
Penjelasan Diego seperti mantra yang dilafalkan dengan penuh penghayatan. Sorot matanya penuh sihir, yang pada akhirnya berhasil membuat Aishe luluh dan langsung memberinya pelukan. Hanya beberapa detik, sampai mantra itu menghilang dan Aishe melepaskan pelukannya.
"Ekhem … a-aku turut bersedih." Aishe menggeser duduknya sedikit menjauh dari Diego.
"Kamu masih marah?"
Aishe masih diam, enggan menjawab pertanyaan Diego. "Balim … Sonsuza dek seninle olmak istiyorum." (aku ingin bersama kamu selamanya)
"Jangan merayuku lagi!" Aishe menyikut perut Diego hingga pria itu merintih kesakitan.
"Kamu mau membunuh kekasihmu?" ucap Diego dalam rintihan yang di abaikan Aishe.
Dia bahkan tidak menoleh, atau bahkan memandang pria yang duduk di sampingnya itu sedang merintih dengan manjanya. Sampai tiba-tiba, dia membahas tentang anggapan Diego.
"Kenapa kamu mengira Tuhan dan … Lyra-mu itu menyuruhmu memulai hubungan yang baru? Jelas-jelas adiknya sendiri menyukaimu." Aishe menatap lurus ke depan, masih tidak memperdulikan Diego.
"Karena aku bertemu dengan mu disana. Pulau yang aku beli untuk menyemayamkan abu dan tulangnya."
Mendengar jawaban Diego, Aishe terkesiap kaget. Dia tidak pernah membayangkan, jika pulau tempatnya berjuang hidup adalah pulau pribadi milik Diego yang di gunakan untuk menyemayamkan kekasihnya.
Pantas saja, pulau itu tidak di tumbuhi tanaman liar, bahkan terlihat terawat dan terdapat sebuah Gazebo. Rupanya, pulau itu ….
Aishe tiba-tiba teringat akan hari-harinya selama disana. Ketika hujan badai pada hari ke 24, gazebo itulah yang memberinya perlindungan. Ketika dirinya lapar, tiba-tiba ada jaring berukuran sedang yang tersapu ombak. Memberinya kesempatan untuk menjaring ikan di pesisir pantai.
__ADS_1
Entah, itu sebuah perlindungan atau hanya sekedar keberuntungan baginya, tetapi Aishe tidak pernah kesulitan ketika ingin mendapatkan makan. Menjaring atau menombak, dia selalu bisa mendapatkan ikan. Membuat api pun hanya 4 sampai 7 kali percobaan saja.
Aishe tiba-tiba menoleh memandang Diego. Dia hanya diam, karena tidak tahu harus berkata apa, atau bereaksi seperti apa. Dia hanya ingin melihat wajah pria yang sudah membawanya pergi dari sana.
Terlepas dari takdir, atau memang Lyra yang menjagaku. Namun kenyataan yang ada, aku berhutang banyak terima kasih padanya.
Dua sudut bibirnya terangkat, menyimpulkan seulas senyum menawan. "Sepertinya, aku harus berterima kasih pada Lyra-mu itu."
Diego berdecak manja, kemudian mendekatkan bibirnya dan menggigit bibir Aishe.
"Hei! Aku belum memaafkanmu!" Aishe menutupi mulutnya rapat-rapat, seakan memberi Diego peringatan untuk tidak mencumbunya.
"Baik. Lapor kepada calon ratu, hamba bersedia menerima hukumannya agar bisa makan lagi!"
Baru sebentar mereka saling melepas tawa, Ashab menerobos masuk dengan napas yang tersengal.
"Tu-tuan!"
Kehadirannya yang tiba-tiba, juga seperti terburu-buru, tentu saja membuat keduanya menghentikan tawa mereka dan fokus menatap Ashan.
Pria itu berdiri dengan napas berat yang susah di atur, sambil membawa dua paper bag di tangan. "Sa-saya membawa sup – sup ayam kalkun Anda, Tuan."
Melihat gelagat Ashan yang terlihat aneh, Diego lantas menyuruh Aishe untuk membawa sup itu ke dapur dan menyiapkannya. Tepat ketika Aishe pergi dan punggungnya tidak terlihat, barulah Diego bertanya.
__ADS_1
"Kau tidak mungkin berlari tanpa mengetuk pintu hanya karena terlambat 2 menit. Katakan, ada apa!"
"Mobil yang dikendarai Eraz mengalami kecelakaan di terowongan Ebrug, Tuan."
Seketika, dua mata Diego membulat, pupilnya pun mengecil. "Bagaimana bisa?" Diego menoleh melihat keadaan sekitar. Setelah memastikan tidak ada orang, ia segera bangkit lalu berpindah ke kursi roda.
"Emil dan Rehan sedang menyelidikinya, Tuan. Menurut info, Eraz sempat mengabari Rehan sepuluh menit sebelum kecelakaan. Dia berkata, dua mobil mengikuti mereka."
"Kondisinya sekarang bagaimana? Lalu Malva?" Diego mengambil ponsel yang ada di atas meja.
"Eraz mengalami pendarahan otak dan harus di operasi. Sedangkan Nona Malva … dia tidak di temukan di lokasi, bahkan mayat atau jejaknya."
Diego menghela napas kasar, kemudian melihat pesan dari Emil. Di sana, ada beberapa foto kondisi mobil yang mengalami kecelakaan dan laporan kronologi. Jika di amati sekilas, itu terlihat seperti kecelakaan mobil biasa karena kondisi jalanan.
Namun, Diego melihat kemungkinan lain. Seperti kemudi Eraz yang di ambil dengan paksa, sehingga mobil itu berputar dan menabrak tepi terowongan. Sebenarnya, jika kemudinya di ambil alih atau dibanting ke sisi lain, Eraz jelas dengan mudahnya akan mengontrol laju mobil agar tidak menabrak. Namun, lain halnya jika kondisi jalanan yang masih basah menjadi faktor pendukung.
Dari analisisnya, dua menarik satu kemungkinan. 'Malva mencoba kabur dari Eraz.' Namun, dia tidak mungkin juga mengabaikan kemungkinan lain, seperti 'pihak ke tiga' yang membantunya kabur.
Malva melarikan diri! Tindakannya sendiri? atau ada pihak ke-3 nih?
Butuh sajen, biar makin was-wus, sat-set nulisnya
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣🤣🤣