Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 140


__ADS_3

Malam hari ini begitu tenang, ombak tak terlalu riuh, gemerlap cahaya bintang semerbak di langit, begitu juga dengan bulan yang terlihat lebih besar dari biasanya. Di luar, angin pun bertiup semilir, masih membawa udara dingin pergi ke belahan bumi yang lain, tanpa salam perpisahaan.


Deniz yang sempat tertegun, kini justru terlihat menunduk. Keningnya berkerut, hingga hampir mempertemukan kedua alisnya, seperti ada sesal. Perkataan Aishe sepertinya cukup menggoyahkan hatinya, hingga pria itu duduk dengan tenang dan berpikir keras.


Mustafa sendiri hanya ingin membereskan Max dengan cara yang bersih. Mencari semua bukti kejahatannya, lalu mengirim pria itu ke penjara. Hanya saja, sekarang korban semakin banyak yang berjatuhan. Tidak mungkin juga jika dia terus diam seperti ini, terlebih dia memiliki Aishe yang sedang hamil penerus dari BIN, yang kemungkinan akan menjadi target Max.


Dengan kaki tuanya, Mustafa beranjak berdiri. Dia berjalan mendekati Aishe dan meraih tangan anak gadisnya.


"Tenang saja, Nak. Aku akan membereskan ini demi kamu," ucapnya dengan lembut, penuh kesungguhan.


Lalu, dia menoleh memandangi Deniz yang masih merenung. "Jika dia tidak bisa membunuhnya, biar aku sendiri yang membunuh Max!" lanjutnya dengan nada penuh gelora.


Namun Deniz dengan spontan mengangkat kepalanya dan berdiri. Lalu ia memegang tangan Mustafa dan melepaskannya dari tangan Aishe.


"Tidak! Aku yang akan mengakhiri semuanya!" ucapnya dengan lantang sambil menatap tajam melihat Mustafa.


Pelan-pelan ia mengangsurkan tangan, meletakkannya di atas kepala Aishe, lalu membelainya. "Jangan khawatir, aku tidak akan membuat kalian berada dalam bahaya lagi."


Setiap kata yang diucapkan Deniz begitu lembut terdengar di telinga Aishe. Seperti seorang ayah dengan sungguh-sungguh berjanji pada anaknya.


Perkataan Deniz rupanya berhasil membuat dua sudut bibir Aishe terangkat perlahan. Gadis itu mengangguk dengan penuh semangat.

__ADS_1


Namun sayangnya, senyuman itu langsung buyar. Manakala seorang karyawan berlari ke arah Mustafa ingin menyampaikan berita penting.


"Ada apa, katakan saja!" ucap Mustafa melihat pria bertubuh semampai itu seperti hendak menyampaikan sesuatu, tetapi kelihatan bingung saat melihat Aishe dan Deniz.


"I-itu, Tuan. Tuan Muda baru saja mengabari, kalau …." Perkataan pria itu terpotong sesaat, lalu melirik ke arah Deniz dan Aishe yang juga menatapnya.


Akan tetapi, karena Mustafa memberi isyarat berupa anggukan, dia pun dengan berani melanjutkan ucapannya. "Malam ini mereka akan menyerang markas, Tuan."


Semua orang tertegun untuk sesaat, begitu juga Aishe, yang langsung mundur beberapa langkah hingga kakinya terpelatuk kursi roda dan jatuh duduk di sana. Matanya memandang nanar lurus ke depan, tapi percayalah, sorot matanya sudah hilang fokus sejak tadi.


Dia, benar-benar pergi?


Mustafa buru-buru duduk bersimpuh dan menggenggam tangannya, "Tenang, Nak. Dia … dia punya banyak orang-orang kuat di sekitarnya."


Aishe masih diam, matanya masih lurus memandang ke depan, tetapi perasaannya benar-benar kacau.


"Bisakah … kita pergi menyusul mereka?" tanyanya dengan suara lirih dan sedikit bergetar, menahan rasa khawatirnya.


Deniz dan Mustafa saling menoleh bergantian. Sebelum akhirnya, Mustafa menjelaskan lebih dulu posisi kapalnya sekarang.


"Perlu setidaknya 1 hari lebih untuk sampai di Istanbul, Nak. Kita, tidak akan sempat," jawabnya.

__ADS_1


Benar, mereka berada di Laut Tengah sekarang, dan perlu setidaknya 1 hingga 2 hari untuk kembali ke Istanbul. Namun Aishe tidak putus asa dengan mudah. Dia mencoba berpikir dengan keras.


"Berada di mana posisi kapal sekarang? Berikan aku titik koordinat dan peta!" Aishe berbicara pada pria yang memberi informasi pada Mustafa tadi.


"Ba-baik!" Seru pria itu lantang.


"Apa yang mau kau lakukan, Nak?" tanya Mustafa.


"Kita masih belum jauh. Kita bisa pergi ke Izmir menggunakan helikopter. Lalu pergi ke Istanbul dengan pesawat!" Nada bicaranya terdengar antusias, dia bahkan menatap Mustafa dan Deniz secara bergantian.


"Bagaimana menurut kalian? Setidaknya kita hanya memerlukan beberapa jam saja," lanjut Aishe.


Mustafa menoleh menatap Deniz, sedangkan pria itu justru memandang menantunya sambil mengangguk dan tersenyum licik.


Tidak heran jika dia bisa bersama bocah itu. Dia cepat menganalisa keadaan.


...☆TBC☆...



**Bakal ketemu mereka di Bab selanjutnya. Jadi jangan lupa sajen.

__ADS_1


Hari ini othor masih berkutat dengan RS, jadi UP bab selanjutnya kemungkinan agak sore/malem. 💋💋


Harap bersabar 💕💕**


__ADS_2