
"Tuan, tamu Anda sudah pergi!" ucap Aishe setelah melepas pagutan bibirnya.
"Dimana? Aku tidak melihat ada tamu." Diego masih mengeratkan tangannya di pinggang Aishe, seolah enggan melepaskan meski dia tahu bahwa Malva telah pergi.
"Desahaannya terdengar cukup merdu. Apa Anda masih tidak mendengarnya?"
Diego menyingkap rambut Aishe menjadi satu, kemudian mengarahkan semua rambut ke sisi kanan. Lalu, mengecup leher jenjang Aishe yang terlihat menggiurkan, hingga gadis itu mendesis lirih.
"Kau cemburu, Sayang?"
Kedua tangannya tiba-tiba berpindah arah. Masuk dari bawah kemeja dan mengerayang bebas ke atas. Meremas daging kenyal yang padat berisi milik Aishe, hingga melepaskan desahann bebasnya.
"Tenang saja, aku masih terpesona dengan desahaan milikmu." Godanya tanpa melihat wajah Aishe yang semakin memerah.
"Rupanya, Anda cukup pandai membual ya?"
Diego menaikkan satu sudut bibirnya, bersamaan dengan itu, dia menaikkan juga kemeja Aishe ke atas. Lalu, melepas underwear yang menyimpan dua buah kenyal yang sudah ranum dan mulai mencicipinya. Menjilat ujungnya, dan menyesapnya dengan lembut.
__ADS_1
Aahh … uummgh ….
Lelungannya terdengar, tetapi cepat-cepat ia tahan dengan mengulum bibirnya ke dalam. Tindakan Aishe rupanya tidak membuat Diego senang. Pria itu dengan lembut mengusap bibir Aishe, dan membuat bibirnya terbuka agar ia bisa mendengar setiap desahaan yang keluar.
"Tuan …." Panggilan lembutnya berhasil membuat Diego melepaskan benda kenyal yang sejak tadi dicecap.
"Kenapa? Kau menginginkannya?"
"Anda baru saja bersenang-senang dengan tamu, pasti cukup lelah."
"Oh …." Aishe masih terlihat cuek, seakan tidak percaya dengan ucapan Diego.
"Selain pencuri kecil, kamu juga ratu pencemburu!" Godanya sambil memegang kedua pipi Aishe dan membuat gadis itu menatapnya.
Aishe mendengus, lalu bangkit berdiri membetulkan bajunya sambil berkata. "Saya lapar. Saya akan pulang lebih dulu dan menyiapkan makan malam," ucapnya terdengar ketus.
__ADS_1
"Tidak perlu masak. Ayo! Akan ku tunjukan tempat bagus dan makanan enak!"
Diego menggerakan kursi rodanya keluar lebih dulu dan disusul Aishe yang berjalan di belakangnya. Ini adalah pertama kalinya, Diego dan Aishe berjalan bersama keluar dari kantor. Sehingga, tidak sedikit orang yang menggunjing atau mencemooh dirinya.
Untuk apa peduli dengan ucapan mereka? Semua yang mereka ucapkan memang benar, aku memang menggoda dia, tapi bukan untuk jabatan.
Aishe melenggang begitu saja meski dia mendengar semua cemooh itu. Dengan santai, tanpa beban, berjalan melewati beberapa pasang mata yang masih memelototinya meski ia sudah memasuk ke dalam lift.
"Mereka cukup berisik. Aku akan menyuruh Ashan menutup mulut mereka besok," ucap Diego tiba-tiba yang rupanya mendengar semua perkataan mereka.
"Tidak perlu, Tuan. Semua yang mereka ucapkan memang benar." Aishe menanggapi dengan santai.
"Kau tidak keberatan?" Diego menoleh memandangnya.
"Mereka membicarakan kebenaran, untuk apa saya keberatan? Dijelaskan seperti apapun juga percuma. Mereka sudah terlanjur tidak suka, jadi sekalipun saya benar, juga tidak akan mengubah rasa tidak suka mereka."
Pandangan Aishe lurus ke depan, menatap pintu lift yang sudah tertutup. Sedangkan Diego, justru terus melirik gadis itu. Sorot mata Aishe cukup tegas, tidak mencerminkan keraguan sedikitpun. Membuat hati Diego diam-diam tergugah, ia meraih tangan Aishe dan menggenggamnya.
__ADS_1
"Jadi kau tidak perlu menjelaskan padaku, karena aku sudah suka," ucapnya santai, membuat Aishe langsung menoleh memandang Diego.