
Selain teriakannya yang menggelegar, hentakan dari kedua kaki Diego juga memenuhi lorong rumah sakit. Hal itu jelas membuat Mirey yang berdiri di depan pintu tersulut emosi. Menantunya sedang menahan sakit di dalam, sedangkan suaminya justru berteriak-teriak mengganggu kenyamanan.
Dari jauh, Diego bisa melihat mirey berdiri dengan bersedekap tangan. Sorot mata wanita paruh baya itu begitu tajam hingga membuat tubuh besar Diego menggiding takut. Namun, perasaan cemas yang melampaui segalanya.
Sambil mengatur napasnya, dia bertanya pada Mirey, “Di-dimana dia?”
“Kau sekarang peduli pada istrimu?” ketus Mirey jengkel dengan putranya.
“Bu … Oh ayolah!” Diego mencoba menoleh ke sebelah kanan. Menatap pintu yang sedang tertutup sambil menebak-nebak.
“Dia pasti di dalam kan?”
Setelah mengatakan itu, Diego buru-buru menerobos masuk. Kedua matanya langsung tertuju pada sang istri yang tengah berbaring dengan perut besarnya. Buru-buru ia menghampiri wanita yang amat ia cintai itu, dan langsung menggenggam tangannya.
“Maaf. Maaf.”
Jelas-jelas ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Namun saat Diego menatap wajah pucat sang istri, dia tahu bahwa pergi tanpa ponsel adalah tindakan yang salah.
“Tidak, Die. Dia memang sudah waktunya datang untung melihat kita.” Dua sudut bibirnya terangkat. Diego jelas melihat senyuman sang istri, tapi entah mengapa, senyuman itu tidak seperti sebuah senyuman.
Melihat Diego sudah datang, mereka yang ada di ruangan pun satu persatu berbalik pergi. Mereka pikir, Aishe dan Diego akan butuh waktu berdua untuk mengobrol bersama.
“Apa kata dokter? Apa kau kesakitan?”
“Dia akan segera keluar, jadi wajar jika itu sedikit menyakitkan,” terang Aishe mencoba untuk tidak membebani sang suami. Namun bukan Diego jika dia tidak tahu istrinya sedang menyembunyikan sesuatu.
“Kamu tidak perlu menahan segala sesuatunya, Sayang. Pilih apa yang membuatmu nyaman. Jangan pernah siksa dirimu, aku mohon.” Diego mengecup tangan Aishe, kemudian meletakkan kepalanya disana.
Air mata yang tertahan sejak tadi, rasa sakit menyiksa yang coba dia sembunyikan di hadapan semua orang. Perasaan gugup yang tidak bisa dijelaskan. Pada akhirnya, Aishe bisa mengekspresikannya dengan bebas setelah mendengar kata-kata dari suaminya.
Bersamaan dengan dua garis sudut bibirnya yang terangkat, cairan bening dari matanya pun keluar. Mengalir dengan perlahan, membuat basah area yang dia lewati.
Aishe mengangkat tangan kirinya, mengusap air mata yang keluar. Lalu berpindah ke kepala sang suami. Gerakan lembutnya membuat Diego lekas menoleh memandang wajah Aishe.
Ya, hanya saling memandang, tanpa ada kalimat yang terucap. Kedua mata Diego terlihat begitu fokus, tidak ingin teralihkan dari wajah Aishe. Meski sesekali dia mengecup tangan istrinya, kedua mata itu tidak lepas dari wajah Aishe.
__ADS_1
“Tidurlah jika lelah,” ucap Diego tiba-tiba.
“Tidak, aku tidak mengantuk.”
“Dasar keras kepala. Tidurlah, kamu harus istirahat dan mengumpulkan tenaga.”
Setelah dipikir-pikir, perkataan Diego memang ada benarnya. Dia harus istirahat dan menyimpan banyak tenaga untuk persalinannya. Pada akhirnya, dia pun menurut tanpa ada protes lagi.
Tidak sampai satu menit, Aishe berhasil terlelap. Entah, seberapa besar rasa kantuk dan lelah yang coba dia tahan sejak tadi.
Melihat istrinya tidur pulas, Diego tak lekas tidur. Dia justru terus memandangi wajah sang istri, memperhatikan setiap alisnya yang mengerut akibat merasakan kontraksi. Namun itu tak lama, hanya sepersekian detik. Mungkin, itu hanya rasa sakit yang sebentar, pikirnya.
Sampai setidaknya satu jam berlalu. Wajah Aishe terlihat begitu pucat dengan kening yang berkeringat. Dengan mata yang ditutup rapat, bersamaan bibir bawah yang dia gigit, membuat Diego panik hingga akhirnya menanyakan sesuatu.
“Katakan saja jika itu menyakitkan.”
Aishe membuka matanya perlahan, dengan tarikan napas beratnya selama beberapa kali, ia mengangguk pelan. Diego buru-buru memencet bel yang ada di atas ranjang beberapa kali untuk memanggil perawat.
Lantaran tidak sabar menunggu, Diego berniat memanggil mereka secara langsung, tetapi sebelum pergi, Aishe menarik tangannya dengan kuat.
“ASHAN! AYAH, IBU!”
Teriakan yang begitu menggelegar, membuat mereka buru-buru masuk ke dalam.
“Panggilkan Dokter Ana segera!”
Mirey dan Deniz masih tertegun saat melihat rona merah yang membasahi sprei putih. Sedangkan Ashan buru-buru keluar dan memanggil dokter.
Kedua tangan Mirey gemetar hebat. Bayang persalinannya berpuluh-puluh tahun silam tergambar jelas di ingatannya. Melihat Mirey yang cemas, Deniz dengan cepat meraih tangan Mirey.
“Kamu harus bisa. Dia sangat membutuhkanmu untuk berada di sampingnya.”
Mirey menjatuhkan tasnya di lantai, lalu melangkah dengan gugup mendekati Aishe yang mulai merintih menahan rasa sakitnya.
Noda merah di atas ranjang, sudah dipastikan itu darah segar yang baru saja keluar. Rintihan dari menantu yang bisa di dengar jelas. Semua pemandangan itu terasa menyiksa batin.
__ADS_1
Namun Mirey harus bisa menahannya. Aishe sudah tidak punya ibu yang memberinya dukungan, dan hanya Mirey yang bisa memberinya dukungan dengan semangat. Alasan itulah, yang pada akhirnya membuat Mirey sampai di samping Aishe dan memegang tangannya.
Tidak lama setelah itu, Dokter Ana datang. Buru-buru dia memeriksa, apakah sudah pembukaan lengkap, dan ternyata itu sudah terjadi. Dokter sepertinya sudah tidak heran jika Aishe hanya perlu 1 jam saja untuk mencapai pembukaan lengkap.
Dokter pun meminta perawat untuk memanggil dokter anak, mensterilkan ruangan dengan menyuruh beberapa orang untuk keluar, juga menyiapkan alat-alat yang akan dibutuhkan.
Selain itu, dokter juga memberi penjelasan singkat pada Aishe untuk menghadapi persalinan yang benar.
“Atur napas panjang, jangan menariknya pendek dan cepat. Anda hanya boleh mengejan saat saya memberi aba-aba.”
Selain memberi penjelasan pada Aishe, Dokter juga memberi penjelasan pada Diego dan Mirey yang berada di sisi kanan-kiri Aishe. Setelah semuanya siap, dokter Ana pun segera memandu persalinan.
Aishe berusaha menarik napasnya sesuai dengan perintah dokter. Napas panjang dan berirama dengan intonasi 1-2 selama beberapa saat. Hingga, dokter Ana memberi kode untuk segera mengejan.
Keringat mulai mengucur dengan deras, bersamaan dengan darah yang keluar saat Aishe mulai mencoba mendorong kepala bayi agar segera keluar. Nanun, melahirkan tanpa air ketuban itu begitu sulit. Amat sulit hingga Aishe pun kehabisan tenaga dan pingsan.
Panik, sudah pasti.
“Ishe … Ishe … bangun ….”
Aishe tidak merespon. Dari sisi kanan, Diego bisa melihat wajah sang istri yang pucat bagai mayat. Tangan yanh dingin tanpa ada kehangatan.
Siapa yang tidak menggila pada saat itu? Apalagi seorang Diego Gulbar yang mempunyai pengendalian emosi buruk
“LAKUKAN OPERASI SEGERA! KELUARKAN BAYI ITU DENGAN CEPAT!”
Suaranya begitu lantang dan nyaring, membuat siapapun yang ada di ruangan terpaku penuh rasa takut.
“Jangan … jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon."
...☆TBC☆...
Rasanya di cut pas adegan tegang sama Othor itu gimana guys??? 🤭🤭
__ADS_1