Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 163


__ADS_3

Setelah Guzel dan Ashan pergi, Eraz pun ikut pamit. Masih ada beberapa hal yang harus pria itu kerjakan sebelum kembali ke perusahaan besok. Termasuk menyiapkan kejutan untuk beberapa dewan direksi yang semula berpihak pada Max. Kini hanya tersisa Aishe dan Diego yang berada di Villa.


Aishe masih berdiri sambil bersedekap tangan, melihat ke arah pintu yang perlahan di tutup Eraz dari depan. Sedangkan Diego masih duduk di sofa sambil menikmati secangkir Cay.


"Ishe, bantu aku sebentar," ucap Diego sembari melambaikan tangan.


Aishe hanya menoleh sesaat, kemudian membuang muka dan naik ke atas menggunakan tangga.


"Ishe, Sayang! Kamu mau kemana? Sayang …."


Aishe tak menggubris. Ia terus melangkah naik, dan masuk ke kamarnya. Setelah melihat Diego membela Ashan, entah mengapa perasaannya sedikit kesal. Dan dia berniat untuk mendiamkan Diego selama beberapa saat.


Siapa suruh kamu bela Ashan!


Aishe membuka jendela kaca kamarnya lebar-lebar, membiarkan angin yang sejak tadi berhembus semilir itu masuk ke dalam. Lalu ia merebahkan tubuhnya yang sedikit lelah ke ranjang dan menutup matanya.


Entah mengapa, sejak ia dinyatakan hamil, tubuhnya menjadi cepat lemas dan lelah. Aishe sendiri tidak kaget dengan kondisinya setelah mencari tahu keadaan fisik ibu hamil di internet. Hanya saja, dia belum terbiasa jika sebentar-sebentar harus istirahat.


Sama seperti saat ini. Dia ingat, beberapa jam yang lalu matanya sudah terpejam beberapa saat. Dan sekarang, dia sudah terpejam lagi.


Belum lama Aishe terlelap, Diego tiba-tiba datang tanpa kursi rodanya. Ia berjalan dengan terpincang, mendatangi Aishe lalu duduk di tepi ranjang.


"Kamu meninggalkan aku sendiri dan pergi tidur?" Gerutu Diego kesal lantaran sempat diabaikan oleh sang istri. "Dasar kucing kecil pencuri!"


Diego sempat menutup jendela, lalu menyingkap selimut dan menyelimuti tubuh Aishe. Dia sempat memandangi wajah istrinya yang sedang tertidur lelap, menatap setiap lekuk wajah seorang wanita yang berhasil meruntuhkan pertahanannya selama lebih dari 5 tahun.

__ADS_1


"Apa kau tau, seberapa besar aku mencintaimu?" ucap Diego lirih.


"Em, aku tau!" sahut Aishe yang tiba-tiba membuka matanya, menatap wajah Diego.


"Kau menipuku!" Tanpa aba-aba, Diego membungkuk, meraih bibir Aishe dengan bibirnya.


Lidah tak bertulang menerobos masuk, mengecapkan sisa Cay yang sempat ia minum di lidah Aishe. Lalu, menggigit bibir bawah wanita yang selalu membuatnya mabuk kepayang.


"AW! Sakit, Die!" sentak Aishe kaget.


"Hukuman karena sudah menipuku dan pura-pura tidur!" Diego menyeringai, mengutarakan rasa puasanya pada sang istri.


"Aku tidak menipumu, Sayang!" Aishe dengan manja mengalungkan kedua tangannya di leher Diego. "Aku benar-benar tidur tadi. Sampai …."


Tangan kanan Aishe turun ke bawah, menyusuri dada bidang Diego, semakin turun hingga ke perut, lalu naik kembali ke atas.


Tiba-tiba, tangan Aishe dicekal oleh sang suami sambil berkata, "Hentikan, Ishe! Dokter melarang kita me–" Belum sempat Diego meneruskan kalimatnya, Aishe sudah menekan bibir Diego dengan jari telunjuk.


"Sstttt!! Larangan itu hanya berlaku dua minggu, Sayang! Ini sudah hampir sebulan!" jelas Aishe kembali mengalungkan kedua tangannya di leher Diego.


Pria dengan mata kecoklatan itu menyeringai, melihat seekor Kucing Pencuri dengan tatapan penuh pesona itu sedang menggodanya. Entah mengapa, adrenalinnya seakan tertantang untuk segera bermain.


"Kamu tau sedang menggoda siapa, Ishe?"


"Tentu saja!" Aishe menarik tangannya, membuat jarak diantara mereka hanya tersisa beberapa ruas jari. "Aku sedang menggoda Suamiku!"

__ADS_1


Dua bibir mereka kembali bertemu. Namun kali ini, Aishe lah yang lebih dulu memulai dan menyalakan api. Diego sendiri tidak bisa menolaknya, pesona Aishe memang selalu berhasil membuatnya ketagihan.


Dua tangan pria itu turun ke bawah. Lalu dalam sekali hentak, berhasil melepas mini dress rajut yang dikenakan sang istri. Bibir tipisnya mulai menyusur, mengukur setiap jengkal kulit putih mulus Aishe.


"Aku sangat mencintaimu, Ishe!" ucapnya setelah meninggalkan lukisan merah merekah di leher jenjang Aishe.


"Eemm, aku tau!" jawab Aishe sambil melepas sabuk dan celana sang suami.


Dua orang saling menatap lekat satu sama lain, sebelum akhirnya Diego menarik selimut, menutupi seluruh tubuh mereka yang telah meninggalkan helai helai kain.


"Aku akan pelan-pelan."


Sungguh indah, ketika aku berada di atas tubuhmu. Menari bersama dengan tetes keringat penuh nikmat, hingga kita berdua berada di atas titik yang sama. Ah, rasanya menyenangkan, ketika namaku berbaur dengan dessahmu, menggema di seluruh ruang.


...☆TBC☆...



Nunggu rame dulu baru lanjut 😌😌


Niatnya semalem mau lanjut babang Farez, ehh ketiduran 🤭



Pengumuman komentar di "Hasrat Sang Penggoda" sudah terbit di kolom komentar di bab-3

__ADS_1


Untuk yang belun konfirmasi, segera hubungi Author lewat DM Ig ya. Jika tidak punya, bisa info di komentar.


Terima Kasih 💋💋


__ADS_2