Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 205


__ADS_3

Mobil jenis SUV putih terlihat menabrak bagian belakang mobil sedan yang tiba-tiba berpindah jalur dan mengerem mendadak. Bumper bagian depan SUV putih itu bahkan terlihat lepas, lampu sedan hitam yang dikendarai Diego pun juga pecah akibat tabrakan keras.


Seorang pria muda pun turun dari SUV putih sambil memegangi tengkuk lehernya. Dia berjalan menghampiri mobil sedan di depannya dengan raut wajah kesal penuh amarah.


Diketuknya kaca jendela mobil Diego dengan cukup keras sambil berteriak lantang, “Keluar kau bajingan! Apa kau mabuk, ha?”


Namun disatu sisi, Diego justru terlihat tenang. Dia menoleh, menatap pria itu selama beberapa saat. Sampai kemudian dia turun, lalu merogoh saku untuk mengambil dompet. Diambilnya beberapa lembar uang dolar dari sana, juga sebuah kartu nama.


“Ini untuk uang berobat,” katanya sedikit kasar.


“Hubungi nomer yang ada disana, dia akan memberimu mobil yang baru dengan merek yang sama!”


Pria itu hanya tertegun setelah menerima 100 dolar sebanyak 10 lembar. Bahkan kartu nama yang disodorkan Diego hanya dilihat dengan tatapan kosong.


“Apa itu kurang?” tanya Diego penasaran lantaran pria itu hanya diam.


“Maaf, aku baru saja mendapatkan kabar yang entah itu buruk atau baik. Tapi aku sedang buru-buru sekarang, dan hanya itu yang aku punya di dompetku,” lanjut Diego sebelum masuk ke dalam mobil.


“Oh, hubungi saja nomor itu jika biaya rumah sakitnya kurang!”


Semua kata-kata yang dia ucapkan terdengar begitu angkuh. Namun entah mengapa, rasa kesal pria itu justru mendadak lenyap begitu saja, meski dia hanya diam bahkan saat Diego pergi dari sana.



Setelah menyelesaikan urusan dengan pemilik SUV, Diego mencoba menghubungi Mirey untuk mengetahui keadaan sang istri. Namun, beberapa kali dia coba, Mirey tidak menjawab satu panggilan pun. Sampai akhirnya, dia mencoba menghubungi Rubby.


“Tuan ….”


“Bagaimana keadaannya? Kau bersamanya kan?” Setiap kata yang keluar dari bibir Diego, terdengar tidak stabil. Panik, khawatir, itu sudah pasti.

__ADS_1


“Nyonya dan tuan besar sudah membawa nyonya ke rumah sakit, Tuan. Guzel dan Tuan Ashan bersama mereka, jadi saya tetap di rumah.”


Ashan sudah kembali? Diego terlihat memegang keningnya, seperti sedang berpikir sesuatu. Mungkin, itu tentang Ashan yang pulang sehari lebih awal dari jadwal.


“Oke. Aku mengerti.” Diego mengakhiri panggilannya dan mempercepat laju mobil agar bisa segera sampai di rumah sakit.



Disisi lain, Aishe terlihat berbaring dengan tubuh yang sedikit meringkuk di atas brankar rumah sakit. Tangan kirinya memegang perut, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan Mirey.


“Atur napasmu, Nak. Ambil napas panjang, hembuskan dengan perlahan.”Mirey mencoba membuat menantunya tenang.


“Ketubannya sudah pecah. Jika ingin persalinan pervaginam, ini akan sedikit menyakitkan meski jalannya sudah terbuka sempurna,” jelas dokter Ana setelah memeriksa keadaan Aishe secara singkat.


“Tidak masalah jika Anda menginginkan operasi, Nyonya. Kami akan mengoptimalkan semuanya.” Dokter Ana menatap Aishe yang sudah sangat kesakitan dengan pembukaan ketujuh.


Semua orang melihat Aishe dengan perasaan cemas. Bahkan Guzel yang sejak tadi berada di ruangan nampak sedih, tangannya meremas ujung kemeja Ashan dengan erat.


Hela napas Dokter Ana terdengar sedikit samar. “Sekitar 24 hingga 48 jam. Tapi kita juga perlu memantaunya dengan teliti.”


Dua surut bibir Aishe terangkat. Seulas senyum bahagia terukir di wajahnya yang pucat. Panas yang sejak tadi dirasakan tubuhnya, entah mengapa tiba-tiba digantikan dengan kesejukan yang membuatnya nyaman.


“Kalau begitu, aku akan menunggunya.”


Keputusan dari Aishe seakan menjadi beban bagi semua orang. Meski Aishe terlihat tersenyum dan mencoba untuk menahan rasa sakitnya. Namun semua orang yang ada disana tahu, jika dia merasakan sakit yang luar biasa, termasuk Mirey.


Mirey bahkan langsung melepaskan tangan yang sejak tadi menggenggam tangan Aishe, lalu pergi keluar ruangan tanpa sepatah katapun. Deniz yang melihat sikap istrinya, berjalan menghampiri Aishe.


“Ibu pasti kecewa, benarkan?” ucap Aishe tiba-tiba.

__ADS_1


Deniz menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, tidak! Dia mengkhawatirkanmu, sebagai sesama wanita yang berusaha menjadi seorang ibu dengan melahirkan.”


Mendengar itu, perasaan Aishe menjadi sedikit lega. Tanpa berkata apa-apa, dia tersenyum menatap ayah mertuanya yang begitu perhatian dan sangat menyayangi dirinya. Dua pasang mata mereka saling bertemu selama beberapa saat, sampai pintu kamar terbuka tiba-tiba. Semua mata tertuju ke arah pintu, berharap yang datang itu Diego.


“Ishe … anakku!” teriak Mustafa berjalan sedikit tertatih-tatih.


“Bagaimana keadaanmu? Apa semuanya baik-baik saja?” lanjutnya.


Aishe belum sempat menjawab, bahkan dia masih menarik napas panjang agar kekuatannya terkumpul. Namun, Mustafa yang tidak melihat Diego ada di sana, langsung protes.


“Hei tua bangka!” Mustafa menatap Deniz dengan sinis.


“Kemana anakmu itu? Istrinya akan melahirkan, tapi dia malah sibuk dengan pekerjaannya. Apa kau sebagai ayah tidak bisa menggantikannya beberapa hari saja?”


Mendengar ayah angkatnya memarahi sang mertua atas kelakuan suaminya, Aishe yang tadi tegang pun sedikit tertawa. Begitu pun saat Deniz berkacak pinggang sambil menatap iparnya itu.


“Tidak ayah, dia sedang berusaha menyisihkan waktu untuk menemaniku.


Pembelaan dari Aishe lantas membuat Mustafa menatapnya dengan sorot mata heran. Sedangkan Deniz justru terlihat puas atas pembelaan dari menantunya.


“Baiklah, baik. Kau selalu saja membela suamimu itu.”


Gelak tawa Aishe terdengar sangat renyah. Entah mengapa, pada setiap momen pertemuan dua pria paruh baya itu, selalu ada suasana tegang yang tiba-tiba mencair. Pertengkaran yang kekanak-kanakan, selalu bisa membuat Aishe tertawa, seperti saat ini.


Sampai, teriakan lantang Diego terdengar samar-samar. Yah, itu pada mulanya, sampai suara itu terdengar semakin jelas dan jelas lagi. Mungkin, pria itu sudah mulai berteriak dari ujung koridor.


“Ishe … Ishe!”


...☆TBC☆...

__ADS_1



Seranjang dengan Mertua, sudah meluncur gaes. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak 💕💕


__ADS_2