
Angin berhembus sepoi sepoi, menerpa ranting dan dedaunan. Langit yang semula cerah, kini perlahan tertutup awan. Membuat area pemakaman sedikit redup, lantaran sinar sang surya terhalang oleh awan.
Mirey dan Deniz terlihat berjalan menyusuri jalan setapak, sedangkan Aishe berjalan menjauh, menghampiri kursi yang ada di dekat pohon rindang. Namun meski posisinya sedikit lebih jauh, Aishe bisa melihat Mustafa yang berbicara dengan Deniz. Sedangkan Mirey, ia berjalan mendekat ke arah Diego yang masih berada di depan makam Bibi Nie.
Setidaknya sepuluh menit Mirey berada di samping Diego, tetapi wanita paruh baya itu belum juga membuka mulutnya. Entah, hal apa yang menjadi polemik dalam pikirannya saat berhadapan langsung dengan putranya, setelah ia tahu jika Max memanfaatkan dirinya.
Diego menghela napas sesaat, lalu tertunduk melihat sepatu hitam yang sempat dipakaikan oleh sang istri. Memandang sepatu mengkilap tanpa noda itu, ia jadi teringat perkataan sang istri beberapa hari yang lalu.
"Kamu punya kesulitan sendiri, ayah juga begitu. Lantas, kenapa tidak saling memahami?"
Diego yang semula berkeras hati tidak mau memaafkan mereka sampai resepsi pernikahan digelar, tiba-tiba hati kerasnya mulai melembek.
"Bagaimana kabarmu, Bu?"
Seperti itulah, kalimat pertama Diego yang keluar dari mulut Diego untuk Mirey. Dalam hati ia berharap, jika sang ibu bisa melupakan semuanya tanpa sesal, dan menjalani kehidupan seperti sebelumnya.
"Mulutku diam karena tidak tahu harus mulai berbicara dari mana." Mirey tertunduk, memandang nanar batu nisan milik Bibi Nie.
Rasa pedih tiba-tiba membuat mata Mirey basah, bahkan meneteskan air mata. Bagaimanapun, kematian Bibi Nie juga salah satu perbuatannya.
Dari mana dia tahu?
__ADS_1
Rupanya, tiga hari lalu saat Deniz tiba-tiba pulang. Dia langsung menceritakan semuanya tanpa tertinggal, termasuk pertarungan sengit adik angkatnya dengan anak kandungnya. Juga sang istri yang dimanfaatkan demi bisa menghancurkan dirinya dan juga putranya.
Mendengar itu, hati kecil Mirey langsung terguncang hebat. Banyak hal yang harus dia sesali dalam waktu yang sama. Hingga akhirnya, Mirey dia jatuh pingsan.
Itu adalah kenyataan pahit yang harus Mirey ketahui, agar kedepannya dia tidak akan mudah dimanfaatkan lagi.
"Sepertinya pria itu sudah memberitahu semuanya." Diego menoleh, memandang Mirey yang sedang berkaca-kaca menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Nak, ibu berhutang banyak padamu. Ibu sudah salah paham, dan dengan bodohnya bisa dimanfaatkan begitu saja," ucap Mirey penuh sesal sambil menatap putranya.
"Kalau begitu, bayar saja pelan-pelan. Ingat, ayah dan ibu harus segera menyiapkan resepsi pernikahan untukku 1 bulan lagi!"
Diego memutar kursi rodanya, menatap sosok wanita yang sedang duduk di bawah pohon itu begitu cantik. Rambut hitamnya terurai bebas, tersingkap angin yang berhembus sepoi-sepoi. Entah mengapa, menatap gadis itu membuat hati Diego selalu tenang, terutama jika gadis itu tersenyum.
"Kenapa malah kemari? Apa sudah sudah selesai?" Aishe perlahan bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Diego.
"Sudah selesai, Sayang."
"Lalu, apa aku sudah boleh bertemu dengannya?"
Sebelum Diego berbalik dan menghampiri sang istri, dia sudah bisa menebak, jika Aishe akan menanyakan hal ini. Diego menghela napasnya pelan, lalu meraih kedua tangan Aishe.
__ADS_1
"Kamu mempercayaiku, Sayang?"
Dua sudut bibir Aishe terangkat, lalu ia mengangguk perlahan.
"Hari ini, masih belum waktunya."
Jawaban Diego seketika membuat Aishe menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, lalu tersenyum."Baiklah, sepertinya aku perlu menghitung hari lagi.
"Maaf, aku masih berusaha menyembuhkan rasa kecewa." Diego menepuk nepuk punggung tangan sang istri, sebelum akhirnya menorehkan kecupan manis.
"Eemm, aku tau. Pastikan untuk tidak lebih dari 1 minggu, oke!"
Dua hal yang selalu bisa membuat Diego tunduk dan tak berkutik di hadapan Aishe. Pertama adalah rayuannya, sedangkan kedua senyumannya. Dan jika keduanya digabung, yang terjadi persis seperti sekarang.
Diego mengangguk seketika, dengan senyum sumringah, menatap wajah sang istri yang selalu bisa mengalihkan emosinya.
...☆TBC☆...
Bab selanjutnya besok 😌
__ADS_1
Nunggu sajen kekumpul 🤣🤣