
Diego masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu, kemudian bangkit berdiri dari kursi roda dan mengambill ponsel yang ada di atas nakas. Mata pria itu menyipit tatkala mencari nomor salah satu anak buahnya. Begitu dapat, dia buru-buru menghubunginya.
"Ya, Tuan." Suara Ashan samar-samar terdengar dari balik telepon menjawab panggilan dari tuannya.
"Jika aku hampir terkena minyak panas dan kamu berada didekatku. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Diego tiba-tibam
Ashan pun lantas bertanya-tanya dalam hati, memikirkan tentang pertanyaan Diego yang menurutnya aneh. Dia bahkan sempat berpikir, mungkin Diego sedang menguji dirinya.
"Tentu saja melindungi Anda, Tuan." Ashan menjawabnya dengan lantang.
"Kenapa? Kenapa kau melakukan itu?" Diego meninggikan sedikit suaranya. Nada penasaran masih terdengar jelas di telinga Ashan, membuat pria itu makin kebingungan.
"Itu …." Ashan berpikir sedikit lama. Dia harus benar-benar memikirkan jawaban yang sesuai dengan mood Diego, karena jika salah satu kata saja, dia akan berakhir di hutan Amazon seperti salah satu rekannya.
"Itu karena Anda adalah Tuan saya. Apakah saya punya alasan lain yang lebih masuk akal, Tuan?"
Diego memijat keningnya. Pada awalnya ia
berpikir, bahwa Ashan mungkin bisa memberikan jawaban yang jelas dan masuk akal. Namun kenyataannya, sungguh di luar jangkauannya.
__ADS_1
"Jika dia wanita. Bagaimana menurutmu?"
Ashan yang pada saat itu sedang menyelesaikan tugasnya, tiba-tiba dibuat sakit kepala oleh cercaan pertanyaan aneh dari Diego. Dia sendiri tidak tahu, arah mana yang akan dituju tuannya. Namun ketika Diego menyebutkan gender, barulah ia paham sedikit dengan pertanyaan tuannya.
"Wanita? Kalau dia di bawah kaki Anda, tentu saja alasannya sama. Memangnya, kenapa lagi tuan?"
Mendengar jawaban itu, Diego seakan kecewa. Ia bahkan melihat ke bawah dan menendangi kaki nakas yang ada di hadapannya.
"Selain alasan itu, saya rasa tidak ada alasan lain, kecuali kalau ada perasaan suka, sayang atau cinta." Ashan melanjutkan kalimatnya.
Diego terdiam sesaat, kemudian mengusap pipi yang tadi sempat mendapat tanda kecup dari Aishe. Pikirannya mulai menebak, menebak banyak hal terutama tentang perasaan wanita yang pernah ditolongnya itu.
Sayang?
Cinta?
Dia punya perasaan seperti itu?
"Hallo, Tuan? Apa Anda masih disana?" Ashan protes ketika dia diabaikan oleh Diego.
__ADS_1
"Emm ya ya," jawab Diego singkat kemudian mematikan panggilannya begitu saja tanpa pamit. Tindakan seperti itu sebenarnya sudah biasa dia lakukan pada Ashan, sehinga anak buahnya tidak terlalu ambil pusing dengan tindakan Diego.
Butuh beberapa menit sampai pria itu selesai memikirkan banyak kemungkinan. Salah satunya adalah kemungkinan bahwa Aishe menyukainya. Sudut-sudut bibirnya tiba-tiba terangkat tanpa ia sadari, meski hanya sedikit, tetapi cukup jelas untuk mengukir seulas senyum di wajah datarnya itu.
Dia menyukaiku?
Kenapa?
Karena aku tampan atau karena nama Gulbar?
"Haruskah aku menyuruh Ashan menyelidikinya?"
Diego berpikir cukup keras. Selain banyak kemungkinan tentang perasaan Aishe yang dia nalar sendiri. Dia juga harus memikirkan penyebab dari perasaan itu. Apakah karena wajahnya atau nama belakangnya?
Keluarga Gulbar sendiri mempunyai sederet bisnis menguntungkan bernilai jutaan Lyra. Meski bukan ahli waris, setidaknya keturunan Gulbar akan menduduki kursi di salah satu anak cabang BIN. Tidak heran, jika hal itu membuat Diego cukup selektif memilih kekasihnya.
Suara samar Aishe tiba-tiba terdengar dari luar, membuat Diego lekas duduk kembali ke kursi rodanya dan membuyarkan semua pemikirannya tentang perasaan Aishe.
__ADS_1
...☆TBC☆...