
Semerbak aroma sup ayam kalkun yang baru di tuang ke dalam mangkuk, sudah dapat tercium meski dari kejauhan. Rempah-rempah yang cukup pekat, aroma gurih yang bercampur di dalamnya. Sungguh berhasil membuat siapa pun yang menciumnya langsung merasa lapar.
Aishe baru selesai meletakkan sup yang masih hangat itu di atas meja, ketika Diego tiba-tiba datang menghampirinya.
"Aku baru saja ingin memanggilmu." Aishe menoleh, menyadari kedatangan Diego.
Diego menaikkan kedua sudut bibirnya dengan sedikit terpaksa, membuat Aishe sedikit merasa curiga ketika melihatnya. Pada saat Ashan datang dengan napas yang menggebu, Aishe sudah menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
"Ada masalah, Sayang?" tanya Aishe yang penasaran akan sikap Diego.
"Eraz … mengalami kecelakaan." Diego menegaskan sorot matanya. "Ashan bilang keadaannya cukup parah. Ada pendarahan di otak, jadi harus segera di operasi."
Aishe terlihat cukup terkejut mendengarnya, dia bahkan buru-buru meletakkan centong sup yang ada di tangannya itu ke atas meja.
"Lalu kenapa kamu masih di sini? Pergi dan lihatlah dia!" Aishe buru-buru berjalan mendekati Diego.
"Aku ingin menemanimu makan lebih dulu."
Jawaban Diego membuat hati Aishe terenyuh secara spontan. Gadis itu membungkukkan badanya, lalu mengecup kening Diego dan tersenyum.
"Pergilah, aku bisa makan sendiri."
__ADS_1
Namun Diego tetap keras kepala dan gigih ingin menemani Aishe menghabiskan sup kalkunnya. Dia menggerakan kursi rodanya menghindari Aishe dan mendekat ke meja makan.
"Aku juga ingin mencicipinya. Roti bakar tidak cukup membuatku kenyang!" kata Diego melantangkan kalimatnya
Aishe tahu, jika itu hanyalah alasan kuno Diego agar dia bisa menemaninya menikmati sup kalkun. Dia sendiri merasa senang, pada saat seperti ini dia masih bisa menyenangkan hatinya.
"Di sana sudah ada Emil dan Rehan. Aku hanya perlu menunggu kabar baik." Diego menatap nanar mangkuk sup yang ada di atas meja. Pikirannya seperti melayang, tidak berada di lokasi yang sama dengan tubuhnya.
Aishe jelas bisa melihat kecemasan Diego, tetapi pria itu memang sedikit bebal dan keras kepala. Mau tidak mau, Aishe harus segera memakan sup miliknya, agar pria itu bisa pergi menemui Eraz tanpa beban.
Ia mengambil satu mangkuk yang sudah siap di atas meja, lalu menuang sup kalkun ke dalam. Dia mengambil sesendok, meniupnya lebih dulu kemudian menyodorkan sendok itu pada Diego.
Diego dengan patuh membuka mulut dan membiarkan sesuap sup masuk ke dalam.
"Enak, sekarang giliranmu!" Diego mengambil sendok, lalu menyuapi Aishe.
"Eemm, sangat enak," ucap Aishe setelah mencicipi sup. "Sekarang, pergilah! Kau sudah makan dan menemaniku makan!" Aishe dengan kasar merebut sendok dari tangan Diego.
"Ta-tapi kau baru makan sesuap!" protes Diego yang sebenarnya masih ingin menemani Aishe.
"Pergilah, Die. Aku tahu pikiranmu fokus kemana. Dia salah satu orang-mu yang cukup baik dan bisa diandalkan."
__ADS_1
Diego mengangsurkan tanganya mengusap ubun-ubun Aishe. "Maaf. Aku akan segera pulang!" katanya lembut penuh perhatian.
"Aku akan menunggumu." Aishe tersenyum.
Sebelum membiarkan Diego pergi, ia sempat membantu pria itu berganti baju, bahkan memasangkan mantel tebal.
"Makanlah jika sempat. Kamu hanya makan sesuap saja tadi!" Aishe mulai cerewet.
"Eem, aku akan menyuruh Ashan membelinya saat di perjalanan."
Setelah Aishe memastikan Diego telah memakai baju tebal, juga selimut yang menutupi kakinya. Kini waktunya ia mengantar Diego ke depan.
"Ishe, orang-orang kepercayaanku mengetahui sandi pintu Villa ini. Jika nanti ada yang mengetuk, jangan membukanya. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, langsung hubungi aku atau Ashan."
"Aku tahu." Aishe mencondongkan tubuhnya, mengecup kening dan bibir Diego. "Aku akan mengingatnya dengan baik."
Was-Wus, Sat-set.
Bab selanjutnya meluncur besok pagi 💋💋
__ADS_1