Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 208


__ADS_3

Diego berdiri di rooftop rumah sakit, menatap langit malam bertabur bintang. Semilir angin yang berhembus cukup kencang, mengibarkan ujung kemeja putih yang acak-acakan.


Tiba-tiba saja, bulir bening bernama air mata itu jatuh tanpa ia sadari. Mereka keluar beramai-ramai seperti air bah yang baru saja menjebol bendungan.


Dia berusaha mengusapnya, tetapi air mata itu terus keluar tanpa henti. Bahkan, saat ia mengusap kedua mata dan menarik napas dalam-dalam, mereka tetap saja keluar.


Diego masih sibuk mengusap air mata, sampai-sampai tidak menyadari, seseorang telah berdiri di sampingnya. Pria tua yang sudah beruban, dengan sedikit kuat menepuk bahunya.


"Kau sudah jadi ayah, kenapa jadi cengeng?" ucapnya mengejek.


Tanpa menoleh dan melihat wajah pria itu, Diego menjawab dengan suara serak. "Apa istrimu dulu juga berjuang seperti ini saat melahirkanku?"


"Setiap wanita berjuang untuk melahirkan, Diego. Tidak hanya ibumu saja."


Diego tertunduk, air matanya pun jatuh tak terkira. Menjadi lebih deras dari sebelumnya, bahkan ia sampai terisak.


"Meski begitu, ibumu tidak meminta balas. Padaku atau dirimu. Bukankah begitu?"


"Ya, Ayah. Aku juga tidak menuntut apapun dari mereka kelak."


"Bagus!"



Mata Aishe perlahan mengerjap, merasakan tangannya digenggam oleh seseorang. Dia menoleh, melihat Diego duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Bagaimana tidurmu?" tanya Diego yang sejak tadi terjaga.


"Sangat nyenyak. Mungkin karena melihat seseorang menangis dan memintaku untuk tidak pergi," goda Aishe.


Diego mengangkat kedua sudut bibirnya. Dia tahu, jika itu hanya godaan dari sang istri. Namun entah mengapa, ia merasa sangat senang ketika mendengarnya.


Perlahan ia bangkit berdiri. Mengambil gelas dan menuang air hangat, tidak lupa, memberi beberapa tetes madu. Setelah memastikan suhunya sudah pas, ia membantu Aishe untuk sedikit menegakkan sandaran tempat tidur, hingga tubuhnya sedikit terangkat.


"Minum dulu! Kata dokter, air madu bagus untuk memulihkan tenaga."


Dengan lembut dan penuh perhatian, pria yang semula bersikap dingin itu, kini membantu sang istri untuk minum. Sungguh, perubahan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bahkan oleh Aishe sendiri.


"Kamu sudah melihatnya, Die?" tanya Aishe yang penasaran, kemana suaminya pergi tadi.


"Ya. Dia sangat tampan sepertiku." Dua sudut bibir Diego kembali terangkat. Membayangkan wajah sang putra yang sempat ia lihat di ruang bayi.


"Kenapa kamu jadi kesal? Bukankah aku tampan?"


"Tentu saja. Aku kesal karena tidak ada bagian darinya yang mirip denganku! Jelas-jelas aku mengandungnya 9 bulan!" Aishe membuang muka sambil bersedekap tangan.


"Heem … aku juga merasa aneh. Kenapa tidak ada yang mirip denganmu?" Diego sedikit berpikir sambil memandangi wajah kesal Aishe.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita buat lagi? Anak perempuan, mungkin dia akan mirip dengan–"


BUG!

__ADS_1


Belum sempat Diego menyelesaikan kalimatnya, sebuah bantal berhasil mengenai wajah tampannya.


"Sayang!" teriak Diego yang terkejut ketika sebuah bantal hinggap beberapa detik di wajahnya.


Namun, pria itu lebih terkejut lagi saat melihat Aishe dengan wajah marah sedang menatapnya. Ia buru-buru mendekat, kemudian membelai kedua pipi Aishe dan mengecup keningnya.


"Aku hanya bercanda, Sayang!"


Aishe menghela napas kasar. Menatap wajah sang suami yang bersungguh-sungguh, membuatnya sedikit merasa bersalah.


Bagaimanapun juga, dia tidak keberatan jika Diego menginginkan anak lagi. Aishe sendiri ingin hidup dikelilingi banyak anak. Bahkan, ia bermimpi memiliki tiga putra dan dua putri yang akan meramaikan rumah.


"Kau membuatku kesal, Die!"


Diego tidak memberi tanggapan apapun. Dia justru menatap dalam wajah sang istri yang sudah tidak pucat lagi. Kemudian, dengan pelan meraih bibir kemerahan sang istri dengan bibirnya.


Ciuman lembut mendarat sempurna. Menghantarkan hormon oksitosin yang menenangkan dan mendamaikan perasaan.


"Hari masih larut, tidurlah kembali. Besok pagi, kita harus menyambut malaikat kecil yang baru saja kamu perjuangkan." Diego membelai rambut sang istri, lalu perlahan menurunkan sandaran tempat tidur agar Aishe bisa kembali beristirahat.


"Kau juga, Die. Aku tahu kau belum tidur nyenyak beberapa hari ini."


"Iya, aku akan tidur di sampingmu!"


...☆TBC☆...

__ADS_1



__ADS_2