Ranjang Tuan Lumpuh

Ranjang Tuan Lumpuh
Bab 207


__ADS_3

“Jangan … jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”


Rintihan suara Diego yang sedang memohon terdengar jelas. Membuat siapapun yang mendengarnya ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Setiap kata yang dia ucapkan, permohonan yang begitu tulus, terucap dengan derai air mata yang keluar.


“Ishe … aku mohon bertahanlah.”


Aku mohon, siapapun selamatkan aku. Selamatkan aku, aku mohon.


Sudah setahun lebih. Benar, itu sudah lewat dari setahun. Saat dimana dia memohon untuk diselamatkan dari lautan yang teramat dingin. Permohonan yang begitu penuh kepiluan sempat terucap dari bibir wanita yang sedang terbaring.


Permohonan yang sama, seperti yang baru saja dia dengar. Suara yang berasal dari seorang pria. Pria yang sudah membawanya, memberikan kehidupan baru, memberinya cinta yang tidak pernah habis.


Aku harus kembali. Demi dia yang sudah memberikan aku hidup dan juga cinta.



Tangan yang semula lemas, tiba-tiba bisa menggenggam lagi dengan kuat. Bersamaan dengan mata yang perlahan terbuka, juga tarikan napas panjang.


Reaksi dari Aishe langsung membuat Diego tercengang. Berada dalam rasa syukur yang luar biasa, juga rasa cemas lantaran bayi di dalam perut sang istri belum juga keluar.


Beruntung, Dokter Ana masih berdiri di tempatnya dan langsung sigap dengan respon Aishe yang sudah tersadar. “Nyonya, Anda bisa mendengarku?”


Aishe dengan cepat mengangguk. “Apa dia baik-baik saja? Perutku rasanya terdorong oleh sesuatu, dia seperti memaksa keluar.”


“Anda bisa mendorongnya sekali lagi. Atur napas dengan baik, Nyonya.” Dokter Ana kembali fokus dengan kepala bayi yang sudah terlihat. Sedangkan Diego yang ada di samping Aishe tidak bisa berkomentar apapun.

__ADS_1


Dia hanya bisa memandangi sang istri yang kembali berkeringat sambil berusaha mengatur napasnya. Tangan sang istri digenggam dengan kuat, seakan akan memberi semangat yang tidak bisa terucap. Mirey yang sempat diam mematung, juga ikut memegangi tangan menantunya.


Lain halnya dengan Diego yang hanya bisa diam, Mirey justru memberi semangat dengan beberapa patah kata.


“Kamu bisa, Nak. Kamu bisa.”


Tidak sampai lima menit, suara tangis dari bayi yang baru saja lahir terdengar begitu keras. Suara yang akhirnya bisa membuat semua orang disana bernapas lega. Bahkan mereka yang menunggu di luar pun, pada akhirnya bisa duduk tenang.


Namun berbeda dengan semua orang yang terlihat bahagia, Diego justru masih sangat khawatir akan kondisi Aishe yang pucat. Dia hanya bisa menunduk bersandarkan tangan sang istri


“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja,” ucap Aishe mencoba menenangkan sang suami dengan suaranya yang lirih. Begitu lirih bahkan hampir tidak bisa di dengar baik.


“Mana bisa? Kau sangat egois, Ishe. Kau egois!”


Aishe tidak berkata apapun, lantaran ia tahu jika suami tercintanya sedang bersedih. Suaranya yang serak seperti petunjuk bagi Aishe.


Perasaan marah, khawatir, dan juga sedih yang tadi bercampur aduk, tiba-tiba hilang tanpa sisa saat ia melihat senyum sang istri. Senyum bahagia yang tidak bisa dilukiskan, bahkan senyum itu terlihat lebih bahagia dibanding momen pernikahannya.


Benar-benar egois!


Diego segera berbalik menatap Dokter Ana yang menyelesaikan tindakannya. Lalu dengan suara sedikit lantang, dia berpesan.


“Setelah ini, aku tidak ingin siapapun mengganggu istirahatnya. Termasuk bocah kecil yang baru saja keluar itu!” Begitulah pesan yang dia ucapkan sebelum akhirnya keluar dari ruangan untuk mencari udara segar.


Namun mendengar itu, Aishe bukannya marah. Dia justru ingin tertawa, menertawakan sikap kekanak-kanakan dari sang suami.

__ADS_1


“Jangan dengarkan dia!” sahut Mirey sambil menggendong cucunya yang sudah selesai dibersihkan.


Wanita paruh baya itu berjalan mendekat, lalu memperlihatkan cucu kecilnya pada Aishe. Bayi kecil yang masih kemerahan, kedua mata yang tertutup, seperti sudah melupakan perjuangan yang baru saja mereka lakukan.


Namun, ketika Aishe menatap wajahnya, bayi kecil itu tersenyum. Seakan akan sedang menyapa wanita hebat dan kuat, yang baru saja berjuang tanpa kenal menyerah.


“Dia, sangat tampan bukan?”


“Mirip seperti kakeknya. Bibir itu, mirip dengan neneknya.”


“Terima kasih, Nak. Kau sudah bertahan dan juga berusaha. Terima kasih.” Bulir air mata tiba-tiba menetes dari sudut mata Mirey.


Perasaan lega yang bercampur dengan rasa bahagia, tergambar jelas di wajah Mirey. Dia berkali kali mengucapkan ‘terima kasih’ kepada sang menantu.


“Tidak, Ibu. Aku yang harusnya berterima kasih. Terima kasih, karena bersedia menggenggam tanganku tanpa melepaskannya.”


“Kau akan selalu menjadi menantuku yang terbaik, Ishe.”


“Sudah seharusnya. Anda hanya memiliki Diego,” jawab Aishe santai, mencoba mengingatkan Mirey jika dia hanya memiliki putra tunggal.


“Oh, kau sudah tertular virus anak itu. Aku akan segera meminta dokter memberimu penawar!”


Gelak tawa terdengar riuh memecah suasana tegang yang baru saja terjadi. Membuat Mirey yang sempat tegang menjadi sedikit rilex dengan candaan keduanya.


...☆TBC☆...

__ADS_1



Part sama si kecil ngak bisa banyak² ya guys. Jadi kemungkinan beberapa bab lagi bakal selesai.


__ADS_2