Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 52


__ADS_3


Rixos Downtown Antalya, salah satu hotel terbesar bintang 5 yang ada di kota. Memiliki bar dengan berbagai konsep, playground, restoran, kolam renang, dan banyak hal lainnya. Salah satu hal yang membuat hotel ini diminati adalah lokasinya yang langsung menyatu dengan pantai dan lautan lepas.


Selain itu, hal lain yang membuat Diego memilih hotel ini adalah saham. Benar, dia secara khusus menanam beberapa sahamnya kemari. Sehingga dia selalu bisa mendapatkan kamar President Suit kapanpun yang dia mau tanpa mendapatkan penolakan.


"Kenapa harus menginap, Tuan?" tanya Aishe yang belum peka terhadap perhatian Diego.


"Kenapa? Kamu keberatan kita menginap?"


"Ti-tidak, bukan begitu. Besok saya masih harus bekerja," jawabnya melirik Ashan yang terlihat menyeramkan, tapi tiba-tiba pria itu menoleh memandangi Aishe dengan wajah tersenyum.


Ahh … senyuman pria bermuka datar memang menyeramkan.


"Istirahat saja sampai perutmu membaik. Merepotkan kalau harus menggotongmu lagi seperti tadi!" jawab Diego yang kemudian meminta Ashan membawanya pergi ke kamarnya.


Setelah Diego pergi, beberapa orang datang mengantar makanan, termasuk teh jahe yang dicampur madu. Konon, teh yang dicampur jahe dan madu dapat meringankan nyeri saat menstruasi.


Salah seorang wanita yang datang sempat berpesan pada Aishe untuk segera menghabiskan tehnya selagi masih hangat. "Itu bisa meringankan perut dan menghangatkannya, Nona."


Benar saja, setelah dia meneguk beberapa, rasa hangat dari jahe seakan menyebar dan membuat perutnya hangat.


Siapa yang menyuruh mereka membuat ini? Manjur sekali, perutku hangat dan tidak sakit.



Di tempat Diego. Seorang pria dengan jas maroon mendorong satu troli penuh makanan masuk ke dalam kamarnya. Eraz yang menjaga pintu, pun langsung membukanya tanpa basa basi.


"Hah, dingin sekali di luar," ucap pria yang baru saja masuk ke dalam kamar sembari mengusap tangannya.

__ADS_1


"Aku lebih suka melihatmu menyamar sebagai cleaning service seperti kemarin. Hahaha." Eraz tertawa terbahak-bahak, tetapi pria itu hanya diam tidak terlalu merespon.


Pria itu dikenal dengan nama Emil, salah satu orang kepercayaan Diego yang menangkap Farhan, juga membawanya ke penjara pribadi Diego tanpa ditentang pihak pemerintah.


Emil merogoh saku, mengambil 2 flash disk dan langsung memberikannya pada Diego. "Mereka orang-orang yang Anda cari."


"Kamu cepat sesuai biasanya." Diego menerima kedua flash disk itu lalu membuka isi di dalamnya dengan laptop yang di bawa Rehan.


Baru sepuluh menit ketika mata berwarna amber itu fokus memperhatikan laptop. Suara dering ponsel tiba-tiba terdengar. Rupanya, dering itu berasal ponsel Emil.


"Katakan!"


Baru beberapa detik setelah dia menjawab panggilan. Emil langsung menatap Diego yang sedang fokus dengan laporan darinya.


"Tuan …." Panggilnya lirih dengan suara sedikit berat.


Diego berdehem, tetapi tidak memandang lawan bicaranya. Sepertinya, laporan Emil sudah mengalihkan setengah konsentrasi pria itu.


Jemari Diego terhenti sesaat, tetapi sorot mata itu masih fokus menatap layar. "IPnya berasal dari sini?"


"Benar, Anda sudah menebak siapa orangnya?"


Diego menatap Emil, lalu menegakkan punggungnya. Satu sudut bibirnya terangkat, memperlihatkan senyum licik yang samar.


"Wanita itu? Tuan, haruskah aku membunuhnya?" Rehan menatap Diego.



Diego bangkit dari kursinya. Dengan santai dia berjalan menatap jendela kaca dengan pemandangan laut lepas. Napasnya ringan, seakan tidak ada beban dan rasa takut apa pun. Padahal, dia sudah bersusah payah menyembunyikan kenyataan tentang hidupnya.

__ADS_1


"Kau masih waspada terhadapnya, Rehan?" ucapnya tanpa menoleh sedikitpun.


"Saya hanya khawatir, dia akan menjadi ancaman atau penghambat kita."


"Tidak! Tidak akan. Apa kau tau?" Diego menoleh, melihat wajah Rehan yang sedikit tegang. "Wanita itu telah membantu kita mengumpulkan banyak bukti tanpa dia sadari."


Sepasang mata itu membulat penuh, seakan terkejut, tapi juga terselip rasa tidak percaya. Namun, Ashan memberinya penjelasan yang gamblang dan dapat dia mengerti.


Rupanya, tanpa di sadari Aishe, dia telah memberi informasi tentang data-data keuangan musuh-musuh Diego. Terutama beberapa pemegang saham yang ikut melengserkannya dari kursi presdir.


"Lalu Tuan? Identitas Anda bagaimana? Kita berusaha menutupinya sebaik mungkin, bahkan memaksa pemerintah menghapus tentang Anda." Eraz menimpali.


Diego samar-samar tersenyum lalu kembali duduk di kursinya. Tanpa berkata apa pun atau memberi jawaban pada Eraz, dia menggerakkan kursi rodanya keluar dari kamar dan menghampiri Aishe.


Wajah Diego masih begitu tenang. Sorot matanya pun tidak terlukis amarah yang membara. Seperti sungai yang memiliki air tenang.


Dia perlahan datang dengan kursi rodanya, mengetuk pintu kamar Aishe.


"Kau berusaha keras untuk bisa mendapatkan informasi. Kenapa tidak langsung menggorek dari narasumbernya langsung?" ucap Diego saat Aishe datang membuka pintu kamarnya.



Othor kembali dengan kejutan lagi πŸ₯³πŸ₯³


Bab selanjutnya Diego bakal bilang ke Aishe


Bilang apa ya??????


Live, Vote, dan Hadiah jangan sampai ketinggalan

__ADS_1


πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


__ADS_2