
"Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu?" tanya Diego.
"Kamu. Kamu yang mengajariku, tidak tahu?" Aishe mengedikkan bahu, kemudian kembali duduk ke kursinya.
"Ka-kapan aku …." Alih-alih meneruskan, Diego justru menghela napas kasar dan melanjutkan makannya. Sedangkan Aishe yang sudah kembali duduk ke kursi, masih berpangku tangan sembari menatap Diego.
Sorot mata wanita itu masih tetap seperti itu, sampai Ashan tiba-tiba berbisik dan memberi kabar pada Diego. Kabar yang langsung membuat Diego meletakkan sendoknya dengan kasar dan mengusap mulutnya.
Ekspresi wajah pria itu berubah seketika, membuat Aishe menaikan satu sudut alisnya dengan heran. Hal apa kiranya yang di sampaikan Ashan, sehingga membuat raut wajah Diego berubah sinis penuh kebencian.
Namun, Diego tetap diam. Dia bahkan tidak memberi komentar pada Ashan, hanya meliriknya lalu berdecak kesal.
Diego menjalankan kursi rodanya lebih dekat dengan Aishe, "Jika tidak selera, kamu bisa meminta Bibi Nie untuk memasak lagi. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan."
Setiap kata yang keluar dari bibirnya, terdengar begitu lembut penuh perasaan. Padahal, beberapa detik yang lalu raut wajahnya begitu menyeramkan, bahkan Aishe yang memandangnya cukup ketakutan.
"Apa kau akan keluar? Ini sudah malam."
Diego menggeleng pelan, "Tidak, aku dan Ashan hanya melakukan panggilan rapat mendadak." Die mengangsurkan tangannya, meraih tengkuk leher Aishe dan menariknya dengan lembut agar bisa menangkap bibir Aishe. Mengecupnya selama beberapa menit, kemudian melepaskannya.
__ADS_1
"Bilang pada Bibi Nie untuk membawakan kami secangkir kopi," lanjutnya kemudian pergi meninggalkan Aishe yang sempat mengangguk.
Setelah Diego berbalik, Aishe langsung menutup mulut dengan jemari lentiknya. Dia pikir Diego sedang marah karena kejadian di kamar mandi, tapi ternyata … kecupan manisnya berhasil membuat Aishe terus terngiang-ngiang.
Namun tiba-tiba Diego, memanggil namanya. Membuat Aishe dengan cepat menurunkan tangan dan menjawab.
"Ya?"
"Hanya berkumur tidak akan membuat rasa bebek panggang di mulutmu hilang, gosok gigilah!" ucapnya kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Di-E-GO!!!"
Suara Aishe menggema dan begitu memekik. Diego yang sedang menuju ruang kerja pun, bukan tidak mendengarnya, pria itu justru menarik satu sudut bibirnya dan menyimpulkan seulas senyum puas nan licik.
"Mood Anda berubah lagi, Tuan." Ashan sepertinya melihat wajah Diego yang kembali berseri, seolah masalah tentang Max hilang dalam pikirannya.
"Kamu banyak berkomentar ya sekarang?" Diego melirik tajam, yang pada akhirnya membuat Ashan menutup mulutnya.
Setelah masuk ke dalam ruang kerja, Ashan menutup pintunya rapat-rapat. Sedangkan Diego pergi ke meja kerjanya dan membuka laptop.
__ADS_1
"Jelaskan detailnya!" ucapnya ketika panggilan video mulai terhubung.
"Beberapa anggota dewan tiba-tiba merubah keputusan mereka. Merek menolak Anda untuk naik, dan tetap mempertahankan Max," jelas Rehan.
"Data-data yang menolak sudah saya kirim ke Email Anda. Salah satunya adalah ibu Anda."
Diego menghela napas beratnya perlahan, kemudian mengeratkan jemari-jemari tangannya. Setelah berpikir beberapa saat, tangannya mulai menjelajah, membuka Email yang dikirim oleh Eraz dan melihat data-datanya.
"Tuan Hasan dan Tuan Bara ini bukan orang yang mudah. Cari tahu, apa yang membuat mereka berubah pikiran." Perintah dari Diego di turunkan.
"Untuk ibu Anda …." Eraz dan Rehan menunggu perintah.
Kali ini, Diego berpikir lebih lama, dia bahkan sempat tertunduk beberapa saat sembari memijat keningnya. Membicarakan tentang 'Ibu' pasti membuat Diego berpikir seribu kali. Lima menit berlalu, sepuluh menit terlewat, Diego masih tertunduk. Sampai akhirnya, Ashan memanggil namanya.
"Ohhh." Diego mengangkat kembali kepalanya. "Soal ibu biar aku yang mengurusnya!"
Tenang, tenang.
__ADS_1
Koleksi babang Die masih banyak di galeri 🤣🤣
Goyangkan jempolnya dulu. Like, Vote dan Hadiah. jangan lupa 💋💋💋