
Namanya adalah Mirey Gulbar. Seorang wanita yang 32 tahun lalu melahirkan Diego dengan pertaruhan nyawa. Dia sempat koma setidaknya 10 tahun setelah itu, karenanya, Mirey tidak diperbolehkan untuk hamil lagi, membuat Diego menjadi satu-satunya pewaris dari generasi ketiga. Alasan itu juga yang membuat Diego segan jika berurusan dengannya.
Wanita itu baru menginjak usia 55 tepat pada musim panas tahun ini. Meski usianya sudah cukup tua, tetapi ia cukup selektif dalam urusan perusahaan. Tidak pernah hadir dalam rapat bukan berarti tidak menjadi bagian yang penting, karena statusnya sebagai anggota dewan tidak mengharuskan dia untuk hadir dalam rapat. Namun, satu suaranya cukup berpengaruh bagi jalannya perusahaan. Seperti saat ini.
Diego kembali menundukkan kepalanya, membuat dua orang yang masih menyimak jalannya video call menatapnya dengan heran. Sampai pada beberapa menit, ia melihat ponselnya.
"Siapkan pesawat, besok aku akan pergi ke Adana!" ucapnya masih fokus menatap ponsel, entah melihat apa.
"Tuan ingin menemui nyonya?"
"Em, urus juga si Gemuk Rat itu!" Diego meletakkan ponselnya, lalu menatap layar. "Rehan, jaga Aishe selama aku pergi!"
Degh!
Bukan hanya Rehan yang terkejut, melainkan Eraz, dan juga Ashan pun terkejut bukan main. Bagaimana tidak, meski Rehan sendiri mendoakan kebahagiaan Diego dan Aishe, tetapi dua orang itu belum mengetahuinya. Jelas saja jika mereka terkejut dengan perintah Diego.
"Tuan, Anda tidak salah?" Ashan setengah berbisik.
__ADS_1
"Tidak. Kau pernah melihatku ragu ketika mengambil keputusan?" Diego melirik untuk sesaat, lalu kembali fokus menatap laptop.
"Aku akan pergi selama dua hari terhitung sejak besok dan kembali lusa. Sementara, Eraz akan memantau perusahaan dengan Ashan, dan Rehan tetap pada perintah!"
"Ada beberapa dokumen yang sudah aku kirim pada Eraz dan Emil, untuk masalah ini kalian koordinasikan bagaimana agar mereka bisa berpihak pada kita. So …."
Diego memutar kursi kerjanya menghadap deretan buku yang tersusun rapi di rak. "Rapat kita selesai!" ucapnya kemudian.
Dia menyamankan sandaran punggungnya, kemudian menutup mata. Sedangkan Ashan, ia duduk di sofa dan langsung melanjutkan beberapa laporan.
Baru sebentar Diego memejamkan mata, suara ketukan tiba-tiba terdengar dari luar. "Masuk!" seru Ashan.
"Ada apa dengan dia?" Aishe memelankan suaranya setelah melihat Diego yang menutup mata menghadap deretan buku.
"Tuan? Mungkin sedang lelah." Ashan menerima nampan yang Aishe sodorkan.
Lelah? Tidak mungkin karena menghabiskan beberapa menit dengan Tari (Tangan kiRi) kan?
Rasa penasaran mulai merundung perasaannya, dia pun mencoba mendekat dengan berjalan mengendap. Setelah cukup dekat, wanita itu dengan nekat mulai mengamati wajah Diego. Dijelajahinya wajah pria itu menggunakan jari telunjuknya, mengikuti bentuk kening, hidung, hingga bibir.
__ADS_1
Dia memang tampan.
Tiba-tiba saat jari telunjuk itu turun melewati dagu dan sedang berjalan di leher, Diego dengan cepat meraih tangannya.
"Jangan memancingku!" serunya.
Kedua mata dengan bulu lebat nan hitam perlahan terbuka, menatap Aishe yang sedang diam terperangah. "Kau selalu memancing tapi tidak menyelesaikannya!" lanjut Diego.
Aishe merasa tidak terima, dia buru-buru menarik tangannya kembali dan membuang muka. "Siapa yang tidak menyelesaikan? Kamu yang memulai dulu!" protesnya di akhiri dengusan kesal.
"Kalau begitu …." Diego menarik tangan Aishe dengan sengaja agar dia bisa mendekat. "Mari kita menyelesaikannya," bisiknya tepat di telinga Aishe, membuat pipi gadis merona merah.
Ya udah hayok di selesaikan, Bang.
Mumpung udah malem juga.
Yang penting sajen sama kopi dari readers masih di tunggu babang Die 💋💋💋
__ADS_1