Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 201


__ADS_3

Membahas tentang lokasi pernikahan, suasana di dalam kamar tiba-tiba berubah sedikit canggung. Itu semua karena mereka semua tahu, jika Aishe memaksa untuk datang langsung, meski sudah dilarang oleh Diego. Dia bahkan mogok makan selama sehari demi bisa datang.


Melihat suasana berubah, Aishe dengan cepat mengambil sikap dengan berkata, "Ayolah. Aku juga ingin menghirup udara sejuk. Berminggu-minggu di rumah membuat kepalaku pusing."


Meski Aishe sudah berkata demikian, suasana masih cukup hening. Guzel terlihat menunduk, sedangkan Rubby dan Emine saling menatap satu sama lain. Namun semua berubah seketika saat Rehan datang menghampiri mereka.


"Tidak perlu dibahas lagi. Dokter sudah memberinya izin dan itu tidak akan menjadi masalah," ucap Rehan saat berjalan masuk ke dalam kamar sambil menatap Emmine.


"Dan kamu?" Rehan menatap nyalang ke arah Emmine, seolah-olah gadis itu telah membuatnya kesal.


"Tidak perlu membahas keputusan mereka lagi!" lanjutnya.


Mendengar ucapan ketus Rehan, Emmin terlihat cukup kesal. Jelas-jelas dia bermaksud memarahi Aishe, tetapi keadaannya justru berubah.


Emmine lantas bangkit berdiri dari duduknya, lalu pergi begitu saja. Kepergian Emmine membuat Aishe sedikit panik, ia bahkan bangkit berdiri hendak menyusul. Namun Rehan menahannya dengan cepat.


"Ayah sudah menunggu di luar, Ishe. Segera antar Guzel ke sana!" Rehan menatap Aishe dengan sungguh-sungguh, seakan memberinya sebuah isyarat bahwa dia akan menyusul Emmine.


"Baiklah. Kamu juga segeralah menyusulnya! Gadis itu moodnya sedang buruk lantaran tamu bulanan."


Rehan tidak memberi jawaban apapun, bahkan raut wajahnya masih terlihat sama seperti sebelumnya.


Pada akhirnya, dia pun pergi tanpa merespon, hingga membuat Aishe menghela napas kasar.


Apa mereka sedang bertengkar?


Aishe menoleh menatap Guzel setelah melihat Rehan keluar. Pada saat itu, Guzel rupanya juga sedang menatap ke arah Aishe.


"Sepertinya nona Emmine marah padaku," tebak Guzel tiba-tiba.

__ADS_1


Dengan tenang Aishe berjalan mendekati gadis itu sambil berbicara dengan suara lembut mencoba meyakinkan Guzel jika semua itu bukan salahnya.


"Tidak! Dia justru marah padaku. Aku memang suka bertindak semaunya dan dia tidak terima itu. Emosinya juga sedang tidak stabil karena itu. Kamu tahu kan?"


Guzel masih menatap Aishe dengan tatapan sendu seakan tidak percaya dengan bujukannya. Namun Aishe masih cukup tenang. Dia mengambil hiasan kepala yang tadi sempat diambil oleh penata rias dari pengawal yang ada di depan pintu.


"Aku datang ke sini lantaran senang dan bahagia. Setidaknya aku bisa berjalan-jalan keluar rumah sebelum melahirkan." Perlahan-lahan Aishe meletakkan rangkaian bunga itu diatas kepala Guzel. Lalu penata rambut menguncinya dengan jepit agar tidak mudah jatuh.


"Tapi, mereka bilang Anda mogok makan agar bisa ke Izmir." Sorot mata Guzel berpindah ke bawah, melihat perut Aishe dengan tatapan khawatir.


"Jadi itu yang kalian dengar?" Aishe sempat terkekeh, sebelum akhirnya menyodorkan tangannya.


"Itu bukan mogok makan. Dokter menyuruhku untuk diet sedikit lantaran bayinya sudah cukup besar, akan sulit jika harus melahirkan normal."


"Benarkah?" Guzel kembali menatap Aishe dan meraih tangannya yang memang sedikit besar dari sebelumnya.


"Dokter ikut kemari, kamu bisa bertanya langsung jika tidak percaya."


"Sepertinya saya dan Anda harus meminta maaf pada Emmine setelah ini," ucap Guzel tiba-tiba, diakhiri dengan senyum manis di wajahnya.


Dia bangkit berdiri sambil menggandeng tangan Aishe, lalu keduanya berjalan keluar bersama-sama.


Di luar pintu, Mustafa rupanya telah menunggu seperti yang dikatakan Rehan. Selain Mustafa, Diego juga terlihat berdiri sambil melihat ponselnya.


Namun meski kedua matanya menatap ponsel, pria itu tetap bisa merasakan kehadiran Aishe. Dia bahkan langsung memasukkan ponselnya ke saku dan berjalan mendekati sang istri.


"Kamu masih saja sibuk dengan pekerjaan di hari bahagia mereka!" Keluh Aishe menatap Diego yang belum juga mengenakan jas.


Dua sudut bibir Diego terangkat. Entah mengapa, mendengar omelan sang istri membuat hatinya bahagia.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus meminta maaf pada anak perempuanmu dulu, Ayah. Kalian bisa pergi lebih dulu," ucap Diego pada Mustafa, tanpa melihat wajah pria paruh baya itu.


Mustafa hanya menghela napas kasar. Lalu mengajak Guzel untuk pergi lebih dulu, meninggalkan sepasang suami istri yang saling menatap satu sama lain.


Setidaknya beberapa detik setelah Mustafa membawa Guzel pergi di ikuti Rubby dan beberapa pengawal yang sejak tadi berjaga di depan pintu. Diego melangkahkan kakinya lebih dekat dari sebelumnya, lebih dekat sampai jarak diantara mereka hanya tinggal 1 jengkal jari.


Lalu, tanpa aba-aba dan ancang-ancang, ia meraih tengkuk leher Aishe, menariknya sedikit agar kedua bibir mereka bisa beradu.


Kecupannya terasa manis. Manis sampai bisa merusak lipstikku.


Aishe segera mendorong tubuh kekar sang suami, saat lidah tak bertulang itu berusaha menerobos masuk.


"Jangan rusak lipstikku!" Pinta Aishe memanyunkan bibirnya.


"Aku bisa membantumu memoles lagi jika rusak, kenapa harus mendorongku begitu kuat?" Diego mengangsurkan tangan, membetulkan lipstik yang berantakan di ujung bibir.


"Aku tidak— sudahlah, ayo pergi! Acaranya sudah hampir dimulai!" Ajak Aishe meraih tangan Diego, lalu mengandengnya.


"Kau harus memberiku lebih nanti malam!" pinta Diego manja, yang pada akhirnya berhasil membuat Aishe berkata 'iya' dengan mudahnya.


Ahh khirnya, aku dapat jatah setelah berminggu-minggu.


...☆TBC☆...



Kalau sempet nanti Up lagi deh 🤭


Jempolnya jangan lupa digoyang dulu, oke 😁😁

__ADS_1


Yang nunggu Diego **, tenang-tenang, beberapa bab lagi bakal ketemu kok. Pantengin terus ya 😊


__ADS_2