Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 67


__ADS_3

Bunga poppy atau disebut juga opium, menjadi tanaman yang dikenal sebagai pahlawan. Tanaman ini dapat tumbuh di berbagai daerah dan hampir ada di seluruh dunia. Dalam dunia pengobatan, bunga ini dikenal dengan racun alkaloid-nya. Selain itu Moerfin di dalamnya sering menyebabkan halusinasi layaknya konsumsi narkoba.


Walau dikenal sebagai tanaman yang bisa berfungsi sebagai obat, opium tetaplah racun yang jika digunakan terus bisa menyebabkan ketergantungan. Dosis besar dari opium dapat menyebabkan keracunan, bahkan mencium uapnya saja bisa membuat seseorang berhalusinasi hingga meninggal. Masalah pernapasan akut, koma, jantung berhenti dan paru-paru rusak adalah efek samping opium yang dapat menyebabkan kematian.


Lantas, kenapa Diego menyebut Aishe seperti bunga poppy?



Wajah Aishe berubah lesu ketika mendapati sup di dalam pancinya sudah tidak terselamatkan. Dengan memasang wajah memelas, ia berbalik menatap Diego yang masih duduk di kursi rodanya.


"Sudah tidak selamat!" ucapnya kecewa.


Diego menggerakkan kursi rodanya meraih tangan Aishe. Dengan lembut dan senyum merekah, dia berkata, "Aku akan menyuruh Ashan membeli sarapan."


"Tapi sup kalkun paling enak dimakan saat musim dingin seperti ini." Aishe masih kecewa meski Diego berusaha membujuknya dengan manis.


"Kata siapa?" sahut Diego membuat Aishe kebingungan.


"Musim dingin paling enak memakanku!" lanjutnya to the point tanpa basa basi.


Aishe yang langsung mengerti arah pembicaraan, langsung menepis tangan Diego. Kedua pipinya merekah merah, dan ia ingin segera menyembunyikannya.


"Wah, saya tidak tahu kalau Anda se-binal ini!"

__ADS_1


"Hentikan gaya bicara formal mu itu, atau aku akan menghukummu!" Diego sedikit mengerutkan kening, menunjukkan wajah tidak sukanya.


Melihat raut wajah itu, entah kenapa Aishe justru menjahilinya. "Oh ya? Bagaimana Anda akan menghukumku?" katanya lantang sambil berkacak pinggang.


Dua sudut pipi Diego terangkat, dengan sedikit kasar, ia menarik punggung Aishe ke depan hingga perut gadis itu berada tepat di depan wajahnya.


"Seperti ini!" Kedua tangannya dengan lincah menerobos masuk lewat bawah sweater, terus merangkak naik dan menggelitik punggung Aishe. Sedangkan tangan kirinya menaikkan sedikit sweater putih dan meniup perutnya.


Dua bagian itu adalah titik sensitif yang paling di suka Diego. Hanya menyentuh dengan jemari saja, sudah bisa membuat Aishe menggeliat sambil mendesaah manja.


"Aahh – hentikan, Die!" rengeknya memohon sambil mendorong pundak Diego.


"Call me Baby, Honey – Balim," pinta Diego mencoba berkompromi.


"Oke, baik. Hentikan dulu, itu menggelikan! Aahh." Aishe meremas kuat pundak Diego sembari menggeliat geli. "Baby, stop please!" pintanya memohon tetapi Diego masih belum puas bermain.


Setelah mendengar itu, barulah Diego berhenti. Dia mendongak ke atas, melihat Aishe sudah menutupi separuh wajahnya dengan lengan kanannya.


"Biarkan aku melihat wajahmu!" Diego menarik tangan yang sejak tadi menutupi wajah Aishe, tetapi gadis itu dengan gigih mempertahankan posisinya.


"Tidak mau! Jangan melihatku!" Aishe menutup mata Diego agar tidak melihat wajahnya.


"Aku menyukai wajahmu yang keenakan!" Godanya dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Bukan! Aku, aku cuma malu!" elak Aishe.


Diego menyingkirkan tangan Aishe yang menutup matanya. "Sama saja," ucapnya gigih enggan mengalah.


Aishe pun juga tidak mau mengalah, dia tetap bersikeras jika kedua hal itu tidak sama. Tidak ada yang memisah perdebatan di antara mereka berdua, meski raut wajah mereka tidak menunjukkan emosi. Sampai ….


Krucuk


Alarm perut Diego membuyarkan perdebatan dan mengawali tawa renyah mereka. "Aku akan membuat roti bakar. Cepat hubungi Ashan dan memintanya membeli sup ayam kalkun."


Aishe berbalik dan kembali menyiapkan sarapan sederhana di dapur. Sedangkan Diego, ia menjalankan kursi roda otomatisnya pergi ke ruang tengah menghubungi Ashan.


"Bawakan sup ayam kalkun dari restoran Klie! Sebelum jam 1 harus sudah sampai!" ucap Diego ketika berbicara dengan Ashan.


"Su-sup ayam? Tuan, laporan saya banyak sekali dan ini ...." Belum sempat Ashan menjelaskan, Diego sudah memotong kalimatnya.


"Serahkan pada Rehan! Kau pergi sekarang ke Klie atau pergi ke perbatasan Yordania. Kebetulan komandan ke 11 butuh bantuan!"


"Ahaha. Restoran Klie menurut saya lebih dekat, Tuan. Saya akan berangkat sekarang!" Ashan mengakhiri panggilan sambil mencengkram kuat rambutnya, gemas karena Diego kembali memberinya perintah seperti itu sejak mengenal Aishe.


Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika mereka berdua menjadi sepasang kekasih, atau ... suami-istri?


__ADS_1


Masih belum bosen kan sama ke-uwuan mereka?


Bab selanjutnya agak mendebarkan penuh emosi soalnya 🤣🤣


__ADS_2