamu memang berhutang banyak, Nak. Jangan lupa, bayar itu pada anak dan istrimu!" Mustafa melangkah masuk ke dalam untuk mengetahui kondisi Aishe. Sedangkan Diego masih berdiri disana dengan senyum tipis di wajahnya.
Aku akan membayarnya, Paman. Untuk nyawa ayahku, juga istri, dan anakku.
Rumah sakit yang di bangun atas nama pribadi itu terlihat cukup ramai. Banyak diantara mereka yang datang adalah seorang tunawisma, atau seorang perantau yang belum mendapat pekerjaan dan dirundung sakit.
Hebatnya dari rumah sakit karena mereka tidak membedakan pasien, semua di sana sama, antara mereka yang membayar atau berobat gratis. Semua pelayanan, baik obat maupun tindakan, dilakukan sesuai dengan tingkat emergency pasien dan standar.
"Pendarahannya sudah diatasi, janinnya juga tidak masalah. Anda tidak perlu cemas, Tuan. Hanya saja, untuk sementara ini dia harus mendapatkan perawatan," jelasnya singkat.
"Tidak masalah, rawat dia."
Dari balik tirai yang tidak sengaja tersingkap, Diego memperhatikan dengan diam-diam dari jarak jauh. Melihat kekasihnya itu sudah lebih baik, dia pun melangkah pergi keluar untuk menghubungi seseorang.
"Ambilkan aku dokumen di kantor!" ucapnya singkat lalu mengakhiri panggilan begitu saja.
__ADS_1
Setelah mengurus beberapa berkas. Aishe dipindahkan ke salah satu ruangan VVIP yang dipilih sendiri oleh Mustafa. Ruangan itu terlihat cukup besar, lengkap dengan ranjang pasien dan sofa bed.
Diego terlihat masuk dengan membawa sebuah map berwarna putih dan paper bag. Dia sempat meletakan map putih di atas meja, sebelum akhirnya ia pun duduk di sebelah Mustofa. Ia mengambil secangkir coffee dari dalam paper bag, lalu menaruhnya di depan pria tua itu.
"Minumlah, anakmu yang membawakan ini."
"Dia selalu tahu apa yang disukai ayahnya." Mustafa tersenyum tipis, melihat nama yang tertera di paper bag adalah coffe shop langganannya.
"Kau belum memberitahu dia?" tanya Mustofa sembari mengambil paper glass berisi kopi panas.
Diego menggeleng kepalanya perlahan. Sorot matanya tidak lepas dari Aishe yang tertidur dengan selang transfusi darah di lengan kanannya.
"Lalu untuk apa kau meminta Rehan mengambil dokumen itu?" Mustafa mengamati Diego yang terlihat sangat mencemaskan Aishe. Hanya dengan itu, dia bisa tahu sedalam apa Diego mencintai Aishe. "Kau ingin mengatakannya sekarang?"
Hela napas Diego terdengar berat. Entah apa yang ada di dalam pikirannya pada saat itu.
"Pertarungan keluarga Gulbar sudah menelan banyak korban. Jangan sampai kehilangan orang yang kau sayangi lagi." Mustafa bangkit berdiri, lalu perlahan pergi dengan kaki tuanya.
Penasaran, berkas apa yang di bawa Diego? Alasan Mustafa panggil Aishe istrinya babang Die?
__ADS_1
Yok kopinya dulu, sekebon mawar juga boleh.
Votenya juga diterima kok ðŸ¤ðŸ¤