Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 145


__ADS_3

"Kenapa, Paman? Sudah menyerah?" ledek Diego saat Max mulai terengah-engah di tengah pertarungan.


Max kembali menaikkan satu sudut bibirnya, lalu menatap tajam melihat Diego. Tak beberapa lama, enam mobil berbondong-bondong datang. Beberapa orang terlihat turun dengan senjata dan mulai menembaki kubu Diego.


Pertarungan sengit kembali terjadi, tapi sayangnya, Diego tidak ada persiapan. Dia hanya membawa Rehan dan dua orang lainnya. Sungguh tidak seimbang jika melawan musuh yang jumlahnya lebih dari 10 orang.


Shiit! Peluruku sudah menipis!



Diego sempat melihat Max dan mencibir, lalu berbalik, segara membantu Rehan yang kewalahan. Belum selesai mereka bertarung menghabisi sisa anak buah Max, dua mobil Jeep datang mendekat.


Sepertinya, kita tidak akan bisa pulang cepat.


Diego menoleh, menatap pintu mobil Jeep itu cepat terbuka, dan beberapa orang keluar dari sana dengan senjata yang lengkap. Namun anehnya, sasaran mereka bukanlah dirinya, melainkan anak buah Max.


Dari 6 orang yang datang berbondong-bondong menodongkan pistol, nyatanya mata itu justru tertarik dengan seorang wanita yang menggunakan topi dan pistol di tangannya. Meski wajah itu sudah di tutup oleh Slayer dan topi, tapi Diego bisa menebak dengan jelas siapa dia.


Ishe ….


Tanpa kenal takut, Aishe maju ke depan memberondong musuh dengan senjatanya. Paman Mustafa pun tak ketinggalan dengan aksinya, meski harus sesekali melihat Deniz.



"Kau melamun apa?!" Deniz melesatkan peluru yang di arahkan ke tanah, tidak jauh dari posisi Diego berdiri.


"A-ayah?"


"Tidak ada waktu untuk 'Say Hello' cepat kalahkan mereka! Aku lelah memegang pistol!" teriak Aishe sambil membuka penutup wajah, protes pada suami dan mertuanya.


Dua sudut bibir Diego meninggu untuk sesaat. Lalu, ia kembali mengangkat pistol yang hanya tersisa dua butir peluru, menoleh menatap Max dan menyudutkannya.

__ADS_1


Namun Max masih terlihat santai, ia bahkan merogoh saku, entah, hendak mengambil apa. Satu tangan Max masih berada di balik jas, saat ia mundur beberapa langkah ke tepi tebing yang berada di belakangnya.


"Kenapa kau tidak mendekat? Bukankah kau ingin membunuhku?" seru Max, sedikit menantang Diego.


"Memang!" Peluru hanya tersisa dua lagi. Kali ini, aku tidak boleh gagal, atau dia akan menyerang istri dan anakku.


Diego sedikit demi sedikit berjalan mendekat, dengan tangan yang memegang pistolnya erat-erat.


Mendapat ancaman dari Diego, Max bukannya takut, melainkan tertawa terbahak-bahak, seperti menang Jackpot. Perlahan ia mengeluarkan tangan yang sejak tadi berada di dalam mantel, lalu menenteng sebuah granat.


Degh!


Wajah Diego berubah pucat. Dia sama sekali tidak takut jika terluka atau mati, asal berhasil menarik musuhnya. Namun, hal yang di khawatirkan adalah empat orang yang ada di belakangnya. Ada saudara, ayah, paman ipar, juga istri dan calon anaknya.


"Kenapa? Kau takut?" Goda Max sambil tersenyum penuh kelicikan.


"Harus kemana aku melemparnya? Pada ayah yang sudah menghilang bertahun-tahun? Atau … istrimu?" lanjutnya.



"Why? Kau tidak suka cara tercepat?" Max masih memasang wajah mengejek, ingin sekali membuat amarah Diego mencuat.


Dari keempat orang yang sibuk melawan musuh, Aishe lah yang selesai lebih dulu dan menoleh menatap Diego.


"Die … Diego!" teriaknya lantang ketika manik mata kecoklatan itu melihat Max menenteng sebuah granat.


Rehan yang berada di samping Aishe, langsung menarik tangan Aishe yang hendak berlari menghampiri Diego. Rehan dengan kuat menahan Aishe dalam dekapannya.


"Jangan gegabah!"


Mendengar teriakan Aishe, Diego lantas menoleh, memandang Aishe dengan wajah datar. Mata bagai elang itu tiba-tiba berkaca-kaca, manakala ia mendapati istrinya yang meronta dalam dekapan Rehan.

__ADS_1


"ISHE!!" teriak Diego lantang. "Bisakah kau berkata sesuatu yang baik untukku?" lanjutnya setengah sendu, sambil mengusap air mata yang tidak sengaja jatuh membasahi pipinya.


"Kembalilah! Atau aku akan membunuhmu! Hanya aku yang boleh membunuhmu!" jawab Aishe lantang.


Jawaban itu sontak membuat dua sudut bibir Diego terangkat. "Apa, tidak ada yang lebih baik lagi?" tanyanya lagi, berharap bisa mendapatkan sedikit kata perpisahan yang romantis.


Aishe menelan salivanya, lalu dengan nada serak menahan tangis, dia berkata, "Aku mencintaimu, Die. Kembalilah, kembali pada kami!"


Aishe terisak, menahan semua rasa cemas dalam hati yang tidak dapat di jelaskan.


Setelah mendengar kata-kata indah yang keluar dari bibir sang istri, senyumnya kembali mengembang untuk sesaat. Lalu, dengan sorot mata tajam dia kembali mengangkat pistol, hendak menarik pelatuk.


Namun sebelum pelatuknya ditarik, sebuah peluru tiba-tiba melesat mengenai telinga kanan Max dan membuat darah mengucur. Sangkit terkejutnya, Max reflek membuang granat yang kuncinya sudah di lepas, hendak memegangi telinganya yang berdengung.


Pada waktu yang bersamaan, Diego mendang granat itu ke tebing, dan sebuah peluru kembali melesat mengenai kening Max hingga tubuhnya terpelanting ke belakang dan terjatuh ke tebing.


BOM


Namun sayang, ledakan dari granat itu langsung meruntuhkan ujung tebing, dan membuat Diego jatuh terperosok.


"D-I-E ... AAHH ... D-I-E-G-O!!!" Aishe membuang senjata yang baru saja dia gunakab untuk menembak kepala Max, dan langsung berlari menghampiri Diego yang jatuh terperosok. Namun, lagi-lagi Rehan menghalangi Aishe.


Aishe hanya bisa merontak dan berteriak memanggil nama sang suami. Tangis yang berusaha ia tahan mendadak pecah, saat matanya melihag kepulan asap yabg bercampur dengan debu itu membumbung tinggi.


...☆TBC☆...



Sarapan dulu gaes. Nanti lanjut lagi.


Sudah senin, Vote jangan sampai ketinggalan. Apalagi sajen buat othor 🤭🤭🤣

__ADS_1


__ADS_2