
Beberapa ruas jalan yang di tutup, telah di buka sejak pukul 11 siang. Bahkan, sisa salju yang menutupi aspal, telah di singkirkan. Namun meski begitu, siaga akan badai lanjutan masih di pasang. Beberapa orang dilarang untuk keluar jika bukan keperluan yang mendesak. Terlebih, beberapa pengguna jalan sempat mengalami kecelakaan karena kondisi aspal yang licin.
Ashan mengemudikan mobilnya dengan hati-hati, tidak terlalu cepat juga terlalu lambat, agar mereka juga bisa cepat sampai. Namun sekeras apapun Ashan berusaha, mereka tetap memerlukan waktu 1 jam untuk sampai di rumah sakit, lantaran beberapa ruas jalan terjadi kemacetan panjang.
Emil dan Rehan terlihat duduk sambil bersandar di dinding. Beberapa petugas berseragam juga nampak membaur bersama, entah membicarakan hal apa. Sampai, mereka melihat Diego dan langsung berdiri menyapanya.
"Tu-tuan, Anda datang?" sapa Rehan yang terlihat cukup shock, mengingat Eraz adalah teman paling dekat dengannya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Diego.
"Dokter masih menanganinya, Tuan," jawab Rehan.
Diego pun ikut menunggu dengan perasaan kacau tak menentu. Satu jam lewat begitu saja, mereka sesekali melihat pintu ruang operasi yang masih tertutup. Padahal, ini sudah 4 jam terhitung sejak Eraz masuk ke dalam.
Suasana di sana masih terlihat tegang, terlebih saat beberapa anak buah Rehan memberi kabar jika Malva belum di temukan. Kabar itu pun membuat Diego semakin kacau tak menentu. Ada perasaan khawatir dan cemas di wajahnya, takut jika Malva nekat mencelakai Aishe.
Diego tahu dengan jelas, Malva sudah menyimpan rasa padanya sejak Lyra memperkenalkan mereka. Malva bahkan pernah menggoda pria itu secara terang-terangan di depan Lyra. Namun sayangnya, Lyra membela kondisi adiknya yang masih remaja pada saat itu.
Obsesi, begitulah yang Diego lihat dari mata Malva ketika menatap dirinya.
Ketika Diego sibuk berpikir cara melindungi Aishe. Ashan diam-diam menerima pesan dari kekasih tuannya.
'Tuan hanya makan sesendok siang ini. Jangan biarkan perutnya kosong, jika sakit, yang repot juga Anda, Pak!'
Ashan melirik ke arah Diego. Melihat pria itu tengah merenung, mungkin sedang cemas mengkhawatirkan Eraz, begitu pikirnya. Ia pun segera pergi untuk membelikan Diego, juga teman-teman yang lain makan siang.
__ADS_1
Baru beberapa menit setelah Ashan pergi, pintu ruang operasi terbuka. Dua pria memakai baju dokter keluar lebih dulu untuk menjelaskan keadaan.
"Dia berhasil melewati masa kritis, tapi kita masih perlu memantaunya. Semoga, dia bisa bangun sebelum matahari meninggi besok."
"Terima kasih, Dok."
Eraz terlihat tidur di atas brankar yang di dorong oleh dua perawat. Mereka membawanya masuk ke ruang rawat inap, yang sudah di atur oleh Ashan.
"Eraz sudah membaik, Anda bisa istirahat, Tuan." Rehan menuang segelas air hangat dan memberikannya pada Diego.
"Eemm, iya." Dua sudut bibir Diego terangkat, kala mengingat Aishe yang menunggunya di rumah.
Rehan sendiri tipe orang yang cukup peka, terutama terhadap Diego, jauh lebih peka dari Ashan. Sehingga, ia dengan mudahnya menebak hati Diego. .
"Sepertinya, perkembangan hubungan Anda dengan wanita itu ada sedikit peningkatan," goda Rehan dengan nada sedikit ketus, menunjukkan ketidaksukaannya.
"Namanya Aishe, berhentilah memanggil 'wanita itu' untuk kedepannya." Lanjutnya meletakkan gelas ke atas meja.
"Dia belum mendapat pengakuan dariku." Rehan masih kekeh dengan pendiriannya.
"Dia wanitaku, tidak perlu mendapat pengakuan darimu. Apakah ia layak atau tidak, aku yang menentukan!" Diego menggerakkan kursi rodanya dan pergi dari sana.
Namun sebelum meninggalkan ruangan, dia sempat berpapasan dengan Ashan.
"Tuan, Anda mau kemana?" tanyanya.
"Pulang! Kekasihku menunggu di rumah." Diego terus menggerakkan kursi rodanya keluar dari ruangan.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu berdebat dengan Tuan mengenai Nona Aishe?" tanya Ashan yang sejak tadi menguping pembicaraan mereka.
"Kau juga terpedaya olehnya? Kau tidak ingat ketika menawarkan diri ingin membunuhnya?" Nada Rehan sedikit meninggi.
"Ingat, tapi itu sebelum aku mengenal Nona Aishe dengan cukup jelas." Ashan meletakkan paper bag ke atas meja dengan kasar.
"Kau tahu, selain Nona Lyra, hanya dia yang bisa membuat Tuan Diego tersenyum lepas. Hanya dia yang membela tuan di depan umum, bahkan di hadapan Max dan para dewan. Kau tau, seberapa resikonya itu?"
Ashan menghela napas panjang untuk sesaat. "Jika tidak bisa menerima dia sebagai pendamping tuan, lebih baik kamu tetap diam dan mengingat posisi kita, mengingat kita yang pernah menjadi korban dari Max!"
Ashan berpaling pergi meninggalkan Rehan yang diam mematung. Dia pergi, tanpa pamit, membiarkan Rehan menelaah ucapannya baik-baik. Berharap, dia bisa mengingat penderitaan mereka berempat ketika di Barak, juga kebaikan Diego yang membawa mereka pergi.
Kekasih katanya?
Jadi mereka benar-benar sudah bersama?
Aahh, sialan! Aku kecolongan lagi!
Sudah Like?
Sudah Vote?
Sudah kirim sajen?
Sat-Set, Das-Des. Bab selanjutnya OTW kalau gak Up berati othor sibuk. Hari ini ada kedubes mau ke rumah soalnya 🤣🤣🤣
__ADS_1