Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 193


__ADS_3


Bulan bersinar begitu indah, menyinari pesta meriah di pinggir sungai Bosphorus. Mereka masih melanjutkan pesta, berdansa, bersenang-senang, tertawa bahagia. Diego dan Aishe kembali bergabung setelah mengistirahatkan tubuhnya selama satu setengah jam.


Kali ini mereka sedang duduk bersama, dalam satu meja panjang yang terdiri dari 12 kursi, menikmati makan malam dan wine mahal koleksi keluarga Gulbar.


Aishe dan Diego tentu duduk berjejer, begitu pula Ashan dan Guzel yang sudah resmi mengumumkan hubungan mereka di depan publik. Namun, dua orang yang saling bercumbu tadi sore masih terlihat malu-malu.


Ya, itu adalah Emine dan Rehan. Mereka masih duduk berjauhan, seperti melupakan adegan indah beberapa jam yang lalu. Raut wajah Rehan terlihat memerah saat Emine menatapnya, sedangkan Emine justru terlihat santai.


"Sudah belasan tahun kamu tinggal di luar negri, apa alasan kepulanganmu kali ini, Emine?" tanya Mirey sambil menatap Emine yang duduk di depannya.


"Jika … aku berkata, 'karena ingin menghadiri pernikahan Diego', apa Anda percaya?" Emine menatap Rehan yang duduk di samping Diego. Seolah membuat mereka yang duduk dalam satu meja menganggap jika dia sedang menatap Diego.


"Siapa yang ingin kamu bohongi? Aku mengenalmu sejak kecil!" terang Mirey yang pada akhirnya membuat Emine tersenyum malu.


"Baiklah baiklah, aku memang tidak bisa mengelak dari Tante." Emine menoleh, menatap ke arah Rehan sambil menyangga dagu dengan tangannya.


"Aku, sedang mengejar seseorang."


Seketika, semua orang dibuat saling menoleh satu sama lain dengan jawaban Emine. Begitu juga Aishe dan Diego, lantaran tatapan mata gadis itu menuju ke arah Diego.


"Hei, hei, hei!" pekik Emine mengedarkan matanya, melihat mereka semua sedang memandangnya dengan berbagai macam ekspresi.


"Jangan mengira aku sedang mengejar pria tua yang sudah menikah itu ya!" lanjutnya mengejek Diego. "Dari dulu aku tidak tertarik dengannya!"

__ADS_1


"Lalu, siapa yang sudah membuatmu tertarik, Nak?" tanya Paman Mustafa penasaran.


Emine menaikkan dua sudut bibirnya menatap Paman Mustafa, lalu menjawab pertanyaannya dengan santai. "Tentu saja anak Paman."


Seketika, jawaban Emine membuat beberapa orang menoleh ke arah Rehan. Melihat wajah merona pria itu yang tidak bisa lagi ditutupi dengan apapun.


"Konyol!" seru Rehan lantang yang kemudian bangkit berdiri dari kursinya dan pergi begitu saja.


Tidak ada yang berani mengejarnya pada saat itu, lantaran Paman Mustafa sendiri yang melarang. Bahkan Aishe yang hendak menyusul juga dilarang oleh Diego.



Pesta masih berlanjut hingga tengah malam, meski beberapa tamu undangan sudah pulang lebih dulu. Beberapa yang tinggal hanya tersisa teman-teman dekat, juga kolega dari keluarga Gulbar yang terlihat betah bermain kartu bersama-sama.


Namun meski masih ada beberapa orang, Diego sudah mengajak sang istri untuk beristirahat di kamar pengantin mereka.


"Kamu meragukannya?"


Hela napas kasar Aishe terdengar jelas di telinga Diego. "Tidak juga. Tapi aku tidak bisa melihat rasa suka di matanya."


"Rehan dan aku memiliki sifat yang hampir sama. Mungkin karena kami sama-sama memiliki darah keluarga Gulbar yang terkesan dingin dan acuh dalam beberapa hal." Diego mengeratkan pelukannya pada Aishe yang berbaring di depannya.


"Tapi Emine berbeda. Dia wanita yang punya rasa percaya diri tinggi, melakukan apa yang menjadi kesukaannya tanpa malu-malu di depan umum. Mungkin karena itu, kamu tidak bisa melihat 'rasa suka' di matanya."


Aishe mengangguk, seakan mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh sang suami.

__ADS_1


"Yah, itu memang terdengar masuk akal."


Diego terlihat mengangkat kepalanya, lalu mengecup pipi sang istri yang berbaring membelakangi dirinya.


"Jangan berpikir berlebihan. Dia tidak menyukaiku, Sayang," jelas Diego lalu meraih dagu sang istri dan membuat wajah cantik itu menoleh.


Dua mata mereka saling bertemu selama beberapa saat. Entah mengapa, wajah polos tanpa riasan sang istri selalu bisa membuat Diego hanyut dalam buai asmara.


Dengan lembut ia meraih bibir tanpa polesan lipstik itu. Mengecupnya lagi dan lagi, seakan tidak pernah bisa memuaskan hasratnya. Sampai, suara sendu sang istri membuatnya berhenti.


"Sudah cukup, Die. Aku sangat le-lah!" kata Aishe dengan kedua mata yang sudah menutup.


Kesal? Tentu saja kesal. Namun melihat wajah lelah Aishe, Diego tak tega. Pada akhirnya ia hanya menggigit lembut bibir bawah sang istri untuk menyalurkan rasa kesalnya.


Namun tiba-tiba ....


PAK!


Tangan Aishe berhasil mendarat di pipi Diego, hingga membuat pria itu melepaskan gigitannya. Entah, dia sadar atau tidak, tetapi tamparan itu berhasil membuat Diego tersenyum getir.


...☆TBC☆...



Agak galon karena gak dapet jatah 🤣

__ADS_1


Mintain sajen reades aja yok bang 🤭🤭🤭🤭


Kan udah hari senen nih, waktunya VOTE


__ADS_2