Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 168


__ADS_3


Cuaca di luar terlihat cukup cerah. Matahari bersinar dengan terang, dengan awan yang beberapa kali menutupi sinarnya. Angin pun berhembus sepoi-sepoi, menerpa dedaunan di pohon.


Aishe masih sedikit gugup, duduk di sofa yang ada di samping Mirey. Sedangkan Guzel, dia segera berlari ke belakang untuk membuat teh dan menyiapkan kudapan, setelah selesai menghubungi Ashan.


"Silakan duduk, Berd," ucap Mirey pada seorang pria tua yang berdiri di belakangnya. Seorang pria tua yang tak asing bagi Aishe, beserta seorang wanita, duduk di sofa yang ada di depan Aishe.


"Lama tidak bertemu, Nona," sapa pria tua yang sering dipanggil Berd.


Setelah melihat dengan seksama dan mendengar suara pria tua itu, Aishe langsung menengadah. Dia mengenal wajah dan suara itu. Ya, ini belum setahun, Aishe sudah pasti mengenal Berd. Dia adalah pria tua yang sudah merubah dirinya dan mengenalkan fashion.


"Tuan, Berd?" tebak Aishe yang langsung mendapat anggukan kepala dari Berd.


"Kalian sudah saling mengenal rupanya?" sahut Mirey melihat Berd dan Aishe bergantian sembari mengangguk.


"Itu pertemuan yang singkat, Ashan membawanya padaku beberapa bulan yang lalu," jawab Berd sopan.


Di Sela pembicaraan, Guzel datang dengan beberapa teh dan kudapan. Melihat Guzel kewalahan, Bibi Banu yang tadi berdiri di belakang Mirey, langsung berlari membantunya.


"Baik, kalau begitu langsung saja!" tegas Mirey menaikan satu kakinya ke atas paha kaki yang lain dan bersandar sambil bersedekap tangan.


"Namanya Banu." Mirey menunjuk wanita paruh baya yang umurnya lebih muda dari Bibi Nie. "Dia akan mengurus kalian selama disini."


Mirey menatap Aishe sesaat, lalu mengambil secangkir teh yang disajikan Guzel. "Tak perlu risau, dia tidak sendiri. Nanti akan ada lima orang yang akan membantunya!"


Mirey meneguk teh yang masih hangat, lalu menaruhnya kembali sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekitar. Villa Luxury, salah satu aset milik Diego yang tidak ia ketahui. Benar, jika bukan karena Ashan yang datang semalam, dia tidak akan tahu anak dan menantunya tinggal dimana.


__ADS_1


Melihat rumah dengan gaya Rustic Modern, yang sama sekali bukan seleranya, membuat Mirey berdecak kesal.


"Kenapa kalian bisa tinggal di rumah seperti ini? Oh, astaga … kuno sekali!" ucapnya kesal lalu memandang Aishe.


"Siapa yang mendesainnya?"


Belum sempat Aishe menjelaskan, seorang pria yang berdiri di belakang berbisik pada Mirey. "Nyonya, tuan muda membuat ini untuk Nona Lyra dulu."


Mirey tentu terkejut, "Oh benarkah? Dan kau tau ini?" tanyanya menatap Aishe.


"Saya tau, Nyonya?" Aishe menaikkan dua sudut bibirnya, dengan wajah teduh menatap Mirey.


Namun Mirey justru menatapnya nanar. "Siapa yang menyuruhmu memanggilku seperti itu?" bentaknya kasar, membuat Aishe sedikit terkejut.


"Kau memanggil pria tua itu ayah, tapi malah memanggilku nyonya!"


"Panggil aku ibu! Mengerti?" tegasnya menatap menantunya dengan angkuh.


Aishe sempat menghela napas, sebelum akhirnya tersenyum dan mengangguk. "Ya, Ibu."


"Bagus, pertahankan!"


Guzel yang sejak tadi ikut cemas, kini sudah bisa menghela napas lega. Rasa paniknya perlahan memudar, bersamaan dengan dua orang yang akhirnya saling melempar senyum.


"Berd! Catat ukuran bajunya, dia harus terlihat sangat cantik, mengerti!" lanjut Mirey memberi perintah pada Berd.


"Baju? Untuk apa, Bu?" tanya Aishe.


Mirey belum sempat menjawab, tapi ia sudah membantu Aishe berdiri dan langsung diukur oleh Sasha, asisten Berd.

__ADS_1


"Bu, bajuku masih ban–" Kalimat Aishe tiba-tiba tertahan oleh teriakan lantang dari Diego.


"ISHE!!"


Pria itu berlari sedikit terpincang pincang, masuk ke dalam rumah. Dia baru bisa lega saat melihat istrinya baik-baik saja, bahkan seorang wanita sedang terlihat mengukur tubuh Aishe.


"Oh, kau sudah pulang?" Mirey menatap Diego yang terengah-engah, berdiri tak jauh darinya. "Bukankah kamu ada rapat?" Mirey meneruskan pertanyaannya.


Diego memang tidak mendapat feeling apapun saat berkendara dengan gila-gilaan pulang ke Villa Luxury. Namun hatinya sedikit resah, takut jika Mirey akan memperlakukan istrinya dengan kasar. Namun saat mata kepalanya sendiri menatap Aishe baik-baik saja, barulah ia bernapas lega.


"Ada apa dengan warna dasimu?" tanya Mirey yang sempat gagal fokus dengan dasi berwarna maroon yang dipakai Diego.


"Kenapa? Aku menyukainya?" Diego melihat dasi merah itu sesaat, lalu berjalan mendekat.


"Tidak cocok! Kau memilih dasi itu sendiri?"


"Istriku yang memilihnya, dan aku suka!" tegas Diego.


Jawaban Diego langsung membuat Mirey menoleh menatap Aishe. Sedangkan Aishe yang berniat mengerjai sang suami, hanya bisa tersenyum sambil menggigit bibir bawahnya.


...☆TBC☆...



Ku tak bisa berkata-kata Bang Die 🤣🤣


Yok kita malakin readers, biar bisa masuk 10 besar rank hadiah 🤭🤭


Yang belum laporan hadiah, ditunggu sampai senin ya, biar bisa di kirim bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2