Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 118


__ADS_3

"Paman Mustafa, ayahnya Rehan."


Aishe terpaku, mencoba mencerna perkataan Diego dengan baik-baik, barangkali dia salah mendengar. Namun setelah melihat respon ayah angkatnya, Aishe baru memahami jika perkataan Diego bukanlah tipuan belaka.


"Aku sudah mendengar semuanya. Rehan sering berlaku kasar padamu, tapi sebenarnya, dia anak yang baik." Mustafa duduk di tepi ranjang.


Aishe menatap Diego yang masih berdiri di sampingnya selama beberapa sesaat, lalu menatap Mustafa dan tersenyum. Kedua tangannya meraih tangan Mustafa dan mengengamnya.


"Aku tahu, Ayah. Dia anak yang baik, sangat baik. Mungkin, saat itu kami belum saling mengenal."


Jawaban Aishe ternyata mampu membuat Mustafa terkesan. Pria tua itu mengangkat dua sudut bibirnya, menarik garis kerut di sekitar mata tuanya.


"Dengarkan aku, Nak!" Mustafa mencoba mendekatkan diri. "Jika dia menindasmu, katakan saja padaku." Mustafa melirik Diego.


"Jangankan bocah tengik itu, Rehan pun akan ku babat habis kalau berani mengusikmu. Mengerti, Nak!" lanjut Mustafa yang langsung mendapat anggukan kepala dari Aishe.


Alih-alih marah, Diego justru mengangkat satu sudut bibirnya saat melihat dua orang itu sedang membully secara terang-terangan. Mungkin tawa bahagia Aishe sudah menutup seluruh emosinya, dan hanya menyisakan rasa bahagianya.


Mustafa pun menjadi semakin dekat dengan Aishe setelah saling memanggil Ayah-Anak. Ia bahkan menceritakan beberapa kejadian masa kecil Diego saat menjadi muridnya dulu, yang akhirnya membuat Aishe terlihat semakin bahagia mendengarnya.


"Apa Anda juga mengenal Eraz, Ashan dan yang lainnya?" tanya Aishe yang tiba-tiba penasaran dengan hubungan Tangan Kanan sang suami.

__ADS_1


"Yah, aku bertemu mereka setidaknya satu, dua kali. Tidak terlalu akrab, tapi aku tahu mereka," jawab Mustafa sambil menatap Diego.


"Aku dan Rehan sudah saling mengenal sejak kecil, tapi dengan yang lain, kami bertemu ketika tumbuh dewasa," sahut Diego menimpali.


"Aku membayangkan bagaimana jika kalian teman masa kecil. Pasti masa kecil mereka penuh dengan … penindasan." Aishe tertawa dengan keras, diikuti Mustafa.


Sudah sudah mendapat sindiran sedemikian rupa, tetapi Diego tidak merespon apa pun. Dia justru membelai ubun-ubun sang istri yang masih tertawa dengan bebas.


"Hari sudah sore, aku masih harus memberi makan anak-anak kucingku di rumah." Mustafa menepuk punggung tangan kanan Aishe, lalu bangkit berdiri.


"Makanlah yang banyak, Nak. Bilang pada suamimu jika kau menginginkan sesuatu, uangnya sangat banyak, habiskan sesukamu!" Lanjut Mustafa.


"Ayah tenang saja. Aku akan menghabiskan uangnya dan membeli apa pun yang aku mau," balas Aishe yang kemudian menatap Diego. "Kau tidak keberatan kan, Suamiku?" lanjutnya sedikit menggoda Diego.


Mustafa berjalan lebih dulu, di ikuti Diego yang berjalan di belakangnya. Namun saat hendak membuka pintu kamar, langkah mereka terhenti untuk sesaat.


"Kau belum menemukannya, Nak?"


"Belum. Entah kemana perginya dia, sungguh merepotkan!" jawab Diego diakhiri dengus kesal.


"Max pasti mengancam Mirey dengan kepergian ayahmu. Kau harus terus menekan emosi ibumu!"

__ADS_1


"Kalian harus segera berurusan dengan Max. Jika dia menyentuh keluargaku lagi, selanjutnya aku tidak segan meski harus melanggar sumpah pada orang tua itu!" Diego membuka pintu, seakan menyuruh Mustafa untuk cepat pergi.


"Kalau begitu cepat temukan Deniz, biarkan dia menyelesaikannya!" Mustafa melangkah pergi, meninggalkan Diego yang masih berdiri di ambang pintu.


Setelah melihat Mustafa masuk ke dalam lift, Diego menutup pintu dan kembali masuk ke dalam kamar menghampiri Aishe. Langkah kakinya begitu ringan, hampir tidak didengar oleh Aishe yang sedang menatap dokumen pernikahan mereka.


Tanpa berbicara apa pun, Diego merebut dokumen di tangan Aishe dan langsung menaruhnya di nakas. Setelah itu, ia menempelkan keningnya di kening Aishe.


"Membully suami sendiri, sangat menyenangkan ya?" Diego memangkas jarak yang hanya sekelumit itu dengan bibirnya.


Kali ini pun tetap sama seperti sebelumnya, tanpa aba-aba, lidah tak bertulang itu langsung menerobos masuk ke dalam. Aishe dengan cepat mengimbangi Diego dan menaruh kedua tangannya di pundak seranya mendekap sang suami.


Jiwa Diego tiba-tiba berdesir. Semua hal yang berasal dari sang istri selalu bisa membuat api dalam tubuhnya membara. Namun perkataan dokter membuatnya menelan hasrat itu bulat-bulat dan langsung melepaskan bibir Aishe.


"Sepertinya, kita perlu memperbarui jadwal olahraga kita, Istriku."



Author tidak bisa berkata apa-apa, pokoknya ilope you pull buat kalian semua 💕💕


Terima kasih sudah membaca sampe bab ini.

__ADS_1


Eitt tenang-tenang, ini masih belum tamat 🤣🤣


Kopi dan sajen seperti biasa ya. Jangan mengecewakan babang Die 💋💋


__ADS_2