Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 38


__ADS_3


"Malva …." Diego mendongak ke atas, menatap wajah wanita yang sudah tidak asing lagi baginya. Senyum wanita itu menggembang, sorot matanya berbinar penuh perasaan.


"Kenapa, Kak? Kakak sudah lupa dengan wajahku?" Perempuan itu menarik kursi, duduk di depan Diego dengan santainya. Seperti tidak mengenal rasa takut juga sopan santun, ia menopang dagu dan terus memandangi Diego dengan mata liarnya.


Namun berbeda dengan Malva, Diego yang sempat terkejut justru mencoba bersikap santai, bahkan acuh tak acuh.


"Kapan kamu kembali?" Diego kembali memandangi laptopnya, seakan tidak peduli dengan kedatangan Malva.


"Coba tebak," jawabnya dengan nada menggoda.


Diego sempat mengalihkan pandangan matanya menatap seorang gadis yang usianya terpaut 10 tahun lebih muda darinya. Sorot matanya terlihat serius, tetapi gadis itu justru mempermainkan Diego. Jika orang yang peka melihat mereka berdua, tidak mungkin ada kesalahpahaman. Namun, berbeda jika itu Aishe.


Tepat saat mereka beradu pandang. Aishe datang dengan tiga paper bag di tangannya. Dia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu, karena Ashan memerintahkan untuk langsung masuk.


Dan betapa terkejutnya mata indah itu. Keduanya membulat, pupilnya melebar, melihat dua orang berlainan jenis saling memandang dengan penuh gelora asmara.


"Ishe …."


Diego yang melihat kedatangan Aishe, pun sempat terkejut dan hampir beranjak dari kursi rodanya. Namun, pria yang penuh kewaspadaan itu cukup beruntung, dia dengan cepat sadar dan membetulkan posisinya.


"Maaf, Tuan. Ashan bilang Anda belum tiba. Jadi menyuruh saya langsung masuk tanpa mengetuk pintu." Aishe masih berdiri di tempat semula tanpa bergerak sedikitpun.


"Oh, aku sudah datang sejak tadi," jawab Diego sedikit gugup, tetapi berusaha bersikap tenang.


"Aahh, begitu." Aishe mengangguk dengan kedua mata yang memincing tajam dan bibir yang mencoba tersenyum, meski senyumnya terlihat hambar.


Awan hitam yang cukup pekat, memumbung di dalam ruangan. Menghadirkan petir dan kilat yang beberapa kali menyambar. Udara di dalam terasa sesak dan begitu dingin hingga mampu membekukan seisi ruangan.


__ADS_1


Kedua pasang mata mereka masih saling memandang untuk beberapa beberapa saat. Sampai akhirnya, Malva turun tangan lebih dulu karena tidak tahan melihat mereka. Gadis itu bangkit berdiri, lalu datang menghampiri Aishe.


"Aah, bau apa ini? Wangi sekali," ucapnya sebelum merebut paksa empat paper bag yang ditenteng Aishe.


"Itu … sarapan untuk Tuan Diego. Dari Ashan." Aishe berusaha menenangkan dirinya. Namun diam-diam ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Tanpa sengaja, Diego melihat sorot mata Aishe yang sudah berubah sejak tadi. Hawa dingin di ruangan pun sudah memberinya isyarat. Kedua sudut bibir Diego juga mendadak naik. Entah, hal apa yang membuat pria itu senang.


"Wah sarapan! Kebetulan aku belum makan." Malva dengan cepat meletakkan keempat paper bag itu ke atas meja. "Kakak, ayo kita sarapan bersama!" Ajak Malva dengan seulas senyum riang khas seorang remaja.


Alih-alih menolak dan menunjukkan wajah tak sukanya seperti tadi. Diego justru dengan senang hati menerima ajakan Malva.


"Pesanan sudah saya antarkan. Kalau begitu saya pamit dulu." Aishe bersiap pergi meninggalkan ruangan dan kembali bekerja. Namun saat dia berbalik, Diego mencegahnya.


"Kemarilah. Ayo sarapan bersama." Ajak Diego.


"Ti-tidak perlu, Tuan."


Aishe terus mengelak dan Diego masih semangat memaksa gadis itu untuk ikut sarapan. Melihat perdebatan itu, Malva dengan senyum riangnya datang menghampiri Aishe dan menarik tangannya.


Astaga, aku terjebak apa lagi ini!


Pada akhirnya, Aishe tidak punya alasan untuk menolak. Lagi pula, dia juga sudah diseret paksa dan duduk di sana, tidak mungkin juga untuk bangkit lalu kabur.


Malva mulai mengeluarkan semua isi di dalam paper bag satu persatu. Harum semerbak gurihnya aroma minyak samin pun mulai mengusik indra penciuman mereka.



Menemen merupakan hidangan pertama yang di di buka Malva. Hidangan ini terdiri dari tomat, telur, paprika yang dimasak dengan berbagai jenis bumbu dan rempah. Namun, ada juga beberapa menemen versi lainnya yang menggunakan bahan seperti keju, sayur bayam, potongan sosis dan bawang bombay.


Lalu selanjutnya ada Gozleme. Roti pipih yang panggang diisi dengan daging, sayur mayur, telur, dan keju. Selain dua menu itu, ada juga beberapa roti kering, pastry, keju, salad dan juga beberapa potong buah.

__ADS_1


Malva dengan senyum yang lebar mengambilkan beberapa potong Gozleme beserta dengan keju dan salad, lalu memberikannya pada Aishe. Setelah memberikannya pada Aishe, Malva mengambil Muhlama, lalu berusaha menyuapi Diego.


"Buka mulutnya, Kak. Ini masih hangat."


Kali ini pun Diego tidak menolaknya. Dia dengan senang hati membuka mulutnya, dan menerima sesuap bubur cornmeal yang dimasak dengan keju, masuk ke dalam mulutnya. Namun meski dia menerima dengan senang hati, sorot matanya justru fokus menatap Aishe yang duduk di hadapannya.


"Kak, siapa dia?" tanya Malva tidak suka saat Diego fokus memandangi Aishe.


"Hanya kucing liar. Tidak sengaja memungutnya!" Diego mengalihkan pandangan matanya.


"Kakak bercanda lagi! Gadis cantik begini, malah disebut kucing liar." Malva menoleh memandang Aishe. "Tante cantik, jangan pedulikan dia ya. Dia memang begitu orangnya."


Ta-tante? Aku belum genap 30, dan aku dipanggil tante? Wuah! Aku jadi ingin membalik meja ini!.


Aishe mencoba tersenyum dan mengangguk meski sambil mencengkram sendok di tangannya. Setelah berkata itu, Malva kembali menyuapi Diego tanpa peduli dengan Aishe.


Sampai pada akhirnya, Aishe mengambil segelas air yang ada di atas meja dan meneguknya dengan cepat. Lalu, mengambil tisu dan mengelap bibirnya.


"Saya sudah selesai, Tuan, Nona. Kalau begitu saya kembali ke ruangan, terima kasih atas sarapannya!"


Aishe berjalan dengan cepat, secepat mungkin sampai mata Diego tidak sempat melihat ekspresi wajahnya yang sedang cemburu.



...**☆TBC☆...


Sudah Vote dan kirim Hadiam belum???


Belum??


Segera donggg.

__ADS_1


Vote dan Hadiah kalian, adalah semangat Othor


🤣🤣🤣🤣🤣**


__ADS_2