Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 95


__ADS_3

Adana - Turki


Diego sedang duduk, tangannya memegang secangkir coffee yang masih mengepul, sedang sorot matanya fokus melihat di luar kaca jendela yang cukup lebar. Pemandangan yang dia lihat hanyalah taman yang tertutup oleh salju, yang bahkan rumput atau bunga pun tak terlihat.


Beberapa saat kemudian, dia menoleh, menatap seorang wanita yang sejak tadi duduk di hadapannya.


"Ucapanku sekarang masih sama seperti semalam," katanya terdengar sedikit ketus.


"Aku tidak bisa!" wanita itu membuang muka.


"Apa yang dia janjikan padamu, aku bisa mencari tahu dengan mudah. Tapi jika aku sudah bertindak, tentu bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya kan, Bu?"


Debar jantung Mirey tersentak untuk sesaat. Dia memandang anak semata wayang yang dulu sangat penurut, kini telah berubah. Anaknya telah tumbuh, tapi menjadi pemberontak.


"K-kamu mengancam ibu?"


Diego dengan lantang menatap ibunya sembari menolak tuduhan wanita yang telah melahirkannya, "Tidak!"


"Aku hanya memberitahu, karena semua demi BIN!" lanjutnya sedikit mempertegas suaranya. "Tidakkah kau tahu, Ibu? Menurutmu, bagaimana respon Ayah jika tahu bahwa kamu telah membantu adik angkatnya itu untuk naik posisi menggantikan pewaris sah?"


"Apa dia akan berpikir jika … aah, itu jelas tidak mungkin."

__ADS_1


Kedua mata Mirey terbelalak, tangan yang semula memegang cangkir coffee, kini sedikit bergetar. Satu sudut bibirnya beberapa kali terlihat terangkat, bukan menyimpulkan seulas senyum, tapi berusaha menyembunyikan perasaan gugupnya.


Diego jelas memperhatikan gerak gerik ibunya dengan seksama, dan diam-diam tersenyum ketika menyeruput coffee.


"Semua demi kebaikan BIN. Mengertilah, kondisi kakimu ini …."


Belum sempat Mirey melanjutkan kalimatnya, Diego sudah memberikan lirikan tajam. "Jangan berkata demi BIN. Kamu hanya ingin membuat orang asing menikmati terlalu banyak kebaikan keluarga Gulbar. Apa kamu tidak tahu? Dia telah memindah 20 Lyra keuntungan Gulbar menjadi keuntungan pribadinya!"


"Apa? Kamu pasti membualkan? Max jelas tidaj mungkin melakukannya! Dia berkorban banyak untuk keluarga Gulbar! Dia bahkan yang menemukan dan membawamu dari perbatasan!"


BRAK!


"Kamu pikir dia yang membawaku? Aku, Diego Gulbar, tidak pernah dibawa oleh siapapun ketika pergi dari perbatasan!" kata Diego lantang. "Ketahuilah fakta itu, Ibu!"


Diego menjalankan kursi rodanya, pergi dari sana untuk bersiap kembali ke Istanbul. Dan pada saat itulah, Ashan menghubunginya, memberitahu jika Aishe hilang.


Mendapat kabar demikian, perasaan Diego kembali acak-acakan tidak menentu. Dia meninggalkan semua barang bawaannya, dan segera meminta supir untuk membawanya ke bandara.



Di sisi yang lain.

__ADS_1


Atakoy sebenarnya adalah sebuah distrik tempat tinggal terencana pertama yang di kembangkan oleh Turki. Dimana tempat ini terdapat banyak gedung-gedung apartemen.


Lantas, kenapa Max membawa Aishe pergi ke daerah Atakoy yang notabennya adalah tempat ramai? Bukan di daerah pesisir yang tergolong sepi?


Mereka membawa dua orang yang tangannya terikat itu naik ke atas sebuah gedung. Benar, tempat paling atas, Rooftop. Setelah menaruh di atas sofa, mereka memasukkan sebuah obat ke dalam mulut dan menunggu untuk bangun.


Setengah jam berlalu, Aishe mengerjapkan matanya perlahan. Hal yang dia sadari pertama kali adalah tangan dan kaki yang terikat rapat. Lalu setelah matanya terbuka, dia baru menyadari keberadaan seorang wanita di sampingnya yang tidak asing.


Wanita itu adalah Malva. Gadis yang di cari Diego dan tangan kanannya secara gila-gilaan.


Ma-Malva?


Namun, kondisi Malva tak sama bedanya dengan Aishe. Tangan dan kakinya terikat, bahkan wajahnya terlihat lebam, entah karena apa.


Tak berselang lama setelah Aishe terbangun, giliran Malva yang mengerjap. Namun dia langsung memberontak bergitu menyadari tangan dan kakinya di ikat.



Jempol jangan lupa digoyang 💋💋


Othor mau goreng kang asin dulu, nanti agak siangan gas lagi. Tapi kalau dapet segalon coffee mah, Gasss aja 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2