Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 22


__ADS_3

Aishe –


Aku hanya ingin melihatnya bisa berdiri lagi, dan tidak ingin mendengar orang lain berkata buruk tentangnya. Hanya ingin, dia pulih dan berkuasa seperti sebelumnya.


Salahnya dimana?


Sebaik mungkin aku berusaha menyusun perkataanku, tapi kenapa?


...------------------------------...


Setelah malam itu, Diego menghilang. Jejaknya bahkan hampir tidak ada di rumah selama beberapa hari terakhir. Entah, kemana pria itu pergi.


Aishe merenung selama dua hari penuh. Menelisik segala perkataan yang mungkin menyakiti hati Diego. Hingga akhirnya, dia sedikit memahami sesuatu.


Diego, dulu adalah presdir dengan segala karakteristik dingin dan angkuh. Tidak heran, jika ia akan bereaksi tatkala seseorang membahas soal kakinya. Begitulah yang Aishe pikirkan.


"Itu memang kesalahanku," gumam Aishe lirih.


Aishe menyandarkan kepalanya di loker tempat penyimpanan barang. Sesekali menepuk-nepuk pelan kepalanya, agar dapat berpikir dengan jernih. Benar, selama dua hari ini, pikirannya hanya terfokus pada Diego. Bahkan, saat bekerja pun, ia masih memikirkan kata-kata terakhir pria dingin itu.


"Aku harus meminta maaf padanya? Ashan pasti tau keberadaan Diego. Benar, aku perlu mencarinya sekarang!" Aishe mencabut kunci loker dan berlari begitu saja.


Aishe mencoba mencari informasi tentang keberadaan Ashan. Beruntung, pada saat itu Ashan datang ke perusahaan untuk mengambil beberapa berkas.

__ADS_1


"Tuan Ashan? Saya baru saja melihatnya naik ke atas," jawab petugas keamanan.


"Ah begitu. Terima kasih, Pak."


Aishe buru-buru naik lift yang diperuntukkan untuk staf, dan pergi ke lantai 30 tempat Ashan mengambil berkas. Aishe mulai mencari, mengintip setiap ruangan mencari seorang pria bertubuh semampai bernama, Ashan.


Beberapa pasang mata pun melihatnya dengan tatapan menghakimi, tapi secara diam-diam. Lalu, satu dan yang lainnya mulai bergosip. Membicarakan hal lucu yang membuat mereka tertawa.


Apa, apa kiranya yang membuat mereka memandang Aishe demikian?


Selidik selidik, itu semua karena pengaturan di BIN. Kenapa?


Setiap perusahaan memiliki pengaturan stafnya sendiri. Sama seperti BIN yang mengatur staf dan petugas kebersihan mereka. BIN membagi setiap cleaning service menjadi 5 bagian yang mengatur per-10 lantai.


Pengaturan itu pula yang membuat Aishe mendapatkan tatapan aneh. Itu semua karena sebelumnya dia ditempatkan di divisi 1 yang mengatur lantai dasar. Dia tidak pernah punya kesempatan bertemu staf tinggi yang sempat hadir di pesta Yosan beberapa waktu yang lalu.


"Wuah. Dua hari lalu dia masih bisa berdandan cantik dan berdiri di depan panggung, tapi sekarang …."


"Bukankah itu seragam cleaning service divisi satu?"


"Ah, upik abu dan cinderella itu ternyata ada. Hahaha!"


Aishe yang pada saat itu tidak sengaja mendengar, langsung menghampiri mereka. "Wah-wah. Saya pernah mendengar, mereka yang bekerja di BIN adalah orang-orang berkualitas dan berwawasan, tapi ternyata zonk." Aishe memandang sinis dua staf yang membicarakannya.

__ADS_1


"Apa maksudmu!" Salah seorang dari mereka memukul meja dan berdiri.


"Letizia Ortiz, Mary Elizabeth, Marie Agathe, Kelly Jeane. Kalian tidak mengenal mereka?" Aishe sedikit menyolot.


"Mereka adalah upik abu yang berubah menjadi Cinderella di dunia nyata. Kalian tidak tau? Masalah seperti ini tidak tahu? Aahh, sepertinya 'berwawasan' tidak berlaku untuk kalian."


Aishe melipat tangannya dan berdecak dengan gaya arogan yang meremehkan lawan. Membuat dua orang staf itu begiding marah, hendak meluapkan emosinya dengan menampar Aishe.


Namun, belum sempat tangan berjemari lentik itu menyentuh pipi Aishe, Ashan dengan teriakan lantangnya berhasil menghentikannya.



"Apa yang kalian lakukan?"


Semua orang mengalihkan pandangannya. Memandangi Ashan yang sedang berdiri di depan para dewan direksi.


"Kalian berdua. Buat surat pernyataan 50 halaman sekarang!" seru Ashan lantang. "Berani-beraninya membuli seorang office girls di kantor. Kalian pikir, punya jabatan tinggi bisa semena-mena begitu?"


"Ta-tapi, Pak. Kami ti …."


Ashan mengangkat tangannya untuk menghentikan pembelaan mereka. "Cukup! Aku percaya apa yang aku lihat!" Dia pun pergi usai berkata demikian.


Namun sebelum melangkah lebih jauh, ia menyuruh Aishe untuk datang ke ruangan dan menunggunya sampai selesai rapat.

__ADS_1



__ADS_2